harmono 14/02/2016

isAPOSKOTA.CO – Guru Besar IPB Prof Yuli Retnani, MSc mengembangkan inovasi pakan yang bersumber dari limbah sayuran di pasar untuk meningkatkan produktivitas ternak, khususnya di perkotaan, daerah rawan pakan dan bencana.

“Produk pakan yang dihasilkan dari pengolahan pakan bisa berbentuk mash, pellet, crumble, biskuit dan wafer,” kata Yuli di Bogor, Jawa Barat, Sabtu.

Dikatakannya, inovasi ini telah dikembangkannya sejak 2009. Dengan adanya teknologi pengolahan pakan yang awet, mudah, murah dan tersedia sepanjang musim diharapkan peternakan di Indonesia dapat tumbuh produktif, tanpa bergantung pada ketersediaan rumput dan hijauan pada musim paceklik, terutama di daerah rawan pakan dan bencana serta daerah perkotaan yang ketersediaan lahan terbatas.

Dijelaskannya, inovasi pakan terdiri atas wafer pakan dan wafer suplemen pakan. Wafer pakan sebagai pengganti hijauan sedangkanw wafer suplemen pakan sebagai suplemen dengan tujuan khusus seperti untuk meningkatkan bobot badan atau untuk menurunkan mortalitas.

“Pembuatan wafer limbah sayuran pasar dilakukan dengan memanfaatkan limbah sayuran terbuang,” katanya.

Teknologi pengolahan pakan ternak lainnya wafer yang berasal dari daun lamtoro yang dapat mereduksi mimosin sebesar 33 persen. Pemberian wafer daun lamtoro ini banyak dilakukan peternakan rakyat di Banyu Mulek, NTB, dapat meningkatkan konsumsi pakan, rataan pertambahan bobot badan harian dan rataan bobot badan akhir.

“Rataan bobot badan akhir sapi pedet dengan pemberian wafer suplement pakan pada taraf 10 persen mencapai 28,22 persen lebih tinggi dibandingkan dengan pakan konvensional,” katanya.

Inovasi selanjutnya, pakan dalam bentuk biskuit merupakan salah satu alternatif untuk penyediaan pakan pada saat musim kemarau dan paceklik. Pemilihan biskuit, karena merupakan produk kering yang mempunyai daya awet yang relatif lama sehingga dapat disimpan dalam waktu yang lama dan mudah dibawa dalam perjalan.

“Pemanfaatkan biskuit dalam bisang pakan digunakan atas dasar prinsip bentuk menyerupai biskuit pangan yang dibuat dari bahan serat terutama hijauan sebagai pengganti hijauan segar agar ruminansia dapat memanfaatkan serat ketika jumlah dan kualitas hijauan menurun,” katanya.

Leave a comment.

Your email address will not be published. Required fields are marked*