oleh

Kecam Keputusan Kepco, Aktivis Walhi dan Greenpeace Protes ke Kedubes Korsel

POSKOTA.CO – Puluhan pemuda dari Banten bersama aktivis dari Walhi Jakarta, Pena Masyarakat, Greenpeace Indonesia dan Trend Asia kembali menggelar protes di Kedutaan Besar Republik Korea Selatan di Jalan Gatot Soebroto, Jakarta, Selasa (30/6/2020).

Mereka mengecam keputusan KEPCO (Korea Electric Power Corporation) yang melanjutkan pendanaan energi kotor Jawa 9 & 10, Banten, Indonesia. Keputusan ini menunjukkan bahwa komitmen Green New Deal Presiden Moon Jae In hanya pencitraan dan omong kosong.

Presiden Moon dan para lembaga pendana di proyek ini harus sadar bahwa keputusan KEPCO telah mempertaruhkan kualitas hidup dan kesehatan warga Banten terutama yang tinggal di wilayah sekitar PLTU.

Data Dinas Kesehatan Kota Cilegon tahun 2017 menunjukkan, terdapat 15.039 balita di kota Cilegon yang terserang penyakit Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA). Sementara, data yang sama menyebut bahwa ISPA adalah penyakit yang paling banyak diderita penduduk Cilegon (39.455 kasus).

Pembangunan PLTU Jawa 9 dan 10 ini dikhawatirkan memperparah derita warga. “Green New Deal Moon Jae In cuma omong kosong. Bukannya Green New Deal, malah New Grave (kuburan baru) untuk masyarakat Banten akibat polusi dan hilangnya sumber penghidupan dari investasi proyek PLTU 9-10. Kami, masyarakat Banten, mengutuk keputusan pendanaan proyek energi kotor ini. Kami akan terus melawan, karena ini menyangkut kehidupan kami,” tegas Mad Haer, Ketua Pena Masyarakat Banten.

Tubagus Soleh Ahmadi, Direktur Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Jakarta juga menolak keras keputusan KEPCO. Menurutnya, persetujuan KEPCO untuk mendanai PLTU Jawa 9 & 10 sama berarti KEPCO sedang mensponsori bencana ekologis di Indonesia.

“Polusi udara akan semakin mengancam warga Provinsi Banten termasuk ibukota Jakarta yang berada dalam jangkauan pencemaran udara dari banyak PLTU di sekitarnya. Banten adalah wilayah rentan bencana, termasuk wilayah pesisir dan Selat Sunda, tepat di lokasi PLTU. Pembangkit ini jelas bukan energi yang adaptif terhadap
bencana, tetapi justru pembangkit yang “menggali” dan “memanen” bencana,” ucap Tubagus. (rihadin/sir)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *