oleh

Tim Ekskavasi Benda Cagar Budaya Selesaikan Tugas

-Nasional-66 views

POSKOTA.CO – Tim ekskavasi (penggalian cagar budaya) masih belum menentukan apakah hasil temuan dipertahankan terkubur di lokasi aslinya (dalam tanah), atau diangkat untuk dimanfaatkan sebagai ornamen heritage penghias bangunan Stasiun Bekasi baru. “Tentu akan didiskusikan dulu dengan semua pihak yang terkait,” kata Ali Anwar, Ketua Tim Ahli Cagar Budaya Kota Bekasi.

Hal ini didampaikan terkait kelanjutan kegiatan dalam penemuan struktur bangunan di kawasan Stasiun Bekasi. Tim terpadu Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Banten, Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Kota Bekasi, PT KAI, dan Pemerintah Kota Bekasi telah melakukan ekskavasi di struktur bangunan rolag/rofilag lengkung batu bata merah era kolinial Belanda di Stasiun Bekasi. Ekskavasi Hari terakhir dilakukan Kamis (27/08/2020).

Ekskavasi, kata Ali, mengalami kemajuan. Ternyata ada struktur batu bata baru secara horisontal dan vertikal di sebelah selatan dari strukrtur batu bata di sebelah utara. Bentuknya sama. Jarak utara-selatan sekitar meter 3 m. Struktur baru ditemukan pada kedalaman sekitar 30 cm dari permukaaan tanah. Lantas digali sampai kedalaman 160 cm.

Tim melakukan ekskavasi di kawasan penemuan yang diduga benda cagar budaya.

Selain rolag/ropilag lengkung, tim ekskavasi BPCB Banten yang dipimpin Pahlawan Putra dan TACB Kota Bekasi yang diketuai Ali Anwar, itu juga menemukan struktur fondasi bangunan setinggi 160 cm dengan lebar 55 cm. Letaknya di tengah-tengah antara dua rolag/ropilag lengkung.

“Yang jadi pertanyaan kami adalah mengapa struktur rolag/rofilag lengkung utara dengan selatan tanpa sambungan dak. Padahal dugaan semula antara
rolag/rofilag lengkung tersambung oleh dak, sehingga struktur batu bata merah itu menyerupai gorong-gorong,” kata Ali.

Temuan unik ini akan dibawa ke BPCB Banten untuk dicari padanannya dengan hasil penelitian di daerah lain sebelumnya, lantas didiskusikan dengan sejumlah ahlinya.

Selanjutnya, pada Jumat, 28 Agustus 2020, BPCB Banten tetap di lokasi dengan pekerjaan standar arkeologi: pemotretan dari udara menggunakan dron, penggambaran, sampai pelapisan objek penelitian menggunakan plastik cor. (cw/oko)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *