taher 12/07/2018

POSKOTA.CO – Anggota MPR RI Rahmad Handoyo mengingatkan kembali, cara yang paling ampuh menangkis intregasi bangsa adalah dengan mengedepankan nilai-nilai luhur empat pilar. Kekuatan empat pilar, yakni Pancasila, Bhineka Tunggal Ika, NKRI dan UUD 1945 yang merupakan falsafah hidup berbangsa dan bernegara, sudah terbukti ampuh merawat keberagaman.

“Nilai-nilai empat pilar yang tak pernah lekang oleh zaman. Karena itu empat pilar harus kita bumikan terus menerus dalam kehidupan bermasyarakat,” kata Rahmad Handoyo saat menggelar sosialisasi empat pilar di Desa Pepe Kecamatan Ngawen Kabupaten klaten Provinsi Jawa Tengah, Rabu 6 Juni 2018.

Dalam pertemuan yang dihadiri berbagai kelompok tani, perangkat desa tersebut, Rahmad Handoyo, politisi PDI Perjuangan daerah pemilihan (dapil) Jateng V, (Boyolali, Solo, Klaten dan Sukoharjo) ini mengatakan , kekuatan empat pilar adalah perekat keberagaman yang harus terus menerus diimplementasikan.

“Empat pilar kebangsaan begitu penting untuk terus dimaknai dan diimplementasikan dalam kehidupan. Jika tidak, nilai-nilai luhur empat pilar dalam Pancasila, UUD 1945, NKRI dan Bhineka Tunggal Ika, bisa luntur,”kata Rahmad Handoyo.

Rahmad Handoyo mengatakan, saat ini mulai muncul upaya yang mengarah disintegrasi bangsa. Namun, Rahmad Handoyo meyakini, kalau semua masyarakat memahami arti pentingnya empat pilar kebangsaan, maka upaya tersebut tidak akan berhasil. “Salah satu bentuk implementasi empat pilar, misalnya bijak memberikan komentar lewat media sosial,” kata Rahmad Handoyo.

Menurut Rahmad Handoyo, kegiatan sosialisasi empat pilar kebangsaan yang digelar di Desa Pepe, Ngawen, Klaten, Jawa Tengah ini, merupakan agenda rutin MPR. MPR sangat perlu memberikan sosialiasi empat pilar kebangsaan kepada seluruh masyarakat Indonesia.

Diharapkan, para kelompok tani dan para perangkat desa nantinya bisa menjelaskan lebih lanjut terkait empat pilar kebangsaan kepada masyarakat di lingkungannya masing-masing. Misalnya disampaikan dalam pertemuan warga dan pertemuan arisan rutin atau ibu-ibu PKK. *

Leave a comment.

Your email address will not be published. Required fields are marked*