admin 09/02/2014
Mobil patroli polisi yang bisa menunjang operasional anggota Polri di lapangan. (DOK)
Mobil patroli polisi yang bisa menunjang operasional anggota Polri di lapangan. (DOK)

POSKOTA.CO –  Ajakan Kapolri Jenderal Sutarman kepada wartawan untuk menjadi intelijen, patut disambut positif oleh masyarakat pers.

Organisasi pers, seperti PWI dan AJI harus melihat ajakan ini dengan semangat kebangsaan, demi menjaga stabilitas kamtibmas di Pemilu dan Pilpres 2014 yang dikhawatirkan banyak pihak akan diwarnai berbagai konflik.

Meski demikian Indonesia Police Watch (IPW) berharap, masyarakat pers tetap independen dan profesional. Jangan sampai ajakan kerja sama tersebut mengkebiri pers dan membuat pemihakan pers terhadap Polri. Masyarakat pers harus tetap kritis dalam menyikapi kinerja Polri  saat menjaga kamtibmas di sepanjang tahun politik 2014.

Sehingga kerja sama pers dan Polri  hanya sebatas untuk membantu memberikan informasi awal agar jajaran Polri bisa memberikan langkah pencegahan secara cepat di tiap daerah. Sebenarnya, secara informal dan individu kerja sama kalangan pers dengan jajaran Polri  sudah sejak lama terbangun.

Cukup banyak kalangan pers memberikan informasi dan data intelijen ke kalangan Polri. Namun menjelang tahun politik 2014 kerja sama ini perlu diformalkan, sehingga ajakan Kapolri tersebut sebuah kondisi yang kontekstual, yang patut diapresiasi kalangan pers demi menjaga situasi kamtibmas di seluruh Indonesia.

“Sebab dari pendataan IPW, potensi konflik sosial di 2014 cukup tinggi. Indikasinya sudah terlihat di 2013. Dari 33 provinsi, 27 di antaranya yang diterjang konflik sosial,” ungkap Ketua Presidium IPW, Neta S Pane di Jakarta, kemarin.

Jumlah konflik sosial mencapai 153 kali, yang mengakibatkan 203 orang tewas, 361 luka, 483 rumah dirusak dan 173 bangunan lainnya dibakar.

Ditambahkan Neta, pertikaian antar warga dan antar kelompok mendominasi hilangnya nyawa rakyat di sepanjang 2013. Terbatasnya jumlah polisi membuat Polri  kesulitan melakukan deteksi dini dan antisipasi terhadap potensi konflik di berbagai daerah.

“Dengan adanya bantuan masyarakat pers yang tersebar di berbagai daerah diharapkan potensi konflik yang ada bisa dengan cepat diantisipasi dan dicegah,” ungkapnya.

Neta berharap,  dalam kerja sama ini Kapolri harus menekankan jajaran bawahnya agar senantiasa tanggap. Jangan sampai informasi intelijen yang disampaikan pers didiamkan saja, yang kemudian membuat masyarakat pers frustrasi akibat sikap lamban jajaran bawah kepolisian. (djoko)

Leave a comment.

Your email address will not be published. Required fields are marked*

BREAKING NEWS :