harmono 03/10/2015
Aktivis Salim dibantai ala peristiwa PKI  pada Th 1965
Aktivis Salim dibantai ala peristiwa PKI pada Th 1965

POSKOTA.CO – Pelaku pembantaian Salim Kancil dan Tosan lebih dari 30 orang. Aksi keji itu disaksikan warga sedesa bahkan sebagaian mereka seakan pesta pora melhat aksi sadis tersebut. Rasa kemanusian hilang, Salim Kancil dan Tosan bagai seekor binatang. Ditendang, dipentung, dan ditikam.

Salim dan Tosan diperlakukan tak manusiawi hanya karena menuntut perusakan alam agar warga dan anak cucu kelak tak sengsara akibat ulah pengusaha. Keduanya berbuat untuk kepentingan warga sedesa bukan hanya untuk perut keluarganya. Tapi perjuangan itu harus ditebusnya dengan nyawa.

Meski badai dan rintangan menghadang perjuangan Salim dan Tosan tak pernah menyerah. Meski laporan ke wakil rakyat tak ditanggapi, meski lapor polisi hanya disinisi, meski lapor bupati hanya dicibiri, keduanya tak pernah patah semangat.

Langkah demi langkah terus ditapaki. keduanya tahu resiko yang bakal dihadapi, tapi jiwa tak tergoyahkan. Merasa berdosakah wakil rakyat, pejabat kepolisian dan bupati setempat atas kematian kedua pejuangan lingkungan hidup itu ? Kembali pada nurani mereka.

Apakah setelah Kepala Desa Selok Awar-awar ditetapkan tersangka kasusnya terhenti? dan aparat kepolisian hanya menjadikan kepala desa jadi tersangka utama, selesaikah persoalan tersebut.

Kini Propam dan Inspektorat Kepolisian Daerah Jawa Timur memeriksa Kepala Polres Lumajang AKBP Fadly Munzir Ismail dan Kapolsek Pasirian AKP Eko Hari Suprapto, terkait kasus pembunuhan Salim Kancil yang dilakukan secara keji oleh sekelompok orang. Polisi juga memeriksa Babinkamtibmas setempat untuk mendalami kasus itu.

Wakapolda Jatim, Brigjen Pol Eddi Hariyanto, di kantor Mapolda Jatim, Jumat (2/10/2015) berjanji pihaknya akan transparan mengusut tuntas kasus tersebut. “Kami akan terbuka untuk mengusut kasus ini. Apakah ada aparat kepolisian atau pejabat yang terlibat dalam kasus ini. Kami masih akan kembangkan siapa-siapa saja yang ada di belakang (kasus) ini,” katanya.

Tim investigasi KontraS Surabaya, Fatkhul Khoir, meminta meski polisi sudah memeriksa 23 orang bukan berarti penyidikan dianggap selesai. Yang perlu diusut, siapakah pejabat kepolisian yang tak mau menerima laporan warga dan mengusutnya. “Buat apa ada bupati, polisi dan wakil rakyat tak peduli,” tandasnya.

Diwartakan sebelumnya, pada 26 September, sekelompok orang menjemput paksa dan menganiaya Salim Kancil dan Tosan. Kedua petani itu dinilai lantang memprotes keberadaan penambangan liar di Desa Selok Awar-awar.

Leave a comment.

Your email address will not be published. Required fields are marked*