oleh

Pendidikan Moral dan Spiritual Jadi Perhatian Bersama Menjaga Anak-Anak dari Bahaya Narkoba

-Nasional-135 views

POSKOTA.CO – Memperingati Hari Anak Nasional (HAN) pada 23 Juli 2020, Paguyuban Media Online (Pameo) didukung oleh Perkumpulan Multimedia Transformasi Indonesia (Matra Id), dan Dewan Pimpinan Pusat Gerakan Angkatan Muda Kristen Indonesia (DPP Gamki), mengadakan Diskusi Online Hari Anak Nasional 2020, bertajuk “Doostop” (Dialog dan Orientasi Topik Pilihan) bersama Deputi Pemberantasan BNN Irjen Pol Drs Arman Depari, dengan topik “Menyelamatkan Anak Bangsa dari Bahaya Narkoba”, via aplikasi Zoom Meeting, Kamis (23/7/2020).

Menyikapi persoalan narkotika hingga saat ini masih menjadi persoalan bangsa yang sangat serius dan perlu menjadi perhatian bersama para komponen bangsa tanpa terkecuali. Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) Komisiaris Jenderal Pol Drs Heru Winarko SH mengatakan, angka penyalahgunaan narkoba pada kalangan pelajar, mencapai angka 2,29 juta orang (survei 13 ibu kota provinsi di Indonesia, 2018-red), ini adalah realitas yang perlu menjadi perhatian bersama terkait masalah anak Indonesia, termasuk di dalamnya kalangan pelajar.

Untuk itulah dalam rangka memperingati Hari Anak Nasional Tahun 2020, dengan mengusung tema “Anak Terlindungi, Indonesia Maju”, dan dalam semangat Hari Anti Narkotika Internasional (HANI) tahun 2020, yang bertemakan “Hidup 100 Persen di Era New Normal Sadar, Sehat, Produktif dan Bahagia Tanpa Narkoba”, serta sebagai wujud apresiasi upaya penanggulangan bahaya narkoba, khususnya yang dilakukan oleh BNN, dan sebagai dukungan moral terhadap kinerja pemberantasan narkoba yang dipimpin Deputi Pemberantasan BNN Irjen Pol Drs Arman Depari.

Hadir sebagai pembicara kegiatan tersebut di antaranya Deputi Pemberantasan BNN Irjen Pol Drs Arman Depari, mantan Deputi Operasi Kapolri dan Ketua Umum Organisasi Bersama Mayjen Pol (Purn) Drs Putera Astaman, mantan Kabareskrim dan juga mantan Kepala BNN Komjen Pol (Purn) Dr Anang Iskandar, aktivis anak dari Yayasan KDM dan Sahabat Anak Benny Lumy, Dosen Fispol UKI dan Kabid Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak DPP Gamki Helen Simarmata, serta Dosen Uhamka dan pemerhati hukum Ramdhansyah Bakir.

Untuk itu, Paguyuban Media Online (Pameo) sangat mengapresiasi kehadiran tiga tokoh penting dalam hal penanganan bahaya narkoba, dalam diskusi online Hari Anak Nasional 2020, yakni Mayjen Pol (Purn) Drs Putera Astaman (ketua umum Organisasi Bersama, mantan Deputi Operasi Kapolri), Komjen Pol (Purn) Dr Anang Iskandar (mantan Kabareskrim dan juga mantan Kepala BNN), dan Irjen Pol Drs Arman Depari Deputi Pemberantasan BNN.

Deputi Pemberantasan BNN Arman Depari mengatakan, sejumlah fakta bahwa prevalensi penyalahgunaan narkoba tahun 2020 sebesar 3,7016 juta jiwa (1,88 persen), saat ini terdapat 892 narkotika jenis baru zat psikoaktif (new psychoactive substances-NPS) di dunia, sementara itu 76 NPS di antaranya beredar di Indonesia, yakni 72 NPS terdaftar dalam lampiran Permenkes Nomor 5 Tahun 2020, sedangkan empat jenis NPS belum diatur Permenkes.

Dalam perkembangan teknologi informasi, Arman Depari mengungkapkan, adanya tren ancaman teknologi informasi (siber) terhadap penyalahgunaan narkoba, yakni peredaran narkoba dilakukan melaui media sosial dan website, peredaran narkoba dilakukan melalui jaringan internet tersembunyi yang sangat sulit dilacak, transaksi menggunakan crypto-currency melalui internet.

“Tren ancaman tersebut, tidak mudah dilacak, identitas tersembunyi, dan perkembangan teknologi akan menciptakan celah bagi pelaku kejahatan, memproduksi ataupun mengedarkan narkoba dengan lebih mudah, murah dan tidak terdeteksi,” katanya.

Dijelaskan Arman Depari, perlu menjadi perhatian bersama dalam menjaga anak-anak dari bahaya narkoba yakni, waktu (orang tua menyediakan waktu untuk mendengarkan anak, berdialog dengan anak-anak). Pantauan (orang tua memantau langsung aktivitas anak, sehingga tetap dalam jangkauan orang tua). Pendidikan moral dan spiritual (memberikan pendidikan bernilai moral dan spiritual, sehingga remaja akan tumbuh menjadi anak yang memiliki pertahanan diri dari pengaruh lingkungan yang negatif.

“BNN mempunyai tiga langkah penanggulangan masalah narkoba, yakni pencegahan, pemberantasan, dan rehabilitasi,” ujar Arman Depari.

Di sisi lain, Mayjen Pol (Purn) Drs Putera Astaman, saat ini adalah ketua umum Organisasi Bersama (Badan Kerja Sama Sosial Usaha Pembinaan Warga Tama), mengemukakan, bahwa razia-razia narkoba di tempat-tempat hiburan yang dilakukan Deputi Pemberantasan BNN Irjen Pol Drs Arman Depari, adalah tindakan projustitia.

“Razia narkoba melakukan juga tes urine, akan ketahuan siapa yang menggunakan/mengonsumsi narkoba. Sebaiknya pemeriksaan seperti ini, tes urine kepada pekerja maupun pengunjung tempat-tempat hiburan, dilakukan oleh pemilik/pengelola tempat hiburan,” katanya.

Sebagai praktisi hukum juga pengajar pada Universitas Buya Hamka (Uhamka) Jakarta Ramdhansyah Bakir memandang, perlunya memasukkan pengetahuan bahaya narkoba dalam kurikulum sekolah, sebagai upaya pencegahan penyalahgunaan narkoba.

“Pencegahan dilakukan untuk membuat anak mengetahui bahaya narkoba, hal ini dapat dilakukan dengan bekerja sama sejumlah lembaga, secara khusus sebagai bagian dari upaya memperkuat kota ramah anak,” terangnya.

Di sisi lain sarjana kriminologi FISIP UI ini, memandang perlu agar pencegahan juga dilakukan dengan memperluas larangan merokok di tempat tempat yang berhubungan dengan anak selain di sekolah, seperti RPTRA, dan lain-lain.

Untuk itu Ramdhan mengingatkan agar kita dapat melindungi anak-anak, dari peredaran narkoba yang disamarkan dalam bentuk makanan atau minuman untuk anak. “Termasuk anak-anak jalanan perlu juga mendapat perlindungan, agar tidak menjadi konsumen dan pengedar narkoba,” tegasnya.

Pria kandidat doktor yang juga penggiat sosial kemasyarakatan, mengemukakan, anak yang tersangkut kasus narkoba, sebagai korban narkoba, perlu adanya perlindungan hak anak untuk tidak diekspos media, mereka pelu mendapat perhatian serius dan fokus terhadap rehabilitasi anak-anak korban penyalahgunaan narkoba.

Sementara itu Helen Simarmata dari DPP Gamki menyampaikan, bahwa edukasi dan penyuluhan narkoba harus gencar dilakukan, terutama kepada orang tua, agar mereka tanggap terhadap perubahan yang ditunjukkan oleh anak mereka
era adaptasi kebiasaan baru (AKB) menjadi titik awal, membangun kesadaran orang tua dan seluruh anggota keluarga, untuk menciptakan suasana harmonis dan saling mendukung serta menjaga satu sama lain.

Helen mengemukakan, bahwa rehabilitasi khusus anak pengguna narkoba harus melibatkan orang tua, karena mereka membutuhkan dukungan dan perhatian yang besar dari orang tua untuk menata kembali hidupnya.

“Proses rehabilitasi bisa berhasil apabila ada keinginan dari pengguna untuk berubah, sehingga kemungkinan untuk kembali jadi pengguna sangat kecil,” terang Helen yang juga dosen Fisipol UKI.

“Mantan pengguna sebaiknya dipindahkan ke lingkungan baru yang lebih sehat, dan sebisa mungkin orang tua dan keluarga tidak mengungkit lagi kesalahan yang pernah dilakukan,” pungkas perempuan mahasiswa S3 YGM ini. (lian tambun)

 

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *