oleh

Kemendikbud Imbau Daerah Tidak Tergesa-gesa Membuka Sekolah

-Nasional-98 views

POSKOTA.CO-Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) mengimbau masyarakat untuk bersama-sama bertanggungjawab mengawasi anak-anak agar menerapkan protokol kesehatan secara ketat di mana pun anak berada demi mencegah penularan Covid-19. Sementara itu terhadap para kepala daerah diimbau untuk tidak tergesa-gesa membuka sekolah di daerahnya.

“Klaster-klaster penularan Covid-19 antar anak,  semula dicurigai muncul di sekolah. Ternyata setelah ditelurusi di lapangan, anak tertular Covid-19 bukan di area sekolah,” kata Dr Suhartono Arham, Analis Kebijakan Ahli Madya Ditjen PAUD Dikdasmen, Kemendikbud pada media gathering Forum Wartawan Pendidikan kerjasama dengan Biro Kerjasama dan Hubungan Masyarakat (BKHM) Kemendikbud, Ahad (23/8/2020).

Menurut Suhartono, meski tertular di luar area sekolah, tetapi karena penularan Covid-19 muncul beriringan dengan kebijakan membuka sekolah, akibatnya sekolah dituding menjadi penyebab munculnya klaster Covid-19 pada anak-anak.

Desakan masyarakat untuk membuka sekolah diakui memang semakin menguat di tengah meningkatnya kasus Covid-19 di Tanah Air. Sejumlah kepala daerah bahkan telah berkirim surat permohonan kepada Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan meski daerah tersebut masuk kategori zona merah penyebaran Covid-19. Namun pihak Kemendikbud tetap berpatokan pada SKB 4 Menteri yang berlaku.

“Keinginan daerah untuk kembali membuka sekolah sangat besar meskipun kepala daerah menyadari masih zona merah,” ujarnya.

Keinginan kepala daerah membuka sekolah tersebut diakui Suhartono, tak lepas dari desakan masyarakat dalam hal ini orang tua. Umumnya, orang tua sudah kerepotan mengawasi anak-anak mengikuti pembelajaran jarak jauh (PJJ).

Pasalnya, tidak semua orang tua menguasai semua mata pelajaran yang diajarkan di sekolah. Itulah sebabnya  mengapa orang tua menjadi kerepotan.

Suhartono mengakui Kemendikbud dalam tiga hari terakhir ini telah melakukan monitoring ke daerah-daerah zona hijau dan zona kuning yang sudah mulai membuka pembelajaran temu muka (luring). Dari pengamatan di lapangan, semua satuan pendidikan telah menerapkan protokol kesehatan sangat ketat. Mulai dari keharusan siswa mengenakan masker, cuci tangan dan pembatasan jumlah siswa di kelas untuk menerapkan physical distancing. Pengawasan dan pendampingan pelaksanaan SKB 4 Menteri.

Sayangnya, meski sekolah telah menerapkan protokol kesehatan sangat ketat, tidak demikian di tengah masyarakat bahkan keluarga. Anak begitu keluar dari pagar sekolah, sudah melepaskan masker dan bermain secara bergerombol.

“Maskernya dimasukkan ke tas, untuk dipakai hari berikutnya. Satu masker kadang dipakai untuk sepekan. Ini jelas berbahaya,” tambah Suhartono. (*/fs )

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *