harmono 16/05/2019


Oleh: Brigjen Pol Dr Chryshnanda Dwilaksana MSi

UNGKAPAN konyol, sontoloyo tatkala dilontarkan nama Prof Awal kembali terngiang dalam ingatan kita nama besar Prof Dr Awaloedin Djamin MPA, PhD. Beliau seorang polisi yang memiliki keistimewaan keunggulan yang menurut saya tidak dimiliki polisi-polisi lainya. Dalam kepangkatan, beliau sampai berpangkat jenderal polisi bahkan menjadi Kapolri.

Sebagai ahli administrasi negara, karier beliau pernah menduduki jabatan sebagai ketua Lembaga Administrasi Negara. Sebagai diplomat dan ranah politik, beliau menjadi duta besar di Jerman bahkan menjadi menteri tenaga kerja. Beliau menggagas manajemen sekuriti, dan sebagai Bapak Satpam Indonesia, dan Bapak Kajian Ilmu Kepolisian Indonesia, banyak gelar-gelar lainnya sebagai penghormatan atas kiprah beliau dalam berbagai profesi maupun keilmuan.

Apa yang disampaikan Prof Awal seringkali terasa melompat ke sana ke mari yang sebenarnya saling terkait satu sama lainnya. Pengetahuan beliau sangat luas, dan mungkin yang diajak bicara atau yang mendengar terbatas pengetahuannya sehingga menjadi pusing sendiri tatkala beliau menyampaikan sesuatu dalam ungkapan panjang detail bahkan sering kali melampaui waktu yang ditentukan dan hampir tak ada yang berani menghentikannya.

Prof Awal memang senang bercanda, banyak joke-joke yang dilontarkan baik di kelas maupun dalam ruang-ruang diskusi. Tatkala dilarang merokok beliau mengatakan, “Sudah empat dokter meninggal duluan yang melarang saya merokok”. Beliau juga tertawa tatkala mahasiswanya hanya mengejar formalitas, dan beliau mengatakan, “Kalian ini hanya ingin pakai baju barongsai (istilah beliau terhadap baju toga untuk wisuda sarjana)”.

Tatkala kuliah di rumah pribadi beliau di Jalan Daha, saya bersama Mas Amran Ampulembang dan Mas Yoyok Sri Nurcahyo saking banyaknya materi yang disampaikan Prof Awal, kami ingin bertanya pun tidak diperkenankan. “Sudah catat tulis saja!” kata beliau sampai suatu ketika Mas Yoyok sudah merasa buntu, dan Mas Yoyok memberanikan diri mengangkat tangan. “Mohon izin Prof, stop-stop, sudah tidak mampu lagi menampung otak kami”.

Prof Awal tidak marah, beliau justru tertawa memahami muridnya mulai melemah. Tatkala menguji beliau mungkin lebih banyak yang berbicara daripada yang diuji penjelasan beliau sebenarnya membantu teruji untuk semakin percaya diri.

Suatu ketika beliau marah besar kepada saya yang pada saat itu muncul atau terbit buku, “Polmas: Paradigma Baru Polri.” Saya boleh dikatakan sebagai sekretaris serta menjadi anggota tim editor dan mungkin dapat disebut sebagai ghost writer-nya. Beliau marah bahkan menyalahkan saya mengapa tidak lapor beliau sebagai koordinator staf ahli Kapolri. Kalimat yang saya ingat antara lain, “Kapolri akan membuat buku dilapis emas juga bisa, kenapa membuat buku ini tidak memberi tahu staf ahli”.

Saya memang bingung mau bilang apa, yang saat itu saya berpangkat AKBP baru. Ide menyusun buku itu diambil dari kebijakan Kapolri Jenderal Sutanto yang oleh Brigjen Pol Budi Gunawan yang saat itu sebagai karo binkar. Beliau memiliki banyak ide gagasan untuk menyusun buku bagi Kapolri dengan menjabarkan polmas sebagai paradigma baru Polri. Buku itu memang ditandatangani dan disetujui Pak Sutanto, dan juga memberikan kata sambutan. Kebetulan saat itu Mas Kikiek (Hermawan Sulistiyo-red) juga menyusun buku tentang polmas bersama Pak Tanto. Hal ini membantu meredakan Pak Awal, dan menengahi kesalahpahaman tadi.

Tak berapa lama saya dengan Pak Awal mulai baik, dan kami sering menguji bersama bahkan beliau banyak memberi banyak wejangan kepada saya untuk memikirkan bagaimana Polri ke depan. Dua buku Pak Awal, saya sebagai editornya walau buku tersebut 10 tahun tidak jadi-jadi dan dibimbing beliau selama satu tahun buku tersebut akhirnya jadi.

Buku administrasi Kepolisian RI, yang penerbitannya dibantu staf ahli waktu itu Bapak Irjen Badrodin Haiti yang menjembatani. Dan selanjutnya kumpulan tulisan beliau yang berkaitan dengan administrasi kepolisian dan manajemen sekuriti pun berhasil diterbitkan kembali. Banyak hal yang unik, yang mungkin tidak tercatat atau dipahami oleh para murid atau orang dekatnya bahwa beliau senantiasa bersemangat tatkala untuk rapat atau diskusi atau mengajar walaupun sakit-sakit tetap dibuatnya, sehat dan berangkat walaupun setelah kegiatan itu beliau sakit lagi.

Saya mengenal Pak Awal memang sejak taruna, dan tahu beliau jenderal yang profesor pemikir Polri, dalam hati kecil saya ingin juga seperti beliau, pikir saya. Saat itu saya hanya merasa kecil, apa ya mungkin bagaimana saya bisa sekolah, sedangkan saya tidak punya kemampuan yang memadai untuk sekolah sampai S3 seperti beliau. Apa ya mungkin saya jadi jenderal karena banyak hal benturan-benturan dalam birokrasi dan banyak hal keraguan.

Saya waktu pertama kali bertatap muka dengan beliau, saat saya di PTIK. Beliau masih merokok dan minum es teh. Beliau tidak ada pantangan makan seusia beliau saat saya PTIK juga sudah tergolong sepuh. Beliau di dalam kelas mengajarkan bahwa administrasi kepolisian adalah administrasi negara. Berkali-kali beliau menekankan demikian. Beliau juga sangat intens akan UU kepolian apa yang menjadi tugas pokok dan fungsi kepolisian. Kamipun rata rata menganggap sudah jagoan dan tidak perlu membuka UU Kepolisian. Padahal itulah kitab untuk menjadi polisi yang profesional, modern dan terpercaya. Penekanan beliau pada kewenangan kepolisian dan pemahaman atas fungsi polisi dan tugas pokoknya untuk dapat ditumbuhkembangkan dan mengikuti perubahan atau perkembangan zaman.

Lagi-lagi para muridnya memang kurang memahami. Ini sebenarnya roh dari pendidikan Polri yaitu mengaitkan dengan administrasi negara atau setidaknya bagaimana Polri sebagai polisi negara. Bukan sekadar mendukung keamanan dalam negeri, bukan pula sebatas pembangunan nasional, tetapi bagaimana ikut berjuang, bangkit, tegak, tumbuh dan berkembangnya negara ini. Tugas polisi bukan sebatas mengamankan, bukan sebatas melayani, bukan pula sebatas melindungi, mengayomi atau sebatas menegakkan hukum. Apa yang dimaksudkan Pak Awal adalah polisi ini pilar negara. Ikon peradaban penjaga kehidupan, pembangun peradaban bahkan pejuang-pejuang kemanusiaan yang di dalam tugasnya merefleksikan upaya-upaya mengangkat harkat dan martabat manusia.

Ini mungkin menurut saya, karakter lembaga pendidikan Polri juga harus merefleksikan sebagai bagian pembangun negara. Selain menyiapkan dan mendidik kader-kader Polri yang unggul, juga menyiapkan sebagai negarawan atau bahkan guru bangsa yang bukan sekadar pejabat atau kaum yang ikut berpolitik namun benar-benar mampu menjadi ikon bagi bangsa dan negara.

Di dalam bidang operasional, beliau juga mengemukakan bahwa polres sebagai KOD atau Kesatuan Operasional Dasar yang lengkap memiliki fungsi-fungsi kepolisian. Bahkan beliau memikirkan bagaimana KOD kuat dengan sistem polsek dan babinkamtibmasnya yang bergerak dan memberikan pelayanan. Di mana para petugas polsek dapat menjadi ujung tombak.

Tatkala berbicara tentang KOD, beliau sangat berapi-api penuh antusias, sayang juga muridnya mungkin bingung Pak Awal bicaranya ke mana-mana. Sebenarnya itulah esensi beliau inginkan KOD benar-benar dibangun secara profesional diisi orang-orang yang representatif. Sambil tertawa beliau mengatakan, kamtibmas itu dengan kancilmas karena ya lagi-lagi yang diajak bicara slow atau lambat-lambat bahkan enggan memikirkan Polri yang baik, benar, profesional dan dapat diunggulkan.

Tatkala masa reformasi, beliau juga gencar sekali membahas tentang posisi Polri yang langsung di bawah presiden sebagai polisi nasional. Ini yang berulang kali disampaikan di kelas maupun secara langsung kepada saya. Beliau menunjukkan banyak model kepolisian dan pemolisiannya namun beliau tetap menyatakan bahwa Polri ini polisi nasional.
Beliau sempat ngomel marah ngedumel terus menerus tatkala UU Kepolisian akan diubah, dan belum ada tim yang serius membahasnya. Beliau terus menerus mendorong semaksimal beliau bisa. Hal hal mendasar bagi kepolisian modern sudah dicanangkan oleh beliau dalam banyak hal yang semua termaktub dalam UU Kepolisian. Pemikiran-pemikiran visioner beliau yang memimpikan Polri benar-benar menjadi polisi negara sepertinya belum sepenuhnya berhasil. Walaupun beliau semua posisi kelembagaan maksmial bahkan sampai memiliki usia panjang sekalipun hal ini menunjukkan betapa sulit dan berat mengubah mind set apalagi culture set.

Hal yang tak boleh dilupakan apa yang diperjuangkan Pak Awal adalah implementasi community policing dalam pelaksanaan tugas Polri. walau perdebatan penggunaan pemolisian dan perpolisian yang disampaikan Pak Farouk Muhammad, tetapi beliau tetap memegang pada hakikatnya community policing bukan pada penerjemahan dalam bahasa Indonesia. Ini ditunjukkan beliau saat menjadi co promotor disertasi saya, beliau tidak mengubah pemolisian menjadi perpolisian.
Perdebatan dalam penerapan model community pokicing pun muncul karena banyak negara donor yang memberikan masukan ataupun wawasan tentang implementasi community policing antara lain dari: Asia Foundation, partnership, IOM, JICA. Semua ingin menjadi penjuru atas model community policing bahkan IOM membiayai atas penyusunan perkap tentang polmas. Yang awalnya hanya menjadi istilah community policing dalam penyelenggaraan tugas Polri walaupun akhirnya juga ditulis sebagai perpolisian masyarakat.

Kedekatan kekuatan pengambilan kebijakan lagi-lagi menentukan dalam policy-nya saat itu Kapolri Pak Dai bahtiar. Pak Awal tidak mempermasalahkan munculnya polmas, beliau tetap gigih menunjukkan bahwa secara nasional memiliki babhinkamtibmas, pospol dan satpam. Memang semua itu menurut saya tidak dijadikan sebagai ikon Polri. Walaupun di dalam banyak acara seremonial semua hal tadi dijadikan ikonnya.

Dalam bidang sekuriti beliau memikirkan bagaimana private dan industrial sekuriti dapat tumbuh dan berkembang dan profesional. Memang satpam yang menjadi wadahnya sudah dikelola di dalam fungsi binmas, namun apakah sudah maksimal? Adakah yang memberdayakannya sebagai soft power Polri? Adakah yang care terhadap satpam selain urusan KTA (Kartu Anggota) satpam dan HUT Satpam? Mungkin ini yang membuat Pak Awal meneriakkan sontoloyo, konyol dan sebagainya. Beliau mau marah kepada siapa yang diajak membahas, dan implementasinya boleh dikatakan gitu-gitu saja. Inilah soft power yang mungkin beliau lihat di Indonesia masih seperti hutan rimba belantara. Sementara masih ditangani parsial dan menjadi ladang bisnis semata, roh dari pentingnya aman dan rasa aman belumlah sampai pada apa yang Pak Awal harapkan.

Posisi satpam senantiasa dianggap sepele, rendah atau bahkan juga belum ditumbuhkembangkan. Pak Awal sebagai Bapak Satpam Indonesia, beliau menorehkan tinta emas pada konteks sekuriti dalam negara atau masyarakat yang demokratis. Satpam bukan bawahan polisi, bukan profesi rendah, melainkan mitra polisi yang harus juga dibangun secara profesional. Apa yang diperjuangkan beliau bukan sebatas pada pengelolaan satpam bahkan sampai pada bidang studi dalam kajian ilmu kepolisian. Ada satu pendekatan atau jurusan katakanlah sederhananya pada manajemen sekuriti.

Premanisme menjalar di mana-mana untuk menggunakan dan penguasaan sumber daya, pendistribusian-pendistribusian sumber daya sampai sekuriti pun dikuasai dan didominasi oleh para preman dari hulu sampai hilirnya. Di siniliah perjuangan Pak Awal agar tugas pengamanan menjadi profesional dan menjadi suatu kebanggaan serta keunggulannya dalam berbagai bidang. Sistem-sistem pengamanannya tak lagi dikuasai dan dikelola ala preman dengan gaya-gaya pemaksaan, pemalakan, suap, pemerasan, kekerasan, ancaman kekerasan, bully-an di media sosial dan berbagai hembusan kebencian.

Sistem sekuriti tak lagi berdasar pada siapa yang punya massa, dialah akan menjadi penguasanya. Asu gede menang kerah e. Sistem sekuriti dikelola dengan cara-cara yang profesional, rasional dan mampu mengatasi trik dan intrik jahat, tak lagi antikritik, membungkam otoritarian, dan masih banyak lagi model-model antimafia yang mereka kembangkan.

Sistem manajemen sekuriti yang profesional dapat dikembangkan melalui pembangunan security training centre, yang merupakan upaya untuk membantu pemerintah memperbaiki pola-pola pengamanan yang dikuasai dan didominasi model-model premanisme menjadi pola-pola pengamanan yang profesional, akuntabel dan modern. Sistem pengamanan ala premanisme yang telah mengakar akan memunculkan pola-pola KKN, tipu-tipu, dan penyelewengan-penyelewengan.

Dengan sistem manajemen sekuriti yang tertata secara profesional dan modern akan dapat menjadi bagian dari sistem-sistem yang rasional dan terintegrasi, serta mampu menjadi soft power maupun hard power dalam membangun sistem keamanan dan keteraturan sosial dalam masyarakat. Security training centre akan menjadi standar kompetensi bagi:

  1. Penyelenggara pendidikan private maupun industrial securirty.
  2. Instruktur-instruktur pada sekolah/pendidikan security.
  3. Standar kompetensi bagi petugas-petugas sekuriti/penyadia jasa sekuriti.
  4. Standar teknologi sekuriti.
  5. Pola-pola peningkatan kompetensi petugas sekuriti.
  6. Pengamanan sekuriti yang spesifik, yang memerlukan keahlian khusus baik dalam kondisi aman, maupun darurat.
  7. Membangun asosiasi sekuriti secara berjenjang/bertingkat dari level kota/kabupaten, propinsi hingga pusat.

Pada pengembangan ilmu kepolisian beliau mendukung Prof Harsya Bahtiar maupun Prof Parsudi Suparlan dalam konteks multibidang maupun antarbidang. Konteks kedua memang ada benarnya, dan saling mendukung walaupun sampai saat ini masih saja menjadi perdebatan.

Ilmu kepolisian yang dikembangkan Pak Awal adalah ilmu kepolisian sebagai administrasi kepolisian yang juga sejalan dengan pemikiran David Bailey. Apa yang dipikirkan Prof Awal adalah bagaimana membangun polisi sipil dalam masyarakat yang modern dan demokratis. Yang semuanya itu menjadi bagian dalam melaksanakan tugas pokok dan fungsinya seperti apa yang diamanatkan dalam UU Kepolisian.

Pada masa lalu menjadi guru begitu dihormati, dibanggakan karena menjadi pendidik, pencerah pemberi harapan baru. Penyebutan, nama sekalipun dilekatkan status sebagai guru seperti, mas guru, pak de guru, pak guru gunung (namanya sebenarnya: ‘gunung’). Betapa masyarakat menempatkan status sosial yang tinggi bagi para guru dalam kehidupan sosial kemasyarakatan.

Di bidang pendidikan, Pak Awal guru yang yang setia pada profesinya yang beliau tekuni sampai dengan akhir hayatnya. Guru pada zaman dahulu adalah profesi kebanggaan dan disegani. Para guru tatkala sampai di sekolah, anak-anak berlarian menyambut berebut membantunya, dari membawakan tas, menuntun sepedanya, memberi salam, hingga mencium tangannya. Para murid menunjukkan baktinya kepada para guru yang dibanggakannya. Para guru pun sangat mencintai dan bangga atas pekerjaannya. Para guru dengan bangga dan tulus hati memberikan pengajaran yang memberi pencerahan.

Tatkala membaca novel ‘Laskar Pelangi’, atau melihat filmnya terbayang bagaimana ibu guru yang dengan gigih mengajar murid-muridnya dengan kebesaran hatinya. Tak peduli dengan kondisi sekolahnya, tak peduli gajinya. Ia begitu gigih mengajar dengan sepenuh hati dan mencintai para muridnya. ‎Namun apa yang terlintas tentang guru saat ini? Gaji kecil, tugas berat, penghargaan kurang, dituntut bergelar sarjana, diwajibkan ini dan itu, masih banyak beban dan tanggung jawab lainnya. Menjadi guru tentu bukan pilihan favorit, bukan pula menjadi unggulan maupun pilihan utama bahkan mungkin karena keterpaksaan.

Lembaga-lembaga pendidikan sering terperangkap pada jaring-jaring birokrasi, yang kadang-kadang tidak merefleksikan suatu kecerdasan. Bagi yang ditugaskan pada lembaga pendidikan atau menjadi guru seakan mendapat demosi, atau hukuman. Kalaupun promosi, juga tergolong promo singkir (nampaknya dipromosikan namun faktanya disingkirkan). Mengapa demikian? Pendidikan dijadikan syarat semata, yang utama bukanlah pada transformasi melainkan ijazah, ranking. Guru bukan lagi digugu dan ditiru, malahan guru jadi nunggu wong turu. Ditinggal tidur muridnya, sang guru seakan bermonolog/sedang melakukan stand up comedy. Semua bisa dibeli, nilai dibeli, ranking dibeli, guru minta disangoni bahkan tak lagi berharga diri berani meminta bahkan memeras muridnya. Hal tersebut yang sangat ditentang Prof Awal, karena seorang guru sejati adalah yang benar-benar tulus mencerdaskan para muridnya.

“Pada pendidikanlah tergantung masa depan bangsa”. Mungkin ini suatu refleksi dari suatu pendidikan. Pendidikan bermutu dimulai dari gurunya. Tatkala gurunya tidak patut dan tidak layak dibanggakan /diunggulkan, maka jangan berharap hasil didiknya akan baik.

Bagaimana Pof Awal menjadi guru yang baik, ketika beliau mengajar dengan ketulusan hati, tak ada keterpaksaan, mengajar menjadi pilihan atau jalan hidupnya. Prof Awal sebagai guru adalah ikon pendidikan. Pikiran, perkataan, perbuatan beliau sebagai guru menjadi taruhan atas keberhasilan dari suatu pendidikan. Senyum beliau pun sebagai guru terkadang seperti penutup saji dan duka hatinya yang tak diungkapkan di kelas secara eksplisit, namun secara implisit hampa. Hidup sebagai guru seringkali dalam keterbatasan, terjepit dalam berbagai situasi dan kondisi, senyumnya sekaligus menunjukkan tangisnya.

Prof Awal sebagai guru sang ‘pahlawan tanpa tanda jasa’, sang pembuka cakrawala dunia. Pahlawan kemanusiaan yang dilupakan. Tawa beliau sebagai guru adalah harapan baru. Penghargaan kepada guru merefleksikan suatu cinta akan anak cucu dan generasi mendatang untuk dapat hidup dan terus tumbuh dan berkembang. Guru akan tetap menjadi guru, walau muridnya sudah mengangkasa. Cinta kasih guru menghidupkan dan memberi harapan. Sang pahlawan terlupakan, namun kasih cinta jasanya terus hidup dan menghidupi sepanjang zaman.

Apa yang diajarkan Prof Awal juga berkaitan dengan pemimpin dan kepemimpinannya. Pemimpin adalah seseorang yang mempunyai tugas dan tanggung jawab atas suatu pekerjaan, atas suatu kelompok, atas suatu institusi, suatu masyarakat, suatu bangsa atau negara untuk memberikan perlindungan, pengayoman, pelayanan, mengorganisasikan, mengajak orang lain mau mengerjakan apa yang menjadi tujuan bersama. Seorang pemimpin juga memberdayakan, mengajak maju, membangun, memberikan edukasi, bisa dijadikan panutan atau teladan, berupaya meminimalisir berbagai penyimpangan.

Ajaran beliau tentang pemimpin dan kepemimpinan dapat saya tarik benang merahnya: pemimpin juga mempunyai mimpi yang jauh ke depan, dan mampu membawa anak buahnya atau masyarakat yang loyal padanya menjadi terhormat, cerdas, bermoral. Seorang pemimpin juga membangun peradaban, meningkatkan kualitas hidup, yang tidak hanya cerdas, namun juga kreatif dan inovatif, inspiratif. Mampu mengatasi berbagai masalah, kesulitan dan berbagai keterbatasan yang ada, bahkan dalam keadaan darurat sekalipun. Ia juga seorang yang bijaksana, mau mendengar selalu berusaha memahami, keputusan yang diambilnya dirasakan betul manfaatnya secara signifikan bagi yang dipimpinnya secara khusus dan masyarakat atau stakeholder lainya secara umum.

Ia juga orang yang mempunyai kepribadian yang rela berkorban bagi yang dipimpinnya. Dengan segala keterbatasannya senantiasa berusaha untuk membawa kemajuan. Tiada hari tanpa perbaikan dan berbuat kebaikan.

Ia seorang yang humanis yang senantiasa berusaha mengangkat harkat dan martabat manusia. Mampu memanusiakan manusia lainya. Jiwa raganya diberikan bagi yang dipimpinnya sebagai landasan yang kokoh bagi yang dipimpinnya agar penggantinya atau generasi mendatang dapat lebih baik, lebih mantap, lebih mudah dan tentu juga lebih sejahtera. Adapun Kepemimpinan yang di pimpin beliau adalah sebagai tindakan seorang pemimpin dalam mengimplementasikan konsep-konsep tentang pemimpin. Dengan berbagai gaya atau style yang bervariasi dan beragam bahkan satu dengan yang lainnya bertentangan. Namun demikian prinsip-prinsip yang mendasar dan berlaku umum adalah sama, menggerakkan, menyatukan, memajukan, menginspirasi, melayani , mengayomi, memberdayakan, memperbaiki, memberi transformasi, mensejahterakan, membangun peradaban.

Kembali ke bidang security/pengamanan yang bersifat pribadi (private security) maupun industrial security dilaksanakan swasta juga untuk mengamankan berbagai aktivitas di lingkungan terbatas yang merupakan bisnis di bidang jasa keamanan. Penyelenggaraanya tentu saja secara fair, terbuka, saling membutuhkan dan ada kesepakatan dan kerjasama yang saling mendukung.

Pak Awal telah pergi mendahului kita, namun beliau telah menjadi ikon polisi yang profesional, bermoral, cerdas dan modern. Ikon dari bahasa Yunani, yaitu ‘eikon’ yang berarti ‘image’ hasil karya seni keagamaan (Eastern Orthodox Christianity and Catholicism) berupa lukisan, patung, dan sebagainya. Dalam konteks yang lebih luas selain sebagai gambar, image, dan representatif seni, ikon sekarang ini dalam kebudayaan yang modern diartikan sebagai simbol. Ikon pada tulisan ini dimaknai sebagai simbol yang dikaitkan dengan hasil kinerja pemolisian sebagai usaha membangun citra dan kepercayaan masyarakat.
Ikon merupakan simbol yang gampang diingat dan gampang diucapkan serta label apa yang diberikan karena kekhususannya, karena kreativitasnya, karena keunggulannya, karena kehebatannya, dan sebagainya.

Harapan beliau, polisi dapat dijadikan ikon yang mampu menunjukkan keunggulan dan profesionalismenya sehingga ‘brand’-nya berbeda dengan yang lain. Yang diunggulkan dari kepolisian dapat diambil dari fungsi khasnya, yaitu reserse, intelijen, sabhara, lalu lintas, dan bimmas. Ada juga fungsi-fungsi pendukung lainnya seperti, Brimob, Polisi Perairan, Polisi Udara, Polisi Satwa, Kedokteran Forensik, Laboratorium Forensik, Densus 88 Antiteror, Akademi Kepolisian, dan lembaga-lembaga pendidikan lainnya. Semua fungsi itu mampu menunjukkan keunggulan, profesionalismenya, kemajuan, dan kemantapan teknologinya, dan sebagainya.

Menjadikan ikon merupakan bagian dari reformasi birokrasi yang berarti memperbaiki dan meningkatkan kualitas serta mewujudkan impian untuk terus hidup tumbuh dan berkembang. Dalam berbagai penjabaran, benang merah tugas pokok polisi antara lain simbol penjaga kehidupan, pembangun peradaban, dan pejuang kemanusiaan.
Penjabarannya dapat diwujudkan dalam berbagai bentuk yaitu, gambar, tari, musik, cerita, kemampuan Polisi Satwa, produk-produk, kata-kata dan sebagainya. Polisi bisa juga menjadi simbol kecepatan, kedekatan, dan persahabatan. Bisa juga polisi dijadikan simbol kumpulan orang baik.

Beberapa hal yang menjadi kelemahan polisi untuk menjadi ikon antara lain menjadi safety player, ANdS (asal ndoro senang), copas (copy paste), enggan mengembangkan diri, kebanggaannya pada kegiatan lapangan, serta core value pada pendekatan kekuasaan, pangkat, dan jabatan. Dengan demikian, tatkala polisi tidak mampu menunjukkan keunggulannya orang akan memparodikan itu semua sebagai bahan bulan-bulanan. Yang lebih parah lagi, polisi mendapatkan citra buruk dan tingkat kepercayaan masyarakat menjadi rendah.

Polisi dalam menyelenggarakan pemolisiannya, menurut Prof Awal, dapat menjadi ikon atau simbol persahabatan dengan masyarakatnya. Artinya, polisi mampu menjadi institusi yang dapat diunggulkan, dipercaya, dan diharapkan sebagai sandaran untuk menyelesaikan berbagai masalah yang berkaitan dengan masalah keteraturan sosial. Kenangan akan Prof Awal begitu banyak. Mungkin itu sepercik kenangan dengan Prof Awal yang dapat saya tuliskan. Tak ada lagi kata-kata sontoloyo, banyolan dan candaan baju barongsai dari Prof Awal. Karyanya dan ajarannya abadi selalu dan terus hidup dalam jiwa sanubari insan Bhayangkara. Selamat jalan Prof, Tuhan mengasihanimu selalu, amin…. (Penulis adalah Dirkamsel Korlantas Polri)

 

Leave a comment.

Your email address will not be published. Required fields are marked*