taher 14/02/2016
ilustrasi
ilustrasi

POSKOTA.CO – Banyak paham-paham luar masuk kampus membuat, Cak Maksum, Alumni Santri Tebu Ireng angkat bicara. kampus adalah pintu gerbang sebagai penerus kepemimpinan nasional indonesia, bukan dicetak untuk memimpin bangsa lain, dengan cara-cara menyelipkan pembelajaran yang sebenarnya justru meracuni jiwa muda bangsa.

Alasannya, kampus sebagai tempat generasi muda indonesia menempuh pendidikan dan ilmu pengetahuan untuk meneruskan cita-cita dan nilai-nilai luhur bangsa, bukan meneruskan nilai-nilai luhur bangsa lain.

“Bila perlu, ganti rektor yang mencoba-coba merasuki siswa itu dengan paham luar. Di kampus tidak boleh masuk paham-paham luar negeri, mengaculah pada tokoh NU atau Muhammadiyah,” tandas Cak Maksum kepada wartawan, Sabtu (13/2/2016).

Diungkapkan, budaya luar misalnya pakai cadar, bukan haram, namun terkonotasi dimaysrakat identik dengan islam radikal, anti Pancasila, sehingga belum siap secara budaya. “Budaya Islam indonesia sebagaimana yang diajarkan tokoh ulama KH. Hasyim Asya’ari dan KH. Buya Hamka,” tandasnya.

ANCAMAN

SebElumnya, Panglima TNI, Jenderal Gatot Nurmantyo juga menyatakan hal yang hampir sama dengan Cak Maksum.

Panglima pada sambutannya di acara Musyawarah Nasional ke-2 Ikadi (Ikatan Da’i Indonesia) dengan tema ‘Mengokohkan Dakwah Menuju Bangsa Berkarakter Islam Rahmatan Lil’Alamin’ di Embarkasi Haji Bekasi, menegaskan bahwa dalam rangka menghadapi ancaman ke depan yang semakin nyata, semua hal perlu diantisipasi sejak dini dengan mengharapkan peran para Da’i sebagai pemersatu dan menyiapkan mental bangsa.

“Peran Da’I dilkukan dengan cara berdakwah yang difokuskan membela bangsa dengan cara membangun iman umat, agar tercipta pribadi yang sholeh, baik secara vertikal maupun sosial.

Hal itu perlu dilakukan, lanjut Panglima, karena banyak cara yang dilakukan negara asing untuk menguasai kekayaan alam Indonesia, salah satu cara yaitu dengan membuat Proxy War.

“Saat ini sudah terasa adanya Proxy War dan kita harus waspadai karena sudah menyusup ke sendi-sendi kehidupan berbangsa dan bernegara,” ujarnya.

Cara yang dilakukan dengan menguasai media di Indonesia dengan menciptakan adu domba TNI-Polri, rekayasa sosial, perubahan budaya, pemecah belah partai dan penyelundupan narkoba yang sudah jauh-jauh hari dilakukan

Leave a comment.

Your email address will not be published. Required fields are marked*