Djoko Waluyo 18/07/2014

jokowiPOSKOTA.CO – Sejumlah aktivis pro demokrasi dan mantan aktivitis mahasiswa 1998 di Sulawesi Tengah bertekad mengawal hasil pemilihan umum maupun hasil pemilihan presiden secara kritis sehingga agenda reformasi tetap berjalan seperti yang dicita-citakan sebelumnya.

Komitmen tersebut dinyatakan puluhan mantan aktivis 1998 dalam sebuah diskusi tentang evaluasi pemilihan presiden di Palu, Rabu hingga Kamis dini hari.

Diskusi dipimpin Koordinator Presidium Perhimpunan Nasional Aktivis (Pena) 1998 Sulawesi Tengah Yahdi Basma dan dihadiri sejumlah aktivis yang kini aktif di sejumlah partai politik, lembaga negara, akademisi dan pelaku ekonomi.

Mereka antara lain Ketua Komnas HAM Perwakilan Sulawesi Tengah Dedy Askari, Sekretaris DPD Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan Sulawesi Tengah Muharram Nurdin, Sekretaris DPD Partai Demokrat Sulawesi Tengah Talitti Paluge, Badan Pemilu Partai Nasdem Sulawesi Tengah Aristan dan sejumlah calon legislatif terpilih dari kalangan aktivis.

Sementara dari kalangan intelektual antara lain Rasyidi Bakri dan Mohammad Fandy.

Rasyidi mengatakan pemilihan presiden yang baru saja berlangsung merupakan harapan baru bagi proses politik dan demokrasi yang lebih baik ke depan sehingga perlu dikawal secara serius. “Politik dalam pengertian modern, bukan lagi politik transaksional,” katanya.

Mantan Direktur Perhimpuanan Bantuan Hukum Rakyat Sulawesi Tengah itu mengatakan membaiknya kondisi politik tersebut memberikan ruang kepada mereka yang memiliki komitmen kerakyatan untuk berperan strategis di legislatif maupun eksekutif.

Hal itu kata dia sudah terbukti banyak mantan aktivis mahasiswa yang lolos di parlemen mau dalam pertarungan kekuasaan eksekutif. “Jangan lagi demokrasi yang dibangun lewat kekuatan reformasi ini dirusak,” katanya.

Sementara itu Aristan mengatakan untuk memperkuat kerja kongkret para aktivis pro demokrasi khususnya mereka yang lolos menjadi anggota legislatif perlu menetapkan agenda politik bersama meskipun berbeda partai politik. “Masih banyak agenda reformasi yang perlu kita kawal,” katanya.

Aristan mengatakan untuk mengawal agenda reformasi para aktivis tidak saja masuk di legislatif tetapi juga harus merebut ruang kekuasaan di eksekutif dari level nasional sampai di daerah.

“Ini harus menjadi agenda kita bersama. Bagi yang lolos di legislatif silahkan bekerja, di eksekutif siapa yang harus kita dorong bersama,” kata aktivis jaringan tambang Sulawesi Tengah itu.

Rencananya para aktivis yang umumnya masuk dalam tim pemenangan Calon Presiden dan Calon Wakil Presiden Joko Widodo-Jusuf Kalla tersebut rencananya akan kembali melakukan pertemuan membahas agenda politik lokal pekan depan di Palu.

Leave a comment.

Your email address will not be published. Required fields are marked*

BREAKING NEWS :