taher 22/11/2014

yuniPOSKOTA.CO – Dengan rasa percaya diri yang tinggi, seorang wanita yang saat itu mengenakan pakaian rada urakan, tengah memasuki kawasan rawan (sarang macan). Perannya sebagai calon pembeli barang terlarang, harus berhadapan dengan penjual, dua orang lelaki bertubuh tinggi besar.

Sepasang pria pun mengeluarkan barang haram dari tasnya dan hendak memberikannya kepada si wanita, saat itulah reaksinya cepat. Kendati tak memegang sepucuk senjata pun di tangannya, si wanita tetap bertekad membekuk sang pria meski badannya tidak sebesar dan setinggi pria itu. Di bawah kondisi gelap dan mencekam, sekitar 30 menit kemudian si wanita yang jago olah raga bela diri judo itu pun akhirnya berhasil menaklukkan sepasang pria.

Begitulah salah satu pengalaman ‘undercover’ yang dialami polisi wanita berparas cantik, AKP Ajun Komisaris Polisi Yuni Purwanti Kusuma Dewi. Wanita sarjana hukum bertubuh padat dan berbadan tinggi ini menyandang jabatan yang terbilang keren, Kepala Satuan (Kasat) Narkoba di Polres Bogor, Jawa Barat.

“Saat mereka menunjukan barang buktinya (narkoba), saya langsung tangkap mereka. Saya bertarung sengit dengan dua pria yang badannya besar-besar. Setelah saya tumbangkan mereka, seperti biasa, polisi baru datang menangkap. Kayak di film-film India ha ha ha,” kisah Yuni berderai tawa.

Pengalaman dramatis dan menegangkan yang dialami Yuni berhadapan dengan bandar-bandar narkoba adalah pekerjaan sehari-hari yang harus dienyamnya. Keterbiasaan Yuni dalam membekuk penjahat, tentu dilatari oleh pengalamannya sebelum menyandang jabatan Kasat Narkoba, yakni seorang Serse di Polda Jawa Barat sebagai perwira lapangan.

Didikan keras sang ayahnya yang seorang polisi serta kegemarannya berlatih judo, betul-betul membentuk sang wanita cantik ini menjadi perempuan pemberani yang tak gentar menghadapi apapun di belantara dunia hitam.

Bogor Rawan Narkoba
Menurut Yuni, kawasan Bogor yang terdiri dari 40 Kecamatan adalah salah satu zona yang amat sangat rawan disasar oleh para bandar narkoba. Dibanding Kota Bandung, sambung wanita kelahiran Porong, 23 Juni 1971, Kota Bogor terbilang lebih potensial. “Hanya dua bulan setelah saya menjabat Kasat Narkoba, saya sudah menangkap 39 orang kasus narkoba. Ini kan menunjukkan kerawanan itu,” paparnya sembari menunjuk papan tulis yang memapangkan deretan kasus yang ditanganinya.

Untuk menghadapi kerawanan ini, wanita single parent beranak dua ini punya kiat, yaitu dengan melakukan pencegahan (preventif). “Kita di sini sudah berkoordinasi dan berkomunikasi dengan pihak sekolah. Kalau dengan pihak sekolah tidak ada pengenalan awal, maka mereka tidak kenal dan mengenal apa itu narkoba. Narkoba itu sudah benar-benar masuk di lingkungan mereka. Maka kita harus mengadakan pencegahan dengan menggelar penyuluhan dan sosialisasi satu minggu sekali,” ungkap Yuni.

Namun, seiring derasnya peredaran narkoba dikawasan sejuk itu, sederet prestasi juga diukir Yuni. Selang sehari dirinya diangkat Kasat Narkoba (September 2014), keesokannya wanita ini sudah berhasil mengungkap peredaran narkoba jenis shabu di wilayahnya. Dia dan jajaran polisi berhasil menyita barang bukti seberat 1,5 ons jenis shabu serta uang tunai sebesar Rp 40 juta dari tiga orang tersangka.

Terbongkarnya jaringan pengedar shabu berkualitas tinggi ini berawal saat ditangkapnya tersangka Budiman pada hari Jumat (19/9/2014) sekitar pukul 21.00 WIB. Dari tangan tersangka, petugas mengamankan barang bukti shabu sebanyak 5 gram. “Kami terus lakukan pengembangan dan kembali menangkap Usep alias Kempot dengan menyita 1,22 gram sabu,” ujar Yuni waktu itu.

Banyak orang tercebur ke dalam profesi tertentu lantaran tidak sengaja (by accident), namun Yuni justru dengan by design (direncanakan). Pembawaannya yang tomboy, membuat anak pertama dari tiga bersaudara ini sudah dibidik sang ayah yang juga seorang perwira di Brimob untuk mencetak anaknya menjadi polisi juga.

“Waktu itu saya berpikiran bukan menjadi polisi, makanya saya seperti ini karena ayah waktu itu mengajak saya ke Ancol. Entah mengapa ayah saya (almarhum) ini tiba-tiba mendaftarkan saya menjadi polisi,” ujar Yuni mengenang.

Ayah Yuni adalah AKBP Sumardi (almarhun) yang pensiunan Secapa Polri. Dia adalah seorang yang keras dalam mendidik anak-anaknya supaya menjadi orang yang mandiri dan sukses. Melalui didikan sang ayah dengan gaya yang tegas itulah, manfaatnya dirasakan sekarang betul oleh seorang Yuni hingga kini.

Yuni adalah anak ketiga dari tiga bersaudara. Salah satu adiknya, justru juga bekerja sebagai polisi yang saat ini berdinas di Mapolda Metro Jaya. Dia sendiri sudah lama tinggal di Bandung dan mendidik kedua anaknya seorang diri. Karena sudah hampir sepuluh tahun sudah tidak lagi bersama suami.

Namun, wanita yang mengaku enggan bersuami lagi itu dikaruniai kedua anak yang sangat saying dan perhatian kepadanya. “Anak inilah yang menghibur saya. Saya dengan mereka sudah seperti teman,” ujar ibu dari kedua anaknya, I Gede Ari Pradana (mahasiswa) dan I Made Niar Mayang yang masih duduk di kelas 12 SMA di Bandung.

“Saya termasuk keluarga rock n roll, ha ha ha,” ujar Yuni tergelak ketika disinggung soal kehidupan keluarganya. “Dalam mendidik anak-anak saya, sama saat saya dididik sang ayah. Lebih mengedepankan diri pada kemandirian. Kemudian saya juga memberikan pengetahuan tentang apa-apa yang dianggap tabu bagi kita. Seperti bahaya narkoba, dengan pendekatan psikologis.”

2015, Indonesia Bebas Narkoba
Dalam menyongsong Indonesia Bebas Narkoba di tahun depan, Yuni memilih pendekatan dengan cara sosialisasi. “Karena dengan sosialisasi, kita ke sekolah-sekolah dapat memberikan gambaran langsung kepada anak-anak akan bahayanya narkoba,” ujarnya.

Bagi Yuni, penyuluhan model yang dilakukannya selama ini terbukti mujarab. “Penyuluhan sekolah itu efektif. Di Polres Bogor kita punya agenda sepekan sekali mengadakan seosialisasi, termasuk juga ke pabrik-pabrik,” katanya tegas. *** Hakim

Leave a comment.

Your email address will not be published. Required fields are marked*

BREAKING NEWS :