oleh

Humor-Humor Gus Dur

-Nasional-67 views

POSKOTA.CO – Saya pernah memposting tulisan bahwa saya tidak memilih Gus Dur sebagai presiden. Memang benar. Tapi itu tak berarti saya tidak hormat pada beliau. Justru sebaliknya. Menurut saya, Gus Dur lebih layak menjadi ‘Guru Bangsa’ ketimbang kepala negara – sebagaimana halnya Dr Nurcholis Madjid, Prof Quraish Shihab, dan Buya Syafii Maarif. Juga Romo Mangunwijaya dan Romo Magnis Suseno.

Syukurkah. Dalam jabatan singkatnya Gus Dur mewariskan terobosan. Mengembalikan tentara ke barak. Menghapus Deppen dan menghidupkan kembali budaya Tionghoa, serta menyebarkan paham pluralisme.

Tapi Gus Dur selalu terkenangkan juga karena humor-humornya. Berikut sebagiannya.

MENGAPA KIAI POLIGAMI – Ada banyak kiai melakukan poligami, beristri lebih dari satu. Dan banyak alasan pembenarannya. Tapi bukan Gus Dur namanya kalau bukan bikin alasan penyebabnya yang ‘mbeling’. ‘Nyleneh’ ajaib.

Gus Dur sendiri tidak poligami padahal empat anaknya semua perempuan. Punya alasan dan hak untuk poligami agar ada anak laki-laki yang mewarisi darah biru NU dan kekiaiannya. Tapi Gus Dur tidak melakukannya. Tetap setia pada Ibu Nuriah Shinta Nur Wahid.

Tapi kenapa banyak kiai poligami, ya Gus?

“Kiai itu ke diskotek kan nggak boleh. Ke karaoke juga nggak boleh. Apalagi ke lokalisasi. Lha, gimana lagi? Satu-satunya yang boleh kan poligami,” jawabnya, enteng.

***

MASUK ISLAM LAGI – Seharusnya tak ada muslim dan umat lainnya yang meragukan keislaman Gus Dur. Selain putra kiai besar, kuliah di Al-Azhar Mesir, memimpin pesantren juga mengetuai ormas Islam di terbesar di negeri ini yakni NU. Kurang apa lagi coba?

Faktanya Abubakar Ba’asyir menuding Gus Dur “sudah keluar dari Islam”. Alasannya, Gus Dur menggagas agar ucapan ‘Asalamu’alaikum’ diganti dengan ‘selamat pagi’, ‘Selamat siang’ atau ‘selamat malam’.

Abubakar Ba’asyir yang juga punya pesantren dan dikabarkan memimpin jemaah Islamiah murka. Terpidana kasus terorisme itu pun menuding Gus Dur “sudah keluar dari Islam”.

Bukan Gus Dur namanya jika menanggapinya dengan marah. Dia nyantai saja. “Kalau dianggap keluar dari Islam ya ambil wudu saja. Baca Syahadat lagi. Sudah masuk Islam lagi,” jawabnya dengan senyum.

***

JAUH DARI TUHAN – Dalam satu sesi santai di tengah kongres agama agama dunia di Bali, wakil independen dari Unesco mengajak wakil-wakil delegasi agama untuk buka-bukaan. Di ruang tertutup.

“Sekiranya bapak-bapak sudi berkata jujur, siapakah di antara agama bapak yang paling dekat dengan Tuhan. Mohon dijawab jujur,” kata utusan Unesco.

“Kami orang Kristen paling dekat dengan Tuhan,” seorang pendeta mengangkat tangan.

“Kami memanggil tuhan kami ‘Bapak kami di surga’. Begitu dekat kan?” kata pendeta meyakinkan. Orang Unesco mengangguk.

“Kami juga cukup dekat,” sambut pedanda Hindu.

“Kami memanggil dengan kemuliaan ‘Oom Shanti Shanti Oom’. Dalam budaya negeri kami, ‘Oom’ cukup dekat..” kata pedanda.

Giliran Gus Dur duduk di sebelah mereka, nampak menunduk saja.

“Bagaimana dengan kaum muslim, mister Gus Dur? Apakah cukup dekat dengan Tuhan?” tanya utusan Unesco.

Gus Dur menghela nafas. “Terus terang memang kami paling jauh,” katanya dengan nada lesu.

“Bahkan untuk memanggil-Nya saja, kami harus pakai speaker toa!” lanjutnya.

Utusan Unesco manggut-manggut. Pendeta dan pedanda di sebelahnya tersenyum puas.

***

NU CABANG KRISTEN – Ada satu masa ketika musisi dan penyanyi Franky Sahilatua sangat dekat dengan Gus Dur. Ke mana pun pergi diajak serta dan selalu duduk di dekatnya. Hal itu menimbulkan kecemburuan para nahdliyin.

Sampai suatu ketika rasa penasaran dan iri tak tertahankan. Seorang santri disuruh menanyakannya. Kebetulan pas Franky sedang tak ada.

“Mohon izin bertanya, Gus. Tabayun,” tanya seorang santri dengan suara bergetar dan takut takut.

“Silakan,” Gus Dur menjawab dengan mata terpejam. Meskipun seolah tidur tapi Gus Dur tetap awas.

“Itu Gus. Apakah saudara Franky Sahilatua sudah mendapat hidayah…,” tanya santri pelan.

“Kalau maksudnya apakah Franky sudah masuk Islam, jawabnya ‘belum!’…,” Gus Dur tembak langsung.

“Maaf Gus, soalnya selama ini Gus Dur sangat dekat dengan saudara Franky…,” tanya santri lagi.

“Ya, memang. Malah saya mau jadikan dia ketua NU!” jawab Gus Dur lagi.

Yang terkejut kali ini bukan hanya santri yang bertanya, melainkan juga kiai-kiai lainnya. Kiai ‘Ring 1’ di NU.

“Lho, ketua NU untuk cabang yang mana, Gus?” setengah berteriak santri bertanya mendesak.

Kali ini Gus Dur bersuara lebih keras, dan menampilkan mimik serius.

“Saya akan angkat saudara Franky Sahilatua sebagai Ketua NU Cabang Kristen!” teriaknya.

Saat santri penanya masih kaget dan kebingungan, para kiai ‘Ring-1’ sudah tertawa tergelak-gelak. (supriyanto)

 

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *