GERAKAN RADIKALISME TIDAK BISA DILAWAN HANYA DENGAN WACANA – Poskota.co

GERAKAN RADIKALISME TIDAK BISA DILAWAN HANYA DENGAN WACANA

POSKOTA.CO – Hari ini, sahabat seniorku Maksum Zuber memintaku untuk berdiri di sampingnya menjadi trainer Pelatihan kader keamanan. Sekitar seratus orang yang mewakili komunitas kelurahan dari unsur Bimas, Babinsa, tokoh pemuda, tokoh masyarakat, tokoh agama, Karang Taruna hingga RT dan RW. Mereka kami kumpulkan di Wisma Gusdur, Kalibata timur.

Mereka kami ajak untuk mengenali bentuk dan potensi kejahatan, gejala kerawanan sosial, bahaya radikalisme dan Narkoba, hingga bagaimana membangun sinergisitas lintas sektor menanggulanginya.

Kami sedang membangun sel darah putih bela negara, kami sedang mencoba membentuk kader keamanan negara. Jika ISIS hanya dengan 500 orang bisa membuat kota Marawi lumpuh dalam medan pertempuran, itu karena mereka punya ribuan warga yang menjadi sel tidur mereka di dalam kota. Maka kamipun ingin membaliknya, kami ingin membentuk sel darah putih kader keamanan negara yang siap bangkit dengan motto kami : *Deteksi Dini*: *Peduli – Kenali – Catat – Laporkan*

Pelatihan Kader Keamanan

BOLA SALJU

Gerakan ini kami harapkan menjadi bola salju, jika satu kelurahan /desa di kantung rawan aksi radikalisme kami mengkader 20 orang, maka satu tahun kedepan akan ada puluhan ribu kader keamanan yang lahir dan siap bergerak.

Gerakan Radikalisme tidak bisa hanya di lawan dengan narasi wacana media, tetapi narasi perlawanan harus kita bangun di level grounded lapis masyarakat.

Masyarakat kita ajak untuk bergerak, ikut terlibat mentransformasikan wacana , melakukan deteksi dini, mempersempit ruang gerak kelompok radikal, hingga melaporkan potensi bahaya untuk meminimalisir resiko. Ini kerja keras memang, tapi inilah jalan Ronin untuk membangun perlawanan semesta.

Hari ini, di gedung bersejarah yang di bangun oleh Gus dur ini banyak hal kami petekan. Yah potensi gerakan radikal itu ada. Radikalisme bermula dari kebencian. Ada yg membenci karena motivasi doktrin agama yang salah, ada pula yg dendam/benci kepada orang kaya.

Di kantung kantung miskin Jakarta ada anggapan ‘kita miskin karena kesejahteraan rakyat diborong/dirampas oleh orang kaya’, ‘Orang kaya ogah berbagi karena pelit dan punya beking kuat’.

Ini jadi benih awal kecemburuan sosial yang jika terus di gosok maka akan berubah jadi benci dan bukan tidak mungkin bisa di provokasi menjadi amuk kemarahan.


PIKIRAN SEMPIT

Menghadapi kenyataan seperti menggunakan pemikiran sempit bahwa yang bukan kawan adalah lawan, dan lawan adalah pemuja kekhilafahan, penyuka kekerasan, intoleran kita bisa meleset jauh untuk mengantisipasi gerakan radikal membesar. Jika pendekatan ini yang di pakai sulit rasanya untuk menemukan titik temu untuk melangkah bersama.

Kecintaan pada bangsa harus terus di gelorakan, spirit gotong royong di bangkitkan, kepedulian pada lingkungan terkecil tetangga harus di asah , sinergi antisipasi warga aparat terus di bangun dan kesadaran hidup bersama harus di perkokoh.

Yah, ini berat memang. Tapi inilah jalan yang harus kita tempuh. Bangsa ini begitu luar biasa memberikan semua yang kita butuhkan. Saatnya kita memberi untuk bangsa ini. Gus Maksum Zuber mari gandeng tanganku.

Kita masih punya tugas membangun kader bela negara dan pasukan tempur melawan Hoax dan fitnah di media sosial. Bangsa ini begitu berharga untuk terbelah. *Salam* *Rumah Kamnas* *Teguh.K*

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

BREAKING NEWS :
[caption id="attachment_2898" align="alignnone" width="300"] Anang Iskandar[/caption] POSKOTA.CO- Kepala Badan Narkotika Nasional(BNN) Komjen Anang Iskandar mendesak kepada Jaksa Agung Prasetyo untuk segera mengeksekusi terpida mati kasus narkoba. Salah satunya adalah terpidana mati yang kembali mengendalikan bisnis narkoba Warga Negara Nigeria, Silvester Obiek. "Iya, ingin (Silvester) segera dieksekusi mati? Saya laporkan tadi ke Pak Jaksa Agung," kata Anang kepada wartawan di Kejagung, Senin(2/2). Anang berharap, eksekusi mati yang dijalankan pihak kejaksaan, diharapkan tidak terlalu lama waktunya dari eksekusi mati pertama. "Kami ingin efek jera bagi mereka, eksekusi hukuman mati perlu tapi jangan sekali dan jedanya jangan terlalu panjang. Semoga gelombang kedua nggak tahun depan. Kami ingin penegak hukum punya integritas yang tinggi," ujar mantan Kapolda Jambi ini. Sementara itu, Jaksa Agung M Prasetyo mengaku, pihaknya masih menunggu grasi yang diajukan Silvester Obiek ke Presiden Joko Widodo(Jokowi). "Yang bersangkutan (Silvester) ajukan grasi, nanti kita cek lagi,‎" kata Prasetyo. Sebelumnya, petugas BNN mencokok seorang kurir shabu bernama Dewi disebuah parkiran hotel Gunung Sahari, Jakarta Pusat, pada pukul 22.30 WIB.Dari tangan Dewi petugas menyita barang bukti 1.794 gram shabu. Kepada penyidik, Dewi mengaku, dirinya disuruh Andi teman satu sel Silvester Obiek, untuk mengirimkan shabu tersebut kepada seseorang berinsial E yang masih buron. Belakangan diketahui, bisnis narkoba tersebut dikendalikan oleh Silvester Obiek yang mendekam di Lembaga Pemasyarakatan(LP) Nusakambangan, Cilacap, Jawa Tengah, dan sudah beberapa kali tersangkut kasus narkoba dan divonis hukuman mati.(sapuji)