oleh

Diperlukan Riset Bersama Pendidikan Vokasi dan Dunia Industri

POSKOTA.CO-Dirjen Pendidikan Vokasi Kemendikbud Wikan Sakarinto mengatakan semangat untuk menikah pendidikan vokasi dengan dunia industri harus dilanjutkan hingga level tertinggi atau pernikahan sempurna. Pernikahan level tertinggi tersebut ditandai dengan kolaborasi riset bersama industri.

Hal tersebut disampaikan Wikan pada acara Pesta Pernikahan Vokasi dan Industri sekaligus launching produk dan talkshow yang digelar semi daring di Solo, Selasa (18/8/2020).

“Jadi sejak awal pernikahan itu selain bikin kurikulum magang, itu juga merancang riset bersama. Sehingga nanti ketika sudah jadi alat atau peralatan, paying customer sudah nunggu cuma tinggal ambil,” kata Wikan.

Ia mengakui semangat pendidikan vokasi untuk menikah dengan dunia industri terus meningkat. Meski dari sekian banyak pernikahan tersebut, belum banyak yang mencapai level pernikahan sempurna.

Menurut Wikan, pernikahan dikatakan level sempurna jika terjalin kolaborasi antara pendidikan vokasi dengan industri untuk menciptakan produk hasil dari riset terapan vokasi. Karena itu, cara berpikirnya harus diubah, tidak sekedar menikah, tetapi pernikahan harus paripurna atau mencapai level tertinggi, start from the end.

“Produk yang dihasilkan ada konsumennya nggak? Jangan sampai sudah sepakat bikin produk bersama tetapi saat produk sudah siap ternyata konsumen tidak ada. Karena konsumen inilah yang akan membayar produk yang dihasilkan dari pernikahan tersebut, dari kolaborasi tersebut,” lanjut Wikan.

Diakui saat ini sudah banyak pendidikan vokasi baik level SMK maupun perguruan tinggi vokasi yang sudah menghasilkan produk hasil kolaborasi riset dengan dunia industri. Sebut saja SMK Warga dan SMK Mikael Solo yang sudah memiliki produk mesin Computer Numerical Control atau CNC. Juga pendidikan vokasi UGM yang memiliki produk serupa.

Produk CNC dari pendidikan vokasi tersebut merupakan bukti kolaborasi riset dengan dunia industri. “Levelnya mungkin baru 8 atau 9, jadi harus ditingkatkan hingga nantinya dikomersialkan atau dijual,” tukas Wikan.

Mantan Dekan Sekolah Vokasi UGM tersebut mengingatkan bahwa keberhasilan pendidikan vokasi menjadi salah satu tolok ukur kemajuan sebuah bangsa. Negara-negara maju seperti Jepang, Jerman dan Swiss ternyata pendidikan vokasinya mengalami kemajuan yang sangat pesat.

“Nah kalau Indonesia mau maju, maka caranya adalah majukan pendidikan vokasi, karena pendidikan vokasi itu menghasilkan tenaga kerja atau SDM yang kompeten, yang siap bekerja,” jelas Wikan.

Menurutnya bukti tersebut tidak disangkal lagi. Jadi untuk membuat maju Indonesia, resepnya mudah. Dengan majunya pendidikan vokasi baik Politeknik, SMK, maupun lembaga kursus dan pelatihan, maka Indonesia bisa meloncat teknologinya, kemartabatannya, kepemimpinannya.

Saat ini, Indonesia memiliki 17 ribu lembaga kursus dan pelatihan, 14 ribu SMK dan 2000 kampus vokasi. Jika semua pendidikan vokasi tersebut melakukan pernikahan massal hingga level tertinggi, dipastikan akan berkontribusi sangat besar bagi kemajuan ekonomi nasional. (fs/sir)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *