ITW DESAK POLISI USUT KEMATIAN SUGENG – Poskota.co
Saturday, September 23

ITW DESAK POLISI USUT KEMATIAN SUGENG

Tersangkut kabel saat mengendarai motor
Tersangkut kabel saat mengendarai motor

POSKOTA.CO – Indonesia Traffic Watch (ITW) mendesak kepolisian mengusut tuntas penyebab kematian pengendara sepeda motor (bikers) Sugeng Widodo, yang diduga karena kelalaian pihak pelaksana Proyek Flyover Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, Kamis (30/6).

Ketua Presidium ITW, Edison Siahaan, mengatakan, diduga kuat korban tewas akibat kelalaian pelaksana Proyek Flyover, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan. Karena membiarkan kabel proyek terjuntai ke bahu jalan,sehingga menimbulkan terjadinya kecelakaan yang mengakibatkan korban jiwa.

“ Sangat jelas ada unsur kelalaian pihak pelaksana proyek Flyover. Polisi harus memeriksanya untuk meminta tanggungjawabnya,” kata Edison, Kamis (30/1).

Selain lalai, Edison menambahkan, di lokasi kejadian juga tidak dipasang rambu atau petunjuk agar pengendara yang melintas mengetahui.

“Memang terlalu ekstrim kalau kita tuding ada unsur sengaja membuat pengendara celaka. Tetapi melihat faktanya,sama sekali tidak ada upaya untuk mengingatkan agar tidak terjadi kecelakaan,” tegas Edison.

ITW berharap tidak lagi terjadi peristiwa seperti yang dialami Sugeng Widodo,tambahnya. Peristiwa naas yang dialami oleh warga Kedoya Utara, RT001/008, Kebon Jeruk, Jakarta Barat itu, terjadi di Flyover,Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, sekitar pukul 7.30, Kamis (30/6).

Saat itu Sugeng Widodo mengendarai sepeda motor Kawasaki B3964 BXS dari arah Cileduk, Tangerang. Ketika melintas di lokasi kejadian, tiba-tiba kepalanya terjerat kabel bangunan proyek yang terjuntai ke badan jalan.

Sugeng terlempar dari sepeda motor yang dikendarainya dan terlindas kendaraan yang ada dibelakangnya. Akibat kecelakaan maut itu, Sugeng Widodo meninggal dunia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

BREAKING NEWS :
POSKOTA.CO - Permohonan Guru Besar IPB Prof Dr Euis Sunarti dan akademisi ke Mahkamah Konstitusi (MK) sejalan dengan isi Rancangan Undang-Undang (RUU) Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP). Bahkan, dalam RUU tersebut hukuman perzinaan akan diperberat dari sembilan bulan penjara menjadi terancam lima tahun penjara. Pemerintah menanggapi permohonan akademisi terkait permintaan kriminalisasi lesbian, gay, biseksual dan transgender (LGBT) dan kumpul kebo, di mana materi itu juga masih dibahas di dalam DPR. Sebagai contoh, dalam Pasal 484 Ayat (1) Huruf e RUU KUHP berbunyi, "Laki-laki dan perempuan yang masing-masing tidak terikat dalam perkawinan yang sah melakukan persetubuhan dipidana lima tahun penjara". Pandangan pemerintah dalam hal ini disampaikan oleh Direktur Litigasi Peraturan Perundang-undangan Kemenkumham Yunan Hilmy dalam sidang lanjutan uji materi KUHP di ruang sidang MK, Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta, Selasa (19/7). Yunan menyebut, pembahasan RUU ini terkesan lambat karena ada beberapa kendala. "Lamanya penyusunan RUU KUHP dipengaruhi banyaknya dinamika di antaranya masalah budaya, agama serta hal-hal lain yang dalam implementasinya harus dapat diukur secara jelas," kata Yunan. Sebab, dalam merumuskan ketentuan pidana berbeda dengan merumus ketentuan lain. Yunan mengatakan, untuk mengukur suatu norma pidana harus dapat dibuktikan secara hukum sehingga untuk dapat memutus suatu norma pidana memerlukan waktu yang lama. Oleh karena itu, pemerintah mengatakan para pemohon dapat memberikan masukan hal ini kepada pemerintah atau DPR. "Dalam rangka turut serta mengatasi problematika pembahasan RUU KUHP, para pemohon dapat memberikan sumbangan pemikirannya terhadap materi RUU KUHP terutama masalah perzinaan, pemerkosaan dan homoseksual. Materi RUU KUHP itu masih dibahas di DPR, dan akhir Agustus mendatang akan kembali dirapatkan usai masa reses DPR. Hukum Penjara Sebelumnya, Guru Besar IPB Prof Dr Euis Sunarti dan para akademisi lain meminta homoseks dan pelaku kumpul kebo dihukum penjara. Mereka meminta Mahkamah Konstitusi menafsir ulang Pasal 292. Selain Euis, ikut pula menggugat para akademisi lainnya yaitu Rita Hendrawaty Soebagio SpPsi, MSi, Dr Dinar Dewi Kania, Dr Sitaresmi Sulistyawati Soekanto, Nurul Hidayati Kusumahastuti Ubaya SS, MA, Dr Sabriaty Aziz. Ada juga Fithra Faisal Hastiadi SE, MA, MSc, PhD, Dr Tiar Anwar Bachtiar SS, MHum, Sri Vira Chandra D SS, MA, Qurrata Ayuni SH, Akmal ST, MPdI dan Dhona El Furqon SHI, MH. (*)