harmono 27/01/2018

POSKOTA.CO – Sampai kini Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) secara resmi belum menyatakan dukungan sepenuhnya untuk mengusung Joko Widodo (Jokowi) sebagai presiden. PDI-P memang agak kalah cepat dalam menentukan sikap politik terkait Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019.

“Hal ini menjadi bumerang bagi partai moncong putih tersebut. Pasalnya, bisa saja mereka disusul Partai Golkar baik itu elektabilitas maupun popularitas. Di mana saat ini grafik Golkar semakin naik. Tren mereka terus merangkak naik,” ungkap pengamat politik Indonesian Public Institute (IPI) DR Jerry Massie MA, PhD melalui rilis yang diterima POSKOTA.co, Sabtu (27/1).

“Kalau kita lihat hasil survei yang dikeluarkan LSI (Lembaga Survei Indonesia) yakni PDI-P dan Partai Golkar, saat ini elektabilitas PDI-P sebesar 22,2 persen, lebih besar dari perolehan suaranya di Pemilu 2014 yaitu 18,95 persen. Sedangkan elektabilitas Partai Golkar sebesar 15,5 persen, lebih besar dari perolehan suaranya di Pemilu 2014 yaitu sebesar 14,75 persen. Elektabilitas partai lainnya rata-rata di bawah perolehan suara kedua partai tersebut di Pemilu 2014,” paparnya.

DR Jerry Massie MA, PhD

‘Wanita Cantik’
Menurut Jerry, baru Partai NasDem, Partai Golkar dan Hanura yang secara terang-terangan mendukung Jokowi pada Pilpres 2019. Bisa saja, PDI-P ketinggalan kereta.

“Saya lihat justru PDI-P kurang jeli. Jokowi bagaikan ‘wanita cantik’ banyak yang kepincut meminangnya. Bisa jadi Golkar akan menempatkan salah satu kader mereka yakni Airlangga berpasangan dengan Jokowi,” imbuh Jerry sambil menambahkan, Presiden Jokowi notabene dua kali menjadi Wali Kota Solo, sekali Gubernur DKI Jakarta dan berpotensi dua kali presiden.

Lebih jauh Jerry mengatakan, dengan dikeluarkannya keputusan DPR tentang Presidential Threshold (PT), 20 persen suara legislatif (DPR) dan 25 persen suara nasional. Paling tidak lawan Jokowi hanyalah Prabowo dan koalisinnya Gerindra, PKS, PAN, Demokrat atau bisa saja PPP.”Dengan naiknya elektabilitas Golkar 15,5 persen dan turunnya PDI-P ke 22,2 persen akan sangat berpengaruh,” ujarnya.

Memang dia melihat, nama-nama yang punya potensi juga mendampingi Jokowi dari TNI sudah terlihat nampaknya seperti Jenderal (Purn) Moeldoko punya peluang besar.

Selain itu, tambah Jerry, nama yang mengkristal saat ini yakni ekonom handal Rizal Ramli. Sejumlah tokoh-tokoh nasional alumni ITB dan UGM yang ingin ‘mengawinkan’ dirinya bertandem dengan Jokowi. Adapula nama yang berpotensi di antaranya, Muhaimin Iskandar yang akrab dipanggil Cak Imin (PKB), Puan Maharani (PDI-P), dan Surya Paloh (NasDem).

Jika jadi di second line ada nama-nama penantang Jokowi yakni, Anies Baswedan, Agus Yudhoyono dan Gatot Nurmantyo. Memang hanya mereka yang disebut-sebut sejumlah lembaga survei.

“Dengan diangkatnya Idrus Marham sebagai menteri sosial dan tetap dipertahankannya Airlangga Hartarto di posisi menteri perindustrian, maka itu sinyal kuat Golkar menjadi ‘bombernya’ Jokowi,” tutur Jerry.

Bisa saja, sambung Jerry, Golkar menyalip PDI-P. Apalagi ketua umum mereka orangnya ‘low profile’ dan bersih dari masalah hukum. “Sebenarnya pemilih tradisional masih banyak yang simpati dengan Golkar. Namun elektabilitas dan popularitas mereka anjlok saat Setya Novanto dipaksakan memimpin partai ini,” ujarnya.

“Tak bisa dipungkiri Partai Golkar bisa saya katakan ‘The King of Indonesia Party’. Dari partai inilah lahir partai besar di Tanah Air seperti, Partai NasDem yang dipimpin Surya Paloh, partainya Prabowo Subianto (Gerindra), dan Wiranto (Hanura). Namun jika ini digabungkan Golkar 91 kursi, Partai Gerindra 73, Nasdem 35 dan Hanura 16 kursi. Jadi total 215 suara di DPR dari 560 (38 persen),” ungkapnya.

‘Big Match’ Bisa Terulang
Jerry menambahkan, untuk pilpres nanti, paling hanya ada dua calon presiden ataupun bisa jadi Jokowi akan melawan kotak kosong. “Tapi bisa terulang ‘big match’ antara Jokowi dan Prabowo. Lantaran saat ini selain Prabowo belum ada satu pun yang bisa mengimbangi mantan Wali Kota Solo dua periode ini,” bebernya.

Bicara ‘big suprise’, kata dia, barangkali relatif kecil. Dengan pencapain pembangunan Presiden Jokowi, Jerry memprediksi, akan sulit bagi para kampriotnya untuk menandinginya. Jokowi pribadi punya mind set is think out of the box, sosok talk less, do more (sedikit bicara dan banyak berbuat).

“Golkar menjadi brigde politik jika nanti tak diusung PDI-P. Ini sudah dipikirkan Jokowi. Bisa jadi faktor ‘Jokowi Pekerja Partai’ menjadi bom waktu bagi dirinya,” pungkas Jerry. (*)

 

Leave a comment.

Your email address will not be published. Required fields are marked*