oleh

Maruarar Sirait: Jokowi Itu Demokratis, Tidak Otoriter

POSKOTA. CO – Dukungan politik baik di Senayan maupun masyarakat atas pemerintahan Presiden Joko Widodo dan KH Maruf Amin sangat kuat.

Di DPR RI, secara kuantitatif mayoritas kekuatan dari partai politik yang lolos ke Senayan juga mendukung dan berada di barisan pemerintah.

Hal ini disampaikan Maruarar Sirait, Ketua Umum Taruna Merah Putih (TMP). Namun Ara, demikian Maruarar disapa menyebutkan, bahwa dengan dukungan politik yang begitu kuat dan besar, Jokowi selaku Presiden, tak berlaku otoriter.

Ara menguatkan argument nya dengan menjelaskan, pemerintahan Jokowi sangat terbuka menerima kritikan dan masukan.

“Presiden Jokowi adalah seorang pemimpin yang sangat demokratis. Walau dukungan politik kuat, presiden tidak otoriter. Lihat saja, masyarakat masih bisa menyampaikan pendapat dan aspirasi dengan bebas selama tak melanggar hukum,”ujar Ara,  Jumat (21/8/2020) malam.

Ara yang pernah duduk di parlemen Senayan ini mencontohkan, masih ada elemen masyarakat yang menggelar demo di Monas, depan Istana dan dimana-mana dengan tenang.

“Ini menandakan Presiden Jokowi jauh dari sikap otoriter,”tegas Ara.

Terkait Koalisi Aksi Menyelamatkan Indonesia (KAMI) yang mendeklarasikan diri beberapa hari lalu di Tugu Proklamasi Jakarta, Ara menjawab dengan ringan dan santai.

“Bagus-bagus saja untuk check and balances. Pemerintah kan perlu check and balances juga. Jokowi demokratis kok. Jokowi lahir dari proses yang demokratis,”kata Ara.

Bagi Ara, dalam sistem negara yang demokratis, keseimbangan itu diperlukan. Apalagi sistem demokrasi di Indonesia juga mengadopsi trias politika, dengan tetap berdasar pada demokrasi yang tumbuh dari akar kebudayaan Indonesia itu sendiri.

“Sah-sah saja bila ada kritik yang disampaikan secara obyektif. Misalnya memberikan masukan pada apa-apa yang kurang dari kebijakan pemerintah, serta di saat yang sama juga mengapresiasi kebijakan dan kinerja pemerintah yang baik dan benar,” kata Ara, dengan nada santai.

Ara memahami betul bahwa pemerintah tidak mungkin sempurna 100 persen, dan pasti ada kekurangannya. Sebab hanya Tuhan-lah yang maha sempurna.

“Pendukung Jokowi yang kritis dan obyektif juga ada, dengan tetap loyal. Mari sama-sama menjadi pendukung dan oposisi yang baik bagi bangsa dan negara,”pinta Ara sambil menambahkan, harus ada rasa saling menghormati dalam kerangka demokrasi dan obyektifitas baik oleh pendukung maupun oposisi.

“Indonesia merupakan negara yang menjunjung tinggi hukum. Maka itu, jangan melanggar hukum, jangan fitnah, jangan melanggar UU ITE atau menjadi personal. Boleh bicara bebas namun harus bertanggung jawab. Silakan bebas menyampaikan aspirasi, tapi kalau melanggar hukum, ya harus tanggung jawab,” tegasnya. (yopi/sir)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *