BNN SUDAH BERBUAT, PEMDA DKI CUEK PEREDARAN NARKOBA – Poskota.co

BNN SUDAH BERBUAT, PEMDA DKI CUEK PEREDARAN NARKOBA

DJ wanita diatas panggung
DJ wanita diatas panggung

POSKOTA.CO – Peredaran narkoba di Diskotik Mille’s Lokasari Jakbar makin marak, meski pengunjung berkurang dari malam panjang sebelumnya. Sepinya pengunjung diskotik Mille’s karena acap kali anggota dari Badan Narkotika Nasional sering menongkrongi diskotik tersebut.

Namun sayangnya bandar besar di diskotik itu sudah mengetahuinya, paska penangkapan kaki tangan bandar besar narkoba Mille’s bernama Wawan.

Wawan pun nampaknya pasang badan, dan tidak mau memberikan keterangan kepada BNN. Akibatnya, kata pengunjung setia Mille’s BNN kesulitan menangkap bandas besar, yang diinformasikan juga ikut nimbrung meperdagangkan narkoba jenis ekstasi di diskotik eksotis milik pria paruh baya berinisial BBG.

“Tak mungkin petugas gak tahu. Pasti tahu. Hanya saja mungkin mencari yang lebih besar. Tapi gak papalah, yang penting kita pengunjung gak diganggu. Apalagi saya ini gak narkoba, cuma ‘minum’ saja,” kata salah seorang pengunjung, Sabtu (21/5) malam.

Seperti diketahui, BNNP pernah meringkus kaki tangan bandar narkoba di diskotik Mille’s pada Sabtu (16/4) dini hari lalu.

Bandar itu adalah Wawan, disebut sebagai salah satu kaki tangan bandar ‘resmi’ di Diskotik Mil’les. Dia tertangkap oleh sejumlah polisi wanita (Polwan) yang melakukan penyamaran di sana.

Polwan-polwan itu membuka sebuah ruangan sebelum rombongan polisi dari Polres Jakarta Barat dan petugas dari BNNP DKI Jakarta menggerebek dan melakukan pemeriksaan di diskotik Mil’les.

Polwan-polwan itu kemudian memesan Narkoba melalui LC di sana. Tetapi kemudian justru Wawan yang datang membawa Narkoba ke dalam ruangan.

Saat petugas datang dan mulai menggerebek diskotik, rupanya Wawan sang bandar tengah berada di room yang disewa para Polwan dan tengah mengantarkan pesanan narkoba itu. Dia pun kemudian diringkus. Dari Wawan, petugas mendapatkan barang bukti sebanyak 7 butir ekstasi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

BREAKING NEWS :
[caption id="attachment_810" align="alignleft" width="300"] Effendi Gazali[/caption] POSKOTA.CO - Pakar Komunikasi Politik Effendi Ghazali melayangkan protes ke Mahkamah Konstitusi meminta penjelasan atas ketidakkonsistenan dan memiliki sikap berbeda dalam mengadili suatu perkara. Dalam surat itu, Effendi meminta penjelasan tentang permohonannya terhadap pelaksanaan Pemilu Serentak yang membutuhkan waktu satu tahun lebih. Dia mengungkapkan bahwa pengujian Undang-Undang Nomor 42 Tahun 2008 tentang Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden itu didaftarkan Effendi pada 10 Januari 2013 dan baru diputus 23 Januari 2014. Sementara, saat menguji Undang-Undang nomor 4 tahun 2014 tentang Penetapan Perppu nomor 1 tahun 2013 tentang Perubahan Kedua atas UU Mahkamah Konstitusi, MK hanya membutuhkan waktu 37 hari. "Putusan Mahkamah Konstitusi No 1PUU-XII/2014 dan 2/PUU-XII/2014 dibacakan setelah 37 dan 50 hari sejak pendaftaran perkara, sedangkan Putusan PUU kami nomor 14/PUU-XI/2013 dibacakan setelah 1 tahun 13 hari (378 hari) sejak pendaftaran perkara," ungkap Effendi, dalam suratnya. Effendi juga memprotes dasar pertimbangan yang digunakan, yakni saat mengadili UU MK, mahkamah mempertimbangkan perlu segera memutus perkara karena terkait dengan agenda ketatanegaraan Tahun 2014, yaitu pemilihan umum anggota DPR, DPD, dan DPRD provinsi/kabupaten/kota, serta pemilihan umum Presiden dan Wakil Presiden. Namun, lanjutnya, dalam mengadili UU Pilpres yang diajukan Effendi, MK tak menggunakan pertimbangan serupa. Oleh karena itu, Effendi dalam suratnya mempertanyakan, apakah konstitusionalitas dalam penyelenggaraan Pemilu 2014 kalah penting dibandingkan dengan potensi sengketa hasil pemilu yang akan ditangani oleh MK. Effendi mengharapkan respon secepatnya dari MK, jka sampai 14 hari tidak mendapatkan respon, maka dia mengancam akan melaporkan masalah ini ke Dewan Etik MK. djoko-antara