HETI DIPERKOSA LALU DIBUNUH – Poskota.co

HETI DIPERKOSA LALU DIBUNUH

ILUSTRASI
ILUSTRASI

POSKOTA.CO – Hasil otopsi dokter spesialis forensik RSUD Sekarwangi, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, Heti Sulastri,19, yang ditemukan tewas di kamarnya di Kampung Leuwikeked disebabkan pembunuhan.

“Hasil otopsi tersebut terhadap jasad buruh PT Nina 1 Parungkuda yang merupakan warga RT 27 RW 05 Desa Berkah, Kecamatan Bojonggenteng terdapat luka memar di beberapa bagian tubuhnya akibat hantaman benda tumpul. Ada dugaan sebelum dibunuh korban diperkosa terlebih dahulu,” kata Kasat Reskrim Polres Sukabumi, AKP Gilang Prasetya di Sukabumi, Senin.

Menurutnya, untuk memperkuat apakah korban benar-benar diperkosa lalu dibunuh, pihaknya saat ini masih menunggu hasil laboratorium forensik. Namun, dugaan ke arah pemerkosaan tersebut diperkuat dengan ditemukannya korban dalam keadaan setengah telanjang yang hanya menggunakan kaos saja.

Selain diduga diperkosa lalu dibunuh, ada motif lain dari tersangka yakni merampok harta benda korban, karena saat olah TKP ada beberapa harta benda korban yang hilang sepertu dua unit telepon seluler, beberapa gram emas dan perak dengan kerugian sekitar Rp5 juta.

Hingga saat ini, pihaknya sudah membentuk tim untuk memburu tersangka yang melakukan aksi keji terhadap gadis berusia 19 tahun. Untuk memperkuat penyelidikan, pihaknya terus memintai keterangan dari berbagai saksi.

“Tersangka sudah dalam pengejaran dan ciri-cirinya diketahui, diharapkan penangkapan tersangka tidak perlu membutuhkan waktu yang lama,” katanya.

Gilang mengatakan aksi keji tersebut diduga dilakukan tersangka saat pagi buta sekitar pukul 01.00 WIB hingga 04.00 WIB. Karena saat ditemukan oleh orang tua korban, jasad Heti masih dalam keadaan hidup karena nadinya masih berdenyut. Namun saat akan dibawa ke rumah sakit korban meninggal dunia.

Kasus dugaan perkosaan yang disertai pembunuhan dan perampokan ini terjadi pada Minggu, (29/5) sekitar pukul 06.30 WIB saat orang tua Heti masuk ke kamar almarhumah. Saat dilihat kondisi korban sangat mengenaskan, karena hanya mengenakan kaos atasan saja dan wajahnya tertutup selimut tebal.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

BREAKING NEWS :
POSKOTA.CO - Permohonan Guru Besar IPB Prof Dr Euis Sunarti dan akademisi ke Mahkamah Konstitusi (MK) sejalan dengan isi Rancangan Undang-Undang (RUU) Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP). Bahkan, dalam RUU tersebut hukuman perzinaan akan diperberat dari sembilan bulan penjara menjadi terancam lima tahun penjara. Pemerintah menanggapi permohonan akademisi terkait permintaan kriminalisasi lesbian, gay, biseksual dan transgender (LGBT) dan kumpul kebo, di mana materi itu juga masih dibahas di dalam DPR. Sebagai contoh, dalam Pasal 484 Ayat (1) Huruf e RUU KUHP berbunyi, "Laki-laki dan perempuan yang masing-masing tidak terikat dalam perkawinan yang sah melakukan persetubuhan dipidana lima tahun penjara". Pandangan pemerintah dalam hal ini disampaikan oleh Direktur Litigasi Peraturan Perundang-undangan Kemenkumham Yunan Hilmy dalam sidang lanjutan uji materi KUHP di ruang sidang MK, Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta, Selasa (19/7). Yunan menyebut, pembahasan RUU ini terkesan lambat karena ada beberapa kendala. "Lamanya penyusunan RUU KUHP dipengaruhi banyaknya dinamika di antaranya masalah budaya, agama serta hal-hal lain yang dalam implementasinya harus dapat diukur secara jelas," kata Yunan. Sebab, dalam merumuskan ketentuan pidana berbeda dengan merumus ketentuan lain. Yunan mengatakan, untuk mengukur suatu norma pidana harus dapat dibuktikan secara hukum sehingga untuk dapat memutus suatu norma pidana memerlukan waktu yang lama. Oleh karena itu, pemerintah mengatakan para pemohon dapat memberikan masukan hal ini kepada pemerintah atau DPR. "Dalam rangka turut serta mengatasi problematika pembahasan RUU KUHP, para pemohon dapat memberikan sumbangan pemikirannya terhadap materi RUU KUHP terutama masalah perzinaan, pemerkosaan dan homoseksual. Materi RUU KUHP itu masih dibahas di DPR, dan akhir Agustus mendatang akan kembali dirapatkan usai masa reses DPR. Hukum Penjara Sebelumnya, Guru Besar IPB Prof Dr Euis Sunarti dan para akademisi lain meminta homoseks dan pelaku kumpul kebo dihukum penjara. Mereka meminta Mahkamah Konstitusi menafsir ulang Pasal 292. Selain Euis, ikut pula menggugat para akademisi lainnya yaitu Rita Hendrawaty Soebagio SpPsi, MSi, Dr Dinar Dewi Kania, Dr Sitaresmi Sulistyawati Soekanto, Nurul Hidayati Kusumahastuti Ubaya SS, MA, Dr Sabriaty Aziz. Ada juga Fithra Faisal Hastiadi SE, MA, MSc, PhD, Dr Tiar Anwar Bachtiar SS, MHum, Sri Vira Chandra D SS, MA, Qurrata Ayuni SH, Akmal ST, MPdI dan Dhona El Furqon SHI, MH. (*)