taher 13/08/2016
KAKAK BERADIK YANG DIBUNUH
Kakak adik yang dibunuh

POSKOTA.CO – Kakak adik, Amelia Tiara Riska Ananda,11, yang biasa disapa Amel dan adiknya Alpin Darib Akbar,8, sapaan Alpin, ditemukan tewas di kolam bekas galian tanah di Desa Surya Adi Blok D Pasar Gajah, Kecamatan Mesuji Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) Sumatera Selatan (Sumsel) pada Sabtu (7/5/2016). Penemuan dua jasad bocah ini sempat menggegerkan warga sekitar.

Sejak awal keluarga korban sudah menduga bahwa kematian dua anaknya tidak wajar. Sebab, pada saat pertama ditemukan, kondisi Amel tampak tragis dengan bekas luka benda tumpul di bagian belakang kepala, ada bekas cakaran di bagian bawah telinga kiri, hidung mengeluarkan darah dan bagian alat vital tampak bengkak. Sementara Alpin dibagian dadanya tampak lebam dan mengeluarkan kotoran air besar.

Dua jasad kakak beradik tersebut setelah dievakuasi dari kolam kemudian dibawa ke Klinik Tiga Saudara di Jalan Lintas Timur Desa Dabok Rejo Kecamatan Leumpuing, sekitar 8 Km dari tempat kejadian perkara (TKP).

Setelah diperiksa dokter, kedua korban sudah meninggal dunia, maka jenazah tersebut langsung dibawa untuk disemayamkan sebelum dimakamkan di samping rumah keluarga di Desa Pematang Panggang I Kecamatan Mesuji Kabupaten OKI, Sumsel yang berjarak sekitar 10 Km. Barulah keesokan harinya, Minggu (8/5/2016) dua jenazah dimakamkan.

Kematian dua bocah kakak beradik tersebut menyisakan misteri yang hingga kini belum terpecahkan. Penyebab kematiannya sudah jelas diterangkan dalam hasil aotopsi yakni kedua korban bukan mati tenggelam dan diduga tewas dibunuh.

Menurut Idris Broji,48, ayah kedua korban, kepada wartawan di Jakarta menjelaskan bahwa pihaknya sangat menyesalkan tindakan polisi yang dinilai sangat lamban dan bahkan terkesan membiarkan kasus kematian dua anaknya.

Hal ini terlihat dan dirasakan pada saat pertama melaporkan atas kematian tak wajar dua anaknya di Polsek Mesuji.
Idris yang sehari-harinya bekerja di tempat pencucian kendaraan bermotor, melaporkan kematian tak wajar dua anaknya pada Selasa (10/05/2016) sekitar pukul 10.00 WIB, dan diterima oleh petugas jaga Bripda Bamam Saputra, sesuai bukti lapor No tbl 115/V/2016/sumsel/Res OKI/sek Mesuji pada tanggal 10 Mei 2016. Dan pada malam harinya, Idris dipanggil melalui telepon seluler agar datang ke Polsek Mesuji untuk dimintai keterangan oleh penyidik yang bernama Redi.

Setelah selesai di BAP (berita acara pemeriksaan), penyidik tersebut memberikan nasihat atau saran yang justru mengecewakan orang tua korban. Saran tersebut di antaranya agar kasus tersebut tidak diteruskan, karena anak yang sudah meninggal tidak akan hidup lagi dan malah akan mendapat musuh. Disamping itu biaya autopsi cukup mahal.

“Saya langsung lemas dan lunglai tidak bisa berpikir apa-apa. Pikiran saya buntu dan tak tahu harus berbuat apa. Apa iya biaya otopsi dua jenazah sampai Rp50 juta. Untuk biaya hidup sehari-hari saja sudah kembang kempis,” keluh Idris kepada wartawan.

Mendengar tingginya biaya autopsi, Idris hanya menghela napas dan mengelus dada. Pikirannya pun melayang tak karuan dan sulit berpikir harus mencari duit dari mana.

Sementara dirinya hanya kuli steam mobil dengan penghasilan pas-pasan. Idris pun akhirnya pulang dengan pikiran hampa. Sedang penyidik yang diminta datang ke TKP justru menolak dengan alasan nantinya malah ribut dengan orang yang dicurigai sebagai pelakunya.

Melihat kinerja penyidik Polsek Mesuji yang setengah hati, akhirnya diputuskan untuk melimpahkan kasus kematian dua anaknya Amel dan Alpin ke Polres OKI, seminggu kemudian tepatnya pada Selasa (17/5/2016) sekitar pukul 10.00 WIB. Pihak penyidik Polres pun bergerak cepat lalu memeriksa beberapa saksi.

Wakapolres OKI, Kompol. Adil ketika ditemui keluarga korban berjanji akan membentuk tim guna mengungkap misteri kematian dua bocah kakak beradik ini. Sedang menyangkut biaya visum saat pembongkaran makam, pihaknya akan mengecek petugas penyidik.

Dalam kesempatan lain, Ketua Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas Anak), Aris Merdeka Sirait, berjanji akan meninjaklanjuti laporan keluarga korban. “Sabar saja karena untuk mengungkap kasus ini butuh waktu. Saya ikut prihatin atas penanganan kasus yang dinilai lamban ini,” ujar Aris.

Begitu halnya Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), Erlinda saat dihubungi via telepon, menaruh perhatian khusus atas kasus tewasnya dua bocah kakak beradik ini. KPAI akan mendalami laporan yang sudah diterimaanya. Bahkan ekan memnberikan pendampingan nantinya

Leave a comment.

Your email address will not be published. Required fields are marked*