KLAKSON KEPENCET, MALING MOTOR KETANGKAP – Poskota.co

KLAKSON KEPENCET, MALING MOTOR KETANGKAP

ilustrasi
ilustrasi

POSKOTA.CO – Rheza Firmansyah Nasution alias Deon,21, nyaris tewas dihakimi massa karena kepergok mencuri sebuah sepeda motor. “Aksinya diketahui korban diteriaki maling,” ungkap seorang saksi mata, Minggu (13/3).

Peristiwa pencurian itu sendiri terjadi di Kampung Kademangan, Setu, Tangerang Selatan, sekira pukul 00.30 WIB. Saat itu pelaku dengan menggunakan sebuah sepeda motor bersama dengan rekannya yang bernama Ririn alias Rintik tengah keliling mencari korban di wilayah tersebut.

“Kemudian para pelaku mendapati sebuah sepeda motor yang terparkir di halaman sebuah rumah yang sepi, lantas para pelaku menjalankan aksinya itu,” kata Kepala Bagian Humas Polres Tangsel, AKP Mansuri.

Tanpa pikir panjang, Rheza yang berprofesi sebagai mekanik salah satu bengkel motor di daerah Rumpin, Bogor itu langsung berusaha menjebol kunci kontak sepeda motor korbannya dengan menggunakan kunci leter T, sedangkan rekannya, Rintik sigap mengawasi keadaan sekitar dari atas sepeda motornya.

“Namun saat motor berhasil dihidupkan oleh pelaku, tak sengaja tangan pelaku menyenggol klakson motor korbannya itu, sehingga menimbulkan kecurigaan dari dalam rumah,” sambung AKP Mansuri.

Mendengar suara klakson itu, korban seketika keluar rumah dan langsung meneriaki para pelaku, tak ayal teriakan itu mengundang kerumunan massa yang langsung menghakimi Rheza, sedangkan pelaku lainnya berhasil melarikan diri dengan sepeda motornya.

Kini, Pelaku dan sejumlah barang bukti berupa sebuah unit sepeda motor merk Yamaha Mio warna putih dengan Nomor polisi B 6575 SLF, serta satu set kunci Leter T terdiri dari satu buah batang kunci berikut tiga buah anak kuncinya diamankan di Mapolsek Cisauk guna dilakukan penyelidikan lebih lanjut.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

BREAKING NEWS :
POSKOTA.CO - Permohonan Guru Besar IPB Prof Dr Euis Sunarti dan akademisi ke Mahkamah Konstitusi (MK) sejalan dengan isi Rancangan Undang-Undang (RUU) Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP). Bahkan, dalam RUU tersebut hukuman perzinaan akan diperberat dari sembilan bulan penjara menjadi terancam lima tahun penjara. Pemerintah menanggapi permohonan akademisi terkait permintaan kriminalisasi lesbian, gay, biseksual dan transgender (LGBT) dan kumpul kebo, di mana materi itu juga masih dibahas di dalam DPR. Sebagai contoh, dalam Pasal 484 Ayat (1) Huruf e RUU KUHP berbunyi, "Laki-laki dan perempuan yang masing-masing tidak terikat dalam perkawinan yang sah melakukan persetubuhan dipidana lima tahun penjara". Pandangan pemerintah dalam hal ini disampaikan oleh Direktur Litigasi Peraturan Perundang-undangan Kemenkumham Yunan Hilmy dalam sidang lanjutan uji materi KUHP di ruang sidang MK, Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta, Selasa (19/7). Yunan menyebut, pembahasan RUU ini terkesan lambat karena ada beberapa kendala. "Lamanya penyusunan RUU KUHP dipengaruhi banyaknya dinamika di antaranya masalah budaya, agama serta hal-hal lain yang dalam implementasinya harus dapat diukur secara jelas," kata Yunan. Sebab, dalam merumuskan ketentuan pidana berbeda dengan merumus ketentuan lain. Yunan mengatakan, untuk mengukur suatu norma pidana harus dapat dibuktikan secara hukum sehingga untuk dapat memutus suatu norma pidana memerlukan waktu yang lama. Oleh karena itu, pemerintah mengatakan para pemohon dapat memberikan masukan hal ini kepada pemerintah atau DPR. "Dalam rangka turut serta mengatasi problematika pembahasan RUU KUHP, para pemohon dapat memberikan sumbangan pemikirannya terhadap materi RUU KUHP terutama masalah perzinaan, pemerkosaan dan homoseksual. Materi RUU KUHP itu masih dibahas di DPR, dan akhir Agustus mendatang akan kembali dirapatkan usai masa reses DPR. Hukum Penjara Sebelumnya, Guru Besar IPB Prof Dr Euis Sunarti dan para akademisi lain meminta homoseks dan pelaku kumpul kebo dihukum penjara. Mereka meminta Mahkamah Konstitusi menafsir ulang Pasal 292. Selain Euis, ikut pula menggugat para akademisi lainnya yaitu Rita Hendrawaty Soebagio SpPsi, MSi, Dr Dinar Dewi Kania, Dr Sitaresmi Sulistyawati Soekanto, Nurul Hidayati Kusumahastuti Ubaya SS, MA, Dr Sabriaty Aziz. Ada juga Fithra Faisal Hastiadi SE, MA, MSc, PhD, Dr Tiar Anwar Bachtiar SS, MHum, Sri Vira Chandra D SS, MA, Qurrata Ayuni SH, Akmal ST, MPdI dan Dhona El Furqon SHI, MH. (*)