harmono 24/11/2018

Oleh: Dwi Arifin

KETIDAKPASTIAN di bidang pertanian merupakan hal yang setiap hari petani rasakan. Kenyataan pahit ini membuat petani harus mengambil keputusan yang berkaitan dengan risiko dan ketidakpastian. Hal ini dipicu karena tidak mengetahui apa yang akan terjadi pada masa yang akan datang. Dalam pengambilan suatu keputusan terdapat banyak kemungkinan kejadian, bergantung pada faktor-faktor lain di luar kemampuan petani untuk mengontrolnya.

Permasalahan petani dari menanam sampai panen kerapkali membuat petani tak pernah memancarkan rona senyuman di wajahnya. Melainkan bagaimana keputusan diambil petani mampu mengurangi risiko yang dihadapinya.

Dari permasalahan benih, petani mengharapkan, pemerintah bisa memfasilitasi petani agar bisa menghasilkan benih sendiri atau didorong terbentuknya kebun benih desa. Petani juga meminta penyuluhan dilaksanakan secara berkelanjutan.

Permasalahan pertanian Indonesia salah satunya yaitu lahan di mana setiap tahunnya selalu mengalami penurunan, berdasarkan Badan Pusat Statistik (BPS) menyebut luas lahan baku sawah terus menurun. Data pada 2018, luas lahan tinggal 7,1 juta hektare, turun dibanding 2017 yang masih 7,75 juta hektare.

Angka luas lahan tersebut diperoleh dengan metodologi Kerangka Sampel Area (KSA) menggunakan data hasil citra satelit Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) dan Badan Informasi Geospasial (BIG). Kepala BPS Suhariyanto mengatakan, penurunan luas lahan tersebut dipicu oleh gencarnya alih fungsi.

Direktur Direktorat Kajian Strategis dan Kebijakan Pertanian IPB Dodik Ridho Nurrochmat mengatakan, masalah pertama di dunia pertanian Indonesia adalah lahan produksi yang sempit, dikarenakan lahan daratan di Indonesia lebih kecil dibanding lautan. Sehingga, menurut Dodik, harus diupayakan pertanian yang modern (corporate farming) untuk menyiasati hal ini.

Corporate farming adalah suatu bentuk kerja sama ekonomi dari sekelompok petani dengan orientasi agribisnis melalui konsolidasi pengelolaan lahan sehamparan. Corporate farming tetap menjamin kepemilikan lahan pada masing-masing petani, sehingga efisiensi usaha, standardisasi mutu, dan efektivitas, serta efisiensi manajemen pemanfaatan sumber daya dapat dicapai (Dinas Pertanian, 2000 dalam Musthofa dan Kurnia, 2018).

Petani harus berusaha untuk menghadapi hasil produksi yang senantiasa berubah-ubah dalam masa panen disebabkan karena kejadian yang tidak terkontrol. Biasanya disebabkan oleh kondisi alam yang ekstrem seperti curah hujan, iklim, cuaca, dan serangan hama dan penyakit. Produksi juga harus memperhatikan teknologi tepat guna untuk memaksimumkan keuntungan dari hasil produksi optimal.

Risiko paling besar dihadapi petani merupakan ketidakpastian harga. Volatilitas harga input dan output merupakan sumber penting dari risiko pasar di bidang pertanian. Harga pertanian cenderung berubah, dan tidak memiliki kestabilan, serta tidak adanya kepastian. Variabilitas harga berasal dari pengaruh pasar baik pasar endogen maupun eksogen. Perubahan yang terjadi di pasar akan dipengaruhi oleh kondisi permintaaan ataupun penawaran. Jika jumlah barang yang ditawarkan lebih sedikit dibandngkan jumlahnya barang yang diminta maka secara otomatis harga menjadi anjlok, sedangkan secara global pasar akan dipengaruhi secara signifikan oleh dinamika produksi internasional. Perubahan harga yang dihadapi oleh pelaku pertanian akan memepengaruhi minat dan kesediaan mereka untuk memproduksi suatu jenis komoditi.

Penyebab ini yang mengakibatkan regenerasi pertanian bermasalah, kerap menjadi momok masyarakat enggan menjadi petani. Masyarakat berbondong-bondong meninggalkan ciri agrarisnya, sebab menganggap tak ada lagi penghidupan layak di dalamnya.

Empat tahun silam, Badan Pusat Statistik (BPS) menerbitkan laporan bertajuk Sensus Pertanian. Di dalam salah satu bagian publikasinya, BPS mendata jutaan petani di Indonesia dalam kelompok usia. Dari total 26.135.469 petani yang saat itu terdata, kelompok usia 45-54 tahun memiliki jumlah absolut terbanyak 7.325.544 orang.

Jumlah terbesar kedua pada kelompok usia 35-44 tahun (6.885.100 orang), serta jumlah ketiga dan keempat pada kelompok usia lebih tua lagi, yakni 55-64 tahun (5.229.903 orang). Sementara kelompok usia lebih dari 65 tahun sebanyak 3.332.038 petani.

Adapun jumlah petani muda di kelompok 25-35 sebanyak 3.129.644 orang. Semakin usia ke bawah pun semakin sedikit. Pada kelompok usia 15-24 tahun, jumlah petani hanya 229.943 orang. Jumlah paling sedikit pada kelompok di bawah usia 15 tahun, yakni 3.297 orang.

Angkatan muda yang emoh mengolah lahan membuat jumlah petani menyusut hingga 5 juta orang. Jika diringkas, 60,8 persen petani di Indonesia berada dalam usia di atas 45 tahun. Usia produktif seseorang sudah menurun cukup drastis pada usia sepuh seperti itu. Apalagi 73,97 persennya berpendidikan hanya sampai SD. Daya saing mereka tentu lebih rendah dalam strategi bertani gaya modern.

Tak hanya kalangan petani yang sudah terlalu tua. Sebanyak 70 persen petugas PPL (Penyuluh Pertanian Lapangan), POPT (Pengamat Organisme Pengganggu Tanaman) rata-rata berusia di atas 50 tahun. (Penulis adalah Mahasiswa Program Studi Ekonomi Pembangunan IPB, 2017)

 

Leave a comment.

Your email address will not be published. Required fields are marked*