oleh

HUT Ke-53 LIPI, Ini Tantangan Menurut Bima Arya

POSKOTA. CO – Wali Kota Bogor Bima Arya mengatakan, Kota Bogor maupun Kebun Raya Bogor (KRB) menghadapi tantangan yang serupa, yakni bagaimana menyimbangkan antara konservasi, kelestarian lingkungan dan preservasi di satu sisi serta kepentingan ekonomi dan pariwisata di sisi lainnya.

“Istilah Bapak Presiden, kapan ngegas dan kapan ngeremnya,” ujar Bima Arya di Hari Jadi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Ke-53 tahun 2020 di Lapangan Melchior, Kebun Raya Bogor, Selasa (25/8/2020).

Tantangan Kota Bogor saat ini menurut Bima Arya semakin banyak. Diantaranya, dalam 10 tahun penduduknya akan bertambah menjadi 1,5 juta jiwa, mobilitas dengan Jakarta semakin tinggi dan yang lainnya. Namun disisi lain, Kota Bogor memiliki kebanggaan berupa heritage dan hijau yang dimilikinya.

“Tugas utamanya adalah kapan waktunya ngegas dan kapan waktunya ngerem. Sejak dilantik kami memperkuat tiga identitas Kota Bogor, yaitu Smart City, Green City dan Heritage City.

Ketiganya bisa diraih jika ada kolaborasi dan sinergi. Hari ini saya melihat KRB melakukan keduanya dimana dalam beberapa bulan terakhir ada perubahan signifikan di wajah KRB, ini berkat adanya kolaborasi karena bermitra,” sebut Bima Arya.

Setiap perubahan yang ada menurut Bima Arya selalu diiringi kritik, dan dirinya menilai hal itu sebagai sesuatu yang biasa. Justru kalau ada kritik berarti sedang ada perubahan dan itu menandakan sesuatu yang bagus dan positif.

“Di masa pandemi Covid-19 saat ini, ujian yang dikedepankan adalah kemampuan untuk berkolaborasi. Pemerintah tidak bisa sendiri, membutuhkan kolaborasi dan sinergi dengan semua, mendengarkan rekomendasi dari para ahli di bidangnya. Kami berharap betul LIPI bisa berkolaborasi dengan seluruh pemerintah daerah, baik saat ini maupun kedepannya, mengisi ruang memberikan masukan, langkah persiapan. antisipasi maupun apa yang perlu dianggarkan jangan hanya business as usual mengingat kondisi yang ada,” jelas Bima Arya.

Sementara itu, Menteri Riset dan Teknologi/Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Bambang Brodjonegoro menyatakan, selama masa pandemi Covid-19 LIPI responsif dan langsung melakukan refocusing dari kegiatan penelitiannya kepada berbagai aspek Covid-19.

Tidak hanya sebatas obat tetapi juga alat kesehatan dan juga upaya-upaya membantu melakukan Adaptasi Kebiasaan Baru (AKB). Sebagai contoh teknologi Ozonisasi untuk pembersihan ruangan, ultraviolet robot untuk disinfektan.

“Termasuk yang kita harapkan imuno modulator yang kita rekam menjadi suplemen yang bisa menjaga daya tahan tubuh kita terhadap serangan virus Covid-19,” kata Bambang.

Kepada para peneliti LIPI, Menristek berharap di waktu yang pendek agar mentransformasi menjadi peneliti yang siap menghadapi upaya penanganan Covid-19. LIPI selalu menggandeng perguruan tinggi agar penelitian yang dilakukan LIPI selalu meningkat kualitasnya dan skalanya jadi lebih besar serta bisa lebih diterima masyarakat.

Terkait Badan Riset Inovasi Nasional, Bambang menerangkan, sebagai satu-satunya lembaga pemerintah yang melaksanakan kegiatan litbang tapi untuk operasional penelitiannya dilakukan oleh LIPI, BPPT, BATAN dan LAPAN. Pelebaran ini lanjut Bambang karena kunci penelitian yang dilakukan di masa depan adalah kolaborasi dan efisiensi.

Selain Menteri Riset dan Teknologi/Kepala Riset Inovasi Nasional, Bambang Brodjonegoro dan Kepala LIPI, Laksana Tri Handoko, perayaan Hari Jadi LIPI ke-53 Tahun 2020, juga dihadiri, Plt. Sekjen Kementerian Riset dan Teknologi/BRIN, Mega Pinandito, Deputi Bidang Kebijakan Strategis Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Rd. Kurleni Ukar dan Kepala Istana Kepresidenan Bogor, Erwin Wicaksono serta keluarga besar civitas LIPI dari seluruh daerah di Indonesia secara virtual.

Pada peringatan tersebut diserahkan beberapa penghargaan diberikan para inventor, SDM IPTEK dan pendukung terbaik serta Satya Lencana. (yopi/oko)

 

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *