APA SIH YANG DISEBUT SEBAGAI TERORIS – Poskota.co

APA SIH YANG DISEBUT SEBAGAI TERORIS

pembicara diskusi
pembicara diskusi

POSKOTA.CO – Ketua Lajnah Siyasiyah HTI, Yahya Abdurrahman, mengaku sampai saat ini belum memahami apa dan bagaimana yang disebut sebagai teroris. Baginya, semua masih abstrak.

“Tolok ukurnya seperti apa? Yang sudah ada kan yang salah tangkap dilepas. Nah, jadi gimana ini?” Kata Yahya dengan nada tak mengerti saat berbicara pada diskusi “Densus 88 dan RUU Terorisme Membidik Islam” di Gedung Joang 45, pada Rabu (23/4/2016).

Yahya pun menyoroti status hukum seseorang yang disebut Densus sebagai terduga teroris. Menurutnya dalam hukum, status terduga belum berstatus hukum. “Jadi tidak boleh ditahan. Yang ada baru terduga teroris kan sudah ditahan,” katanya.

Karenanya, ia mengaku sangat pesimis dengan RUU teroris. Jangan-jangan seperti dulu, di mana ceramah dan para khotibnya diawasi.

“Yang kita bisa lakukan saat ini berdoa. Tapi jangan berdoa saja, harus dibarengi dengan usaha jangan sampai yang kita takutkan terjadi,” katanya lagi.

Sedang Ketua Presidium Indonesia Police Watch (IPW), Neta S Pane, menambahkan dengan meminta untuk tidak mencampuradukan antara Islam dan teroris.

Alasan Neta dengan mengambil contoh kasus teroris di Jalan Thamrin, Sarinah, pelakunya adalah Islam dan korban juga Islam. “Jadi kita harus melihat proporsinya. Petugas juga harus mengedepankan praduga tak bersalah. Dan RUU Teroris juga nantinya harus lebih baik serta menghargai HAM,” katanya.

Pembicara terakhir, anggota Komisi III DPR RI dari Fraksi PPP, Arsul Sani, hanya meminta semua harus tetap mempercayai DPR. Ia mengajukan 2 pilihan. DPR dengan sedikit kekurangannya, atau tak percaya.

“Kalau tak percaya untuk apa saya di sini (ikut diskusi). Kalau percaya kita akan berjuang untuk kebenaran. Tapi perlu diingat, perjuangan DPR sebatas RUU. Tapi menyangkut pembubaran densus itu adanya di UU Kepolisian,” katanya.

Mustafa Nahrawardaya dari MPI PP Muhammadiyah, dalam masalah terorisme Islam diadu Islam. Sosok Islam oleh orang Islam sendiri dibuat sebagai yang menakutkan. Tapi dibelakang itu semua nimbrung negara barat.

“Fakta memang begitu. Semua yang ‘berbau’ teroris dan radikal selalu dihubungkan dengan Islam. Sampai saat ini sosok ISIS, Islam juga. Yang buat seperti itu siapa?” Jelas Mustafa saat berbicara pada diskusi “Densus 88 dan RUU Terorisme Membidik Islam” di Gedung Joang 45, pada Rabu (23/4/2016).

Oleh karena itu, Mustafa merasa yakin RUU Teroris yang saat ini sedang dibahas dan banyak menjadi perhatian publik, sarat dengan kepentingan barat.

Sementara Densus 88 Sendiri tak bisa berbuat banyak selain mengangker-angkerkan wajah. Berbuat dengan dalih menjalankan tugas untuk kepentingan negara dan melindungi masyarakat – melakukan penangkapan yang belum sesuai pada perlindungan HAM.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

BREAKING NEWS :
[caption id="attachment_2898" align="alignnone" width="300"] Anang Iskandar[/caption] POSKOTA.CO- Kepala Badan Narkotika Nasional(BNN) Komjen Anang Iskandar mendesak kepada Jaksa Agung Prasetyo untuk segera mengeksekusi terpida mati kasus narkoba. Salah satunya adalah terpidana mati yang kembali mengendalikan bisnis narkoba Warga Negara Nigeria, Silvester Obiek. "Iya, ingin (Silvester) segera dieksekusi mati? Saya laporkan tadi ke Pak Jaksa Agung," kata Anang kepada wartawan di Kejagung, Senin(2/2). Anang berharap, eksekusi mati yang dijalankan pihak kejaksaan, diharapkan tidak terlalu lama waktunya dari eksekusi mati pertama. "Kami ingin efek jera bagi mereka, eksekusi hukuman mati perlu tapi jangan sekali dan jedanya jangan terlalu panjang. Semoga gelombang kedua nggak tahun depan. Kami ingin penegak hukum punya integritas yang tinggi," ujar mantan Kapolda Jambi ini. Sementara itu, Jaksa Agung M Prasetyo mengaku, pihaknya masih menunggu grasi yang diajukan Silvester Obiek ke Presiden Joko Widodo(Jokowi). "Yang bersangkutan (Silvester) ajukan grasi, nanti kita cek lagi,ā€Ž" kata Prasetyo. Sebelumnya, petugas BNN mencokok seorang kurir shabu bernama Dewi disebuah parkiran hotel Gunung Sahari, Jakarta Pusat, pada pukul 22.30 WIB.Dari tangan Dewi petugas menyita barang bukti 1.794 gram shabu. Kepada penyidik, Dewi mengaku, dirinya disuruh Andi teman satu sel Silvester Obiek, untuk mengirimkan shabu tersebut kepada seseorang berinsial E yang masih buron. Belakangan diketahui, bisnis narkoba tersebut dikendalikan oleh Silvester Obiek yang mendekam di Lembaga Pemasyarakatan(LP) Nusakambangan, Cilacap, Jawa Tengah, dan sudah beberapa kali tersangkut kasus narkoba dan divonis hukuman mati.(sapuji)