oleh

Pontjo Sutowo: Tanpa Pembudayaan yang Sungguh-Sungguh, Pancasila Akan Jadi Pepesan Kosong

POSKOTA.CO-Anggota Dewan Pakar Aliansi Kebangsaan Yudi Latief meluncurkan buku tentang Wawasan Pancasila. Buku yang memiliki cakupan yang komprehensif tentang pembudayaan Pancasila tersebut dinilai sebagai karya yang bernilai sangat tinggi.

“Pembudayaan Pancasila dalam segala ranah pembangunan sangat diperlukan. Oleh karena itu saya setuju dengan pernyataan Bung Yudi Latief, bahwa tanpa usaha sengaja, sungguh-sungguh dan konsisten untuk melakukan pembudayaan bisa saja suatu saat Pancasila hanya akan jadi pepesan kosong,” kata Ketua Aliansi Kebangsaan Pontjo Sutowo pada acara webinar membedah buku Wawasan Pancasila.

Menurut Pontjo, Pancasila sebagai modal sosial (social capital) yang sangat berharga bagi bangsa Indonesia harus terus menerus dibudayakan secara sadar oleh seluruh bangsa Indonesia utamanya oleh pemegang otoritas kekuasaan.

Dengan cakupan yang komprehensif, penjelasan yang mendalam serta argumentasi dan relevansi yang kuat, buku karya Yudi Latief tersebut bisa menjadi penuntun baik untuk kepentingan studi Pancasila maupun panduan praktis pembangunan nasional.

Kegagalan suatu negara tidak terjadi secara tiba-tiba. Karena itu pembudayaan Pancasila ke dalam ranah tata nilai, tata kelola, dan tata sejahtera harus terus menerus dilakukan secara sadar, terencana, sistematis, terarah dan berkelanjutan yang dapat dilakukan melalui tuntunan buku ini.

Bangsa Indonesia sendiri lahir dari adanya kesadaran dan pengakuan atas perbedaan-perbedaan sebagai kondisi obyektif bangsa. Pluralitas atau kemajemukan ini baik dalam hal etnis, agama, budaya, bahasa, kepentingan politik, bahkan ideology telah dicarikan titik temu nya oleh para pendahulu bangsa.

Kehendak untuk hidup bersama yang diikrarkan dalam sumpah pemuda 1928 ini, lanjut Pontjo, merupakan janji kebangsaan yang menandai adanya loncatan peradaban yaitu sebuah transformasi kultural dari nasionalisme etnis menjadi nasionalisme madani. Melalui proses panjang, akhirnya janji kebangsaan tersebut menjadi kesepakatan politik para pendiri bangsa dan mengukuhkan Pancasila sebagai sebagai penuntun dalam membangun identitas bersama dan menjalankan kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

Bangsa Indonesia harus bersyukur karena memiliki Pancasila yang bisa dipedomani sebagai rujukan untuk mendorong proses transformasi struktur dan kultur demi terwujudnya common domain identitas keindonesiaan tanpa menegasikan identitas etnisitas dan identitas lainnya. Ponjto berkeyakinan bahwa dengan Pancasila yang dihayati, dipahami dan dilaksanakan secara jujur, benar dan bertanggungjawab , semua kecenderungan negative destruktif yang dapat meruntuhkan bangunan bangsa dan negara dapat dicegah.

Kebangkitan dan kemajuan tanpa tak akan bisa jika tidak diusahakan secara sengaja dan penuh kesadaran. Lewat pengalaman sejarah perjuangan bangsa, ternyata untuk menumbuhkan kesadaran itu memerlukan keutamaan budi yang dapat menyatukan pikiran, perasaan serta kemauan dalam spirit kolektif. (fs/sir)

 

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *