oleh

KITA: Bergerak Membantu Pemerintah agar Lebih Transparan dan Tetap Bersatu

-Nasional-66 views

POSKOTA.CO – Kerapatan Indonesia Tanah Air (KITA) adalah koalisi independen yang menyemai, mengembangkan dan melestarikan Tanah Air Indonesia sebagai bagian dari diri, identitas dan masa depan bersama. KITA bergerak dalam politik kesadaran.

KITA berusaha membangun masyarakat ‘yang terbayang’ (imagined community), Indonesia yang kreatif dan berkelanjutan. Peradaban Nusantara yang kaya dan beragam, merupakan alas pembentukan Indonesia, sebagai negara dan bangsa yang ditenun atas asas kemanusiaan yang adil dan beradab. Kerapatan artinya kepekatan, kekentalan, soliditas. Kerapatan berarti juga masa, density, jarak dekat.

Istilah kerapatan ini pertama kali digunakan dalam Kerapatan Pemuda 1927, hingga Kerapatan Pemuda 1928 yang melahirkan Sumpah Pemuda. Kerapatan adalah istilah lama yang akan ditafsirkan secara baru, justru pada saat pandemi Covid-19 sekarang kita diminta berjarak. Proses pembentukan negara Indonesia selama revolusi kemerdekaan 1945-1949, dari individu yang terpecah dan suku yang berpisah merapat menjadi satu, membangun masyarakat terbayang (imagined society) Indonesia.

KITA mengikat moralitas dan tanggung jawab kebangsaan untuk terus bersama menyelesaikan seluruh persoalan bangsa dan negara ini. Ikatan yang berlatar belakang keragaman ini akan bersatu menjadi suatu kekuatan besar untuk menggerakkan perubahan yang mendasar dalam semangat gotong-royong. Untuk itu Kerapatan Indonesia Tanah Air (KITA) Medan mendeklarasikan diri dalam rangka bergerak membantu pemerintah agar negara lebih transparan dan tetap bersatu. KITA membuat komitman bergerak membangun mengritik bangsa berbasis data dan melibatkan tokoh bangsa serta generasi muda.

Reposisi KITA adalah:

  1. KITA mentransformasi relawan Jokowi-Amin menjadi wirabangsa Indonesia.
  2. KITA adalah gerakan politik kesadaran yang tidak akan pernah menjadi partai politik.
  3. KITA adalah kalyana mitra, teman sejati bagi semua pihak untuk mengawal tujuan berbangsa dan bernegara.

KITA dideklarasikan di Gedung Joeang 45, Jalan Menteng 31 Jakarta Pusat, Rabu 19 Agustus 2020. Deklarator KITA di antaranya, Dr KH Abun Bunyamin, Widodo Siswohadi, Taufik Rahzen, Pdt Jhon Soukha, Maman Imanulhaq, Ayep Zaki, Nirmala Firdaus, Yongla Patria dan Camelia Panduwinata.

Deklarasi KITA Medan dilaksanakan di depan Monumen Pahlawan Nasional Sisingamangaraja XII di Jalan Sisingamangajara Medan, Kamis (27/8/2020). Yang dihadiri langsung oleh koordinator KITA Kiai Maman Imanulhaq, dan sejumlah tokoh lintas agama.

Disampaikan Kiai Maman Imanulhaq, kenapa dipilih Kota Medan dalam deklarasi, karena Medan memiliki karakter masyarakat yang terbuka penuh optimisme.
“KITA mengritisi pemerintah dengan kontruktif, dengan data dan dengan kerja. Bukan dengan sesuatu yang pisimistis melakukan pembelahan,” jelas Maman.

“Intinya, KITA Indonesia siapa pun itu, KITA harus meletakkan itu pada konsep mencintai Indonesia. Masyarakat Indonesia harus bersatu tanpa membedakan suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA). Jadi Indonesia adalah mengakui bahwa KITA betul-betul satu saudara apa pun asal-usul kita, apa pun asal-usul agama dan lain sebagainya, KITA diyakinkan oleh seluruh pendiri bangsa ini bahwa kalau KITA yakin bersatu maka kita wajib bersatu,” sambungnya.

Sementara itu salah satu deklarator KITA (Kerapatan Indonesia Tanah Air) Camelia Panduwinata kepada POSKOTA.co menjelaskan, arti Kerapatan Indonesia Tanah Air tujuannya, dilaksanakan di Sumatera Utara karena awalnya di Jakarta pada tanggal 17 Agustus 2020 akhirnya secara tidak sengaja, lahir sembilan deklarator.

“KITA bertujuan untuk menyampaikan, merapatkan seluruh rakyat Indonesia yang peduli terhadap Indonesia, dan situasi pada saat ini untuk menyatukannya. Kenapa akhirnya dibuat di Medan, karena masyarakat Sumatera Utara yang sangat peduli dan optimisme tinggi terhadap perjuangan perjuangan dan banyaknya tokoh bangsa yang peduli terhadap Indonesia ke depannya. Sehingga, dideklarasikan di Medan, yakni di Monumen Sisingamangaraja XII,” tuturnya, Jumat (28/8/2020).

Dari pandangan Camelia yang juga seorang pengusaha ini, kiranya KITA dapat mengeluarkan ide-ide kreatif. Yang mendukung pemerintah dan juga mengritik pemerintah, apabila pemerintah keluar dari jalur yang sesuai dengan landasan Pancasila.

Saat bersamaan juga diluncurkan lagu KITA. Adapun isi dari lagu itu, kata Camelia, adalah pesan-pesan politik dan pesan-pesan moral kepada masyarakat Indonesia untuk lebih mencintai Indonesia.

“Pesannya sangat dalam, mudah-mudahan bisa diterima melalui lagu. Itulah tujuan KITA dari berbagai sisi, KITA akan melakukan hal-hal kreatif untuk Sumatera Utara, terutama KITA berencana juga di Kota Medan membuat pesantren melodia yang isinya nanti keluar para cendekiawan muda yang bisa bernyanyi dan memberikan kontribusi pikirannya melalui seni dan budaya. Menyiarkan lagu-lagu yang berlandaskan islami, dan juga berlandaskan Indonesia,” ungkapnya. (lian tambun)

 

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *