oleh

Menjunjung Tinggi Budaya Daerah

-Nasional-41 views

POSKOTA.CO – Meski saya sudah punya cucu dan tidak muda lagi, sebagai muslim saya masih punya kesempatan untuk pindah agama, menjadi Kristen, Katolik, Buddha, Hindu, Kejawen, aliran kepercayaan atau agama asli Indonesia lainnya. Atau memutuskan untuk tidak beragama sama sekali. Bisa saja.

Dan meski tak lama lagi saya menjadi manula, dengan ketrampilan pas-pasan, dengan dukungan koneksi dan teman selama ini, saya masih bisa pindah kewarganegaraan menjadi warga Malaysia, Tiongkok, Amerika, Australia, atau negara lainnya yang saya mau.

Yang tidak bisa saya ubah adalah wujud saya sebagai orang Jawa, ras Melayu, kulit sawo matang. Karena memang saya lahir di tanah Jawa, dibesarkan dalam budaya Jawa. Saya tidak bisa membule-bulekan diri, mentiongkok-tiongkokan diri atau mengarab-arabkan diri. Menjadi bagian dari ras lain.

Dan saya tidak melupakan kejawaan saya, meski 45 tahun terakhir tinggal di Ibu Kota dan pinggirannya.

Oleh karena itu, saya tidak bisa menerima setiap upaya penghinaan terhadap budaya dan tradisi Jawa, tempat saya lahir, dididik dan dibesarkan.

Sama tidak terimanya saya terhadap upaya penghinaan kepada budaya saudara saudara saya dari Pasundan, Betawi, Madura, Bali, Dayak, Bugis, Ambon Papua, Batak, Minang dan daerah lainnya. Pokoknya semua yang ada di Indonesia.

Saya sungguh ingin negara, melalui aparatnya, bertindak pada setiap upaya pelecehan pada budaya daerah dan budaya Indonesia. Siapa pun pelakunya.

Agresivitas hegemoni budaya Arab, yang berkedok dakwah agama, budaya Amerika dan Korea serta negara luar lainnya, dalam kemasan hiburan tidak bisa diterima tanpa perlawanan (counter culture) atau pembelaan diri.

Indonesia adalah negara berdaulat dan budaya daerah menjadi kekayaan serta penopangnya.

Jangan sampai pembiaran atas aksi pelecehan terhadap budaya daerah membuat generasi muda kita malu menjadi orang Jawa, malu jadi orang Sunda, orang Batak, Minang dan orang daerah lainnya.

Aparat negara adalah orang orang seperti saya, seperti kita: berkulit sawo matang, ras Melayu (atau Melanesia) dan dibesarkan di daerah. Saat yang tepat untuk menegakkan identitas diri, sebagai bagian dari negara ini. Karena kita punya kehormatan dan harga diri. Kecuali kalau polisi kita sudah jadi bagian dari polisi Arab dan negara lain.

Negara dan hukum negara harus berpihak warga pecinta budaya sendiri, khususnya generasi muda daerah yang membanggakan budaya daerahnya dalam bingkai NKRI. Karena itu identitas kita. (supriyanto)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *