taher 13/11/2016

POSKOTA.CO – Pada periode akhir Oktober 2016, pertarungan politik menuju kursi DKI 1 berlangsung semakin dinamis, namun kendati masih unggul, elektabilitas kandidat petahana mengalami penurunan signifikan.

“Hasil jajak pendapat Indocon menunjukkan bahwa elektabilitas pasangan Basuki Tjahaja Purnama (Ahok)-Djarot Saiful Hidayat tergerus hingga mencapai 30,1 persen, jauh merosot dibandingkan dengan hasil sejumlah lembaga sigi pada periode September-Oktober dengan proyeksi tingkat keterpilihan untuk pasangan petahana sebesar 32 hingga 45 persen,” kata Direktur Eksekutif Indocon Research Consulting Fajar Nursahid, di Rajawali Room Hotel Ambhara, Jalan Sultan Iskandarsyah, Blok M, Jakarta Selatan, Minggu (13/11). Acara ini juga dihadiri oleh peneliti CSIS J Kristiadi dan beberapa tokoh lainnya.

Direktur Eksekutif Indocon Fajar Nursahid, Peneliti Senior dari Center For Strategi dan International Studies dan Penelitian dari PT Indocon Eko Adi Prasetiyo, saat merilis hasil jajak pendapat lembaga survei Indocon di Hotel Ambhara Jakarta Selatan, Minggu (13/11).
Direktur Eksekutif Indocon Fajar Nursahid, Peneliti Senior dari Center For Strategi dan International Studies dan Penelitian dari PT Indocon Eko Adi Prasetiyo, saat merilis hasil jajak pendapat lembaga survei Indocon di Hotel Ambhara Jakarta Selatan, Minggu (13/11).

Sementara itu di kelompok penantang, elektabilitas pasangan Anies Baswedan-Sandiaga Uno tertahan di 21,6 persen dan secara mengejutkan, pasangan Agus Harimurti Yudhoyono-Sylviana Murni menyodok dengan raihan dukungan sebesar 26,4 persen. Namun demikian, masih terdapat sekitar 22 persen masyarakat Jakarta yang belum terbuka pilihannya.

Hasil survei juga mengonfirmasi tingkat kemantapan pilihan sebagian besar masyarakat (60,1 persen) yang menyatakan kecil kemungkinan atau tidak akan berubah.

“Dukungan yang relatif solid ini terefleksi pada masing-masing pasangan kandidat, di mana rata-rata kemantapan pilihan berada di selang 60 hingga 70 persen,” ujarnya.

“Sebagaimana diketahui, Pilkada Jakarta kali ini juga diwarnai oleh kontroversi terkait pemimpin Islam-non-Islam dan pemimpin dari etnis minoritas. Masyarakat Jakarta terbelah pendapatnya menanggapi hal ini, namun demikian, kepemimpinan oleh etnis minoritas dapat lebih diterima dibandingkan kepemimpinan beda agama,” ungkap Fajar.

Hal ini ditunjukkan oleh proporsi pendapat yang lebih besar dari masyarakat (62,6 persen) yang menganggap kepemimpinan oleh etnis minoritas tidak masalah. Sementara untuk kepemimpinan beda agama, simpangan pendapat masyarakat relatif sama kuat, antara mereka yang menganggapnya bukan masalah (43,2 persen) dan sebaliknya 48,4 persen lainnya menganggap hal ini sebagai masalah.

“Pendapat yang terbelah mengenai kepemimpinan beda agama terkonfirmasi dalam sikap masyarakat. Mereka yang tidak setuju dengan keharusan pemimpin beragama Islam cenderung mendukung pasangan petahana,” katanya.

Pengumpulan data ini berlangsung pada 18-30 Oktober 2016, melalui wawancara tatap muka terhadap 575 responden dari 600 responden yang direncanakan. Respoden ditentukan secara proporsional terhadap proyeksi jumlah pemilih di DKI Jakarta yang tersebar di lima wilayah yakni, Jakarta Barat, Jakarta Timur, Jakarta Utara, Jakarta Selatan, Jakarta Pusat, dan Kepulauan Seribu, yang sepenuhnya dipilih melalui acak bertingkat. Margin of error diperkirakan sebesar lebih kurang 4,03 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen. (*)

Leave a comment.

Your email address will not be published. Required fields are marked*

BREAKING NEWS :