oleh

Keris Jawa di Masa Damai

-Nasional-137 views

POSKOTA.CO – Orang-orang Jawa menempatkan keris di punggung sebagai penanda bahwa negara sedang berada di masa damai. Menempatkan di punggung juga dalam rangka menghilangkan sikap ancaman pada siapa pun. Menghormati orang lain. Khususnya tamu.

Filosofi lain yang diajarkan membawa keris di belakang tubuh adalah pantang bagi orang Jawa untuk menunjukkan kesaktiannya.

Di masa kini, pemandangan itu – pakai keris di depan atau terhunus – tak pernah nampak kecuali dalam adegan sendra tari – karena sudah lama
kita tidak perang. Hal itu tak dipahami oleh ustadz dungu dan picik seperti Tengku Zulkarnaen.

Entah bagaimana ustaz penyebar hoaks berkedok agama yang punya jabatan di MUI – tapi minim pemahaman budaya dan antropologi – bicara tentang keris Jawa dan membuat pembanding dengan keris daerah lain. Dia sudah dilaporkan ke polisi karena karena berpotensi adu domba akibat lancang mendiskreditkan budaya Jawa, keris Jawa dan ustaz Jawa dalam salah satu acara ceramahnya.

Pada masa perang, keris ditempatkan di pinggang depan. Bahkan terhunus. Siaga. Membawa keris di depan, artinya orang tersebut sudah siap mati dalam membela apa yang dipercaya dan dimiliki. Sebagaimana nampak pada lukisan Pangeran Diponegoro yang senantiasa menaruh kerisnya di depan dalam menghadapi Belanda. Hal tersebut menunjukkan bahwa Pangeran Diponegoro sedang melawan penjajahan Belanda.

Pada zaman kerajaan dulu, meletakkan keris di belakang merupakan simbol kepatuhan kawula dan bupati terhadap raja. Sebab meletakkan
keris di depan artinya sedang menunjukkan sikap perlawanan. Bahkan memberontak kepada raja.

Keris diletakkan di belakang juga karena faktor kenyamanan. Dahulu kala, mereka yang menghadap raja harus berjalan jongkok. “Mbebek”.

Agar lebih mudah maka keris diletakkan di belakang, sehingga prosesi “mbebek” tidak terganggu.

Di masa damai, kini, orang orang Jawa menggunakan keris hanya sebagai kelengkapan busana upacara kebesaran, acara adat, acara seni budaya atau saat temu pengantin. Maka keris yang ada punggung di balik jas hitam berlubang pun dihias dengan intan atau berlian pada pangkal hulu keris.

Bahkan sarungnya yang terbuat dari logam diukir sedemikian indah, berlapis emas berkilauan sebagai kebanggaan pemakainya.

Keris juga dihiasi dengan untaian bunga mawar melati yang dikalungkan pada hulu batang keris dengan filosofi, dengan membawa keris agar
jangan memiliki watak beringas, emosional, pemarah, adigang-adigung-adiguna, sewenang-wenang dan mau menangnya sendiri.

Dalam budaya Jawa, keris merupakan salah satu dari lima benda yang harus dimiliki oleh laki laki dewasa, sebagai simbol kemapanan.

“Limo perkoro kanggo joko merdeko yaiku: garwo, wismo, turonggo, curigo lan kukilo” (lima hal untuk lelaki sejati adalah: rumah, istri, kuda, senjata dan burung”.

Keris (curigo) merupakan simbol kesaktian dan keperkasaan ini berdampingan dengan empat benda lainnya yaitu Turangga (kuda atau kendaraan), Griya (rumah, tempat tinggal), Garwa (istri), dan Kukila (burung atau sarana hiburan).

Tentu saja di era milenial fungsi keris sebagai senjata telah digantikan oleh perangkat yang lebih sakti seperti smartphone, laptop,
ballpoint parker yang dengan tanda tangan ditorehkan bisa menghasilkan miliaran rupiah, mengucurkan pinjaman bank, atau bisa mengubah nasib banyak orang, mengantarkan ke sel penjara, membebaskan dari tahanan, lolos di imigrasi, atau membunuh orang.

Di sisi lain, keberadaan keris di masa kini menjadi karya artistik, bend koleksi bernilai tinggi, komoditi bisnis yang mahal harganya.
Juga sebagai jimat berkekuatan mistis dan diyakini bisa mendukung kekuasaan.

Keris-keris peninggalan masa Kerajaan Majapahit, misalnya, konon bisa bernilai miliaran rupiah. (supriyanto)

 

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *