oleh

Setara Institute Mengutuk Keras Tindakan Brutal Pembakaran Mapolsek Ciracas

-Nasional-61 views

POSKOTA.CO – Pada tengah malam, tanggal 28 Agustus 2020, Markas Kepolisian Sektor (Mapolsek) Ciracas menjadi sasaran penyerangan sekelompok pengacau, yang berdasar kronologi serta berbagai kesaksian masyarakat diduga diidentifikasi sebagai anggota.

Seratus lebih orang dengan mengendarai sepeda motor membakar mobil, motor, dan menganiaya petugas yang sedang piket di Mapolsek. Sebelum menyerang Mapolsek Ciracas, gerombolan yang sama melakukan perusakan di Pasar Rebo.

Mereka menganiaya dan melukai warga sipil. Gerombolan juga melakukan razia, perusakan kendaraan disertai pemukulan terhadap warga pengguna jalan raya di Jl. Raya Bogor dari arah Cibubur sebelum Mapolsek.

“SETARA Institute mengutuk keras tindakan brutal yang dipertontonkan sejumlah orang. Perilaku mereka merupakan kebiadaban terhadap aparat keamanan negara dan warga sipil. Tindakan melawan hukum dan main hakim sendiri yang dipertontonkan, jelas mengganggu tertib sosial dalam negara demokrasi dan negara hukum. Mereka juga merusak dan mengancam keselamatan masyarakat, utamanya warga sipil,” tegas Hendardi, Ketua SETARA Institute dalam Siaran Persnya yang diterima Poskota.co Sabtu (29/8/2020).

Ditegas Hendardi, jika benar oknum anggota terlibat dalam peragaan kekerasan ini, maka berulangnya peristiwa kekerasan yang diperagakan oleh sejumlah oknum anggota salah satunya disebabkan karena anggota terlalu lama menikmati keistimewaan dan kemewahan (previlege) hukum karena anggota tidak tunduk pada peradilan umum.

Tim gabungan Polda Metro Jaya mendatangi Polsek Ciracas untuk mengusut penyerangan yang terjadi pada terjadi Sabtu (29/8/2020) dini hari.

Reformasi anggota juga tampak hanya bergerak di sebagian aras struktural tetapi tidak menyentuh dimensi kultural dan perilaku anggota. Kemandekan reformasi, telah menjadikan anggota immun dan terus merasa supreme menjadi warga negara kelas 1. Kebiadaban yang diperagakan pada (28/8) telah menggambarkan secara nyata kegagalan reformasi, ujarnya.

Kata Hendardi, Previlege dan immunitas yang sama juga akan terjadi ketika anggota melalui Rancangan Peraturan Presiden (RPerpres) Tugas anggota dalam Mengatasi Aksi Terorisme jadi disahkan oleh Presiden Jokowi. Tidak bisa dibayangkan, atas nama memberantas terorisme, kebiadaban dan unprofessional conduct seperti diperagakan dalam peristiwa terbaru ini akan menjadi pemandangan rutin dan dianggap benar oleh peraturan perundang-undangan. Performa penanganan tindak pidana terorisme akan bergeser menjadi peragaan anarkisme kelompok yang dilegitimasi hukum tanpa mekanisme akuntabilitas yang adil.

“Tidak ada pilihan lain bagi aparat hukum untuk mengusut tuntas kekerasan dan kebiadaan pada (28/8) itu, termasuk kemungkinan meminta pertanggungjawaban oknum jika terlibat. Tidak boleh muncul kesan dari institusi dan pihak manapun untuk memaklumi apalagi melindungi perilaku biadab yang dipertontonkan secara terbuka tersebut. Rule of law harus menjadi panglima untuk mewujudkan tertib hukum dan tertib sosial,” pintanya.

Hendardi meminta, Presiden Jokowi dituntut untuk kembali mendorong gerbong reformasi yang menunjukkan arus balik, termasuk membatalkan rencana pengesahan RPerpres Tugas TNI dalam Menangani Aksi Terorisme dan memprakarsai revisi UU 31/1997 tentang Peradilan Militer dengan agenda utama memastikan kesetaraan di muka hukum.

Bagi anggota TNI yang melakukan tindak pidana umum harus diadili di peradilan umum, sebagaimana umumnya anggota masyarakat lain, tutupnya. (Lian TambuN)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *