taher 09/08/2016

POSKOTA.CO – Kata “Kemerdekaan” tidak bisa lepas dari arti yang sebenarnya, yaitu “Bebas”, tetapi siapa yang membebaskan dan siapa yang dibebaskan, tentu akan jelas bila sejarah diambil untuk mengetahui, mengerti dan memahami semua itu.

Otoritas Tuhan, juga tidak bisa dilewatkan begitu saja dalam konteks “Perubahan”, dari negara yang dijajah berubah menjadi negara yang mandiri, karena bagaimanapun juga otoritas Yang Berkuasa, tetap harus diingat.

Sejarah membuktikan, perlawanan demi perlawanan dilakukan oleh bangsa ini, untuk meraih satu target yang ada dalam pikiran, yaitu suatu kemerdekaan. Alhasil, Proklamasi sukses dikumandangkan dan diperdengarkan di seantero nusantara, dengan kata lain, negeri ini sudah menyatakan diri lepas dari jeruji besi.

Letkol Inf Purnomosidi
Letkol Inf Purnomosidi

Kendati pada akhirnya, tidak begitu lama, negeri ini digiring kembali masuk ke jeruji besi, melalui beberapa peristiwa yang ingin menggagalkan bumi nusantara menghirup udara kebebasan. Tetapi, sekali lagi, anak-anak “ibu pertiwi” melakukan perlawanan dengan satu visi dan satu misi, yaitu “Tetap Merdeka”.

Negeri ini bisa jadi tidak akan meraih kemerdekaan bila tidak ada pejuang, dan diantara pejuang tentu ada istilah “Hero of Hero”, kalau dijelaskan, ia adalah sosok yang disegani, pemimpin dan paling menonjol.

Tetapi siapa saja yang pernah dalam masa hidupnya memperjuangkan kemerdekaan bagi anak bangsa ini, tetaplah dia adalah seorang Pahlawan. Kata Pahlawan di masa lalu, tentu sangat beda arti bila disandingkan dengan kata Pahlawan.

Tetapi bukan berarti membedakan bobot, bebet dan bibit dua generasi beda jaman tersebut, melainkan dimana ia hidup sejaman dengan kondisi yang ada, dan apa pengaruhnya pada masa itu.

JELAS

Para pejuang masa lalu  sangat jelas apa yang diperjuangkan dan apa maksud tujuannya, tetapi di masa kini, banyak yang mengaku-ngaku dirinya adalah pejuang, tetapi sesungguhnya tidak jelas apa yang diperjuangkan dan dampak positifnya secara keseluruhan.

Berjuang, bukan berarti memaksakan kehendak kepada orang lain, melainkan harus menggunakan “Trik and Trik” dibarengi nalar, logika dan akal sehat, juga bukan harus merusak segala sesuatu dihadapan matanya, atau menimbulkan kekacauan atau kekisruhan.

Pikiran dangkal pasti pandangannya juga sempit, tetapi pikiran dalam pasti pandangannya luas, sosok Abdurahman Wahid atau Gus Dur, berjuang dengan mengusung bendera Pluralisme, tanpa harus menggunakan kekerasan. Sosok BJ.Habibie berjuang melalui hasil karyanya , mampu menghipnotis mata dunia, untuk mengalihkan perhatiannya kepada Indonesia, tanpa harus memaksakan kehendak.

Demikian juga sosok Sukarno, melalui pidatonya yang berapi-api, tanpa harus menjadi provokator atau melecehkan kelompok atau komunitas lain ,mampu menggerakkan anak bangsa ini untuk bertindak dan berbuat bagi tanah air dimana ia tinggal dan hidup.

Tak kalah hebohnya, seorang WR.Supratman, melalui nada-nada bernuansa perjuangan tanpa harus merusak segala sesuatu dihadapannya, mampu membuat para pemuda seantero nusantara di tahun 1928, untuk menyanyikannya dengan semangat patriotik.

Ada dua posisi yang hanya bisa dijawab masing-masing pribadi, apa yang sudah anda perbuat atau lakukan kepada sesama dan bangsa ini, mungkin anda seorang Pahlawan bagi keluarga anda atau mungkin anda menjadi Pahlawan bagi warga desa anda, atau mungkin lebih luas dari itu.

PAHLAWAN

Dan posisi kedua adalah, anda hanya sekedar menyatakan diri sebagai Pahlawan ,tetapi justru mengganggu kenyamanan orang lain atau melakukan pengrusakan atau melalui kecerdasan anda, teknik fitnah atau provokasi menjadi produk andalan.

Anak negeri ini butuh kedamaian, ketentraman dan kenyamanan, bukan kerusuhan beraroma SARA, bukan pengrusakan karena memaksakan kehendak, juga bukan pertikaian karena perbedaan. Generasi masa kini adalah berstatus penerus dari pikiran dan cita-cita para pejuang yang hingga akhir hayatnya ,mereka belum menikmati hasil perjuangannya.

Tetapi sangat naif, bila generasi penerus yang digadang-gadang mampu mewujudkan impian para pejuang yang sudah tiada, justru bertindak brutal, membom sana sini, dan menghancurkan kesana kemari.

Para pejuang menabuh genderang perlawanan kepada penjajah hingga menyirami tanah milik ibu pertiwi dengan darahnya, tetapi justru generasi penerusnya menabuh genderang permusuhan dan pertikaian antar sesama anak bangsa, hingga berujung menetesnya air mata ibu pertiwi menjatuhi bumi seribu pulau.

SUKARNO

Selamat Hari Ulang Tahun negeriku yang kucintai, Republik Indonesia. Jadikan momentum peringatan Kemerdekaan ini dengan memaknai arti suatu perjuangan, sekaligus intropeksi diri apa yang sudah kita perbuat dan berikan pada negeri ini.

Mengutip kata-kata Presiden RI yang pertama, Sukarno (1954) :

Para pahlawan gugur untuk melepaskan terali besi yang mengikat negeri ini, dan usai terali besi lepas, generasi berikutnya mewujudkan impian para pahlawan.

Bangsa ini harus menjadi bangsa yang besar, karena begitu besar jumlah para pahlawan yang gugur untuk satu kata yaitu Merdeka.

Revolusi yang paling tepat adalah revolusi kepada diri sendiri, karena dengan merubah diri dari yang buruk menjadi baik bagi sesamanya dan negerinya. Penulis : Letkol Inf Purnomosidi (Dandim 0809/Kediri)

Leave a comment.

Your email address will not be published. Required fields are marked*

BREAKING NEWS :