KONDISI MEMBURUK, BAYI BERKEPALA DUA DI MAKASSAR AKHIRNYA MENINGGAL – Poskota.co
Thursday, September 21

KONDISI MEMBURUK, BAYI BERKEPALA DUA DI MAKASSAR AKHIRNYA MENINGGAL

POSKOTA.CO – Bayi kembar siam berkepala dua yang dilahirkan di Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Dokter Wahidin Sudirohusodo, Makassar, Sulawesi Selatan, akhirnya meninggal dunia setelah mendapat perawatan tim medis selama empat hari di ruang Neonatal Intensif Care Unit (NICU) rumah sakit itu Sabtu (17/9).

Bayi berkepala dua itu diberi nama Nurwanda dan Nurwindi oleh kedua orang tuanya, Heriyasmin (39) dan Fitriani (33). Bayi itu dilahirkan di RSUP Wahidin Sudirohusodo, Rabu lalu lewat operasi caesar.

Ayah sang bayi mengikhlaskan kepergian anak keduanya itu. Ia menolak permintaan rumah sakit untuk dilakukan operasi yang melibatkan 23 dokter ahli.

Bayi kembar siam berkepala dua, Nurwanda dan Nurwindi, dari Makassar, akhirnya meninggal dunia karena kondisinya semakin memburuk pascakelahirannya.
Bayi kembar siam berkepala dua, Nurwanda dan Nurwindi, dari Makassar, akhirnya meninggal dunia karena kondisinya semakin memburuk pascakelahirannya.

“Setelah lahir hari Rabu itu, sempat anakku menangis. Pada hari Kamis, kondisinya sudah kritis sampai dia meninggal. Di ruang NICU, anakku satu beri bantuan pernafasan manual dan satunya lagi diberi bantuan pernafasan dengan sistem komputer. Memang kembar siam sejak dalam kandungan,” kata Heriyasmin di RSUP Dr Wahidin Sudirohusodo.

Heri mengungkapkan, anaknya meninggal akibat kondisi tubuhnya yang tidak normal. Anaknya juga mengalami lemah jantung.

“Memang susah hidup, kasihan anakku itu. Karena satu badan dua kepala. Dua kepala yang menghirup udara, sedangkan satu jantungnya,” kata Heri.

Selama dirawat, bayi malang ini dibantu alat pernapasan, lahir dengan berat badan 3,4 kilogram, dengan panjang badan 42 sentimeter, apgar score (suatu metode penilaian yang digunakan untuk mengkaji kesehatan neonatus dalam menit pertama setelah lahir, red) dalam kondisi sesak.

Pihak keluarga akan membawa jenazah bayi tersebut ke Kabupaten Bulukumba untuk dimakamkan. Heriyasmin mengatakan, anaknya rencana dikuburkan di kampung istrinya, Fitriani, di Desa Topanda, Kecamatan Rilau Alo, Kabupaten Bulukumba, Sulawesui Selatan.

Meski tinggal di Jalan Perintis Kemerdakaan VII Makassar, Heri menyatakan, jasad anaknya tidak akan dibawa ke sana dan langsung dibawa ke kampung halaman. “Tidak di bawa pulang ke rumah, tapi langsung dibawa ke Bulukumba,” kata pria yang sehari-hari menjadi buruh bangunan itu sambil menunggu ambulans.

Meski demikian, masalah Heri belum selesai mengingat dana pemulangan anaknya memerlukan biaya besar untuk dibawa ke daerah dan menunggu bantuan dermawan.

“Biaya ke sana untuk ambulans Rp1,360 juta setelah didiskon rumah sakit Rp1,7 juta. Berat rasanya karena uang sangat terbatas mudah mudah ada bisa bantu-bantu, saya ini hanya tukang batu,” tutur Heri terlihat kebingungan. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

BREAKING NEWS :
[caption id="attachment_282" align="alignleft" width="300"] Dalam Pilkada Jatim sebenarnya yang menang adalah pasangan Khofifah Indar Parawansa-Herman S Sumawiredja, bukan KarSa. (DOK)[/caption] POSKOTA.CO – Terungkap. Mantan Ketua MK Akil Mochtar mengaku, pemenang dalam Pilkada Jatim sebenarnya adalah pasangan Khofifah Indar Parawansa-Herman S Sumawiredja, bukan KarSa. Putusan terhadap kemenangan Khofifah-Herman itu sudah diputuskan 7 hari sebelum amar putusan dibacakan MK pada 7 Oktober 2013. "Jadi keputusan MK itu sebenarnya sudah ada 7 hari sebelum amar putusan. Dan, itu Pak Akil menegaskan bahwa Bu Khofifah dan Pak Herman yang menang. Tapi ini tiba-tiba putusannya incumbent yang menang," kata kuasa hukum Akil, Otto Hasibuan di Gedung KPK, Jakarta, Selasa (28/1/2014). Otto mengatakan, pada 2 Oktober 2013 Akil ditangkap KPK karena kasus dugaan suap pengurusan sengketa Pilkada Kabupaten Gunung Mas, Kalimantan Tengah 2013. Padahal, amar putusan PHPU Jatim belum dibacakan, sementara dia adalah Ketua Panel PHPU tersebut. "Pak Akil Ketua Panel, putusan 7 hari sebelum dibacakan sudah ada, tapi pasca ditangkap Pak Akil itu tiba-tiba pihak sana (KarSa) yang menang. Ini ada apa?" kata Otto. Sebelum ditangkap Akil, kata Otto pernah mengirim surat ke MK. Isinya meminta klarifikasi kepada para hakim konstitusi lain, kenapa putusan itu tiba-tiba berubah. "Jadi tadi Pak Akil minta kepada saya untuk menyurati MK, mengklarifikasi masalah tersebut," ucap dia. Dalam amar putusannya, MK memerkuat keputusan KPUD Jatim yang menetapkan pasangan Soekarwo-Saifullah Yusuf (KarSa) sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur terpilih untuk Provinsi Jatim periode 2013-2018. Akil Mochtar oleh KPK ditetapkan sebagai tersangka kasus dugaan suap pengurusan sengketa Pilkada Kabupaten Gunung Mas, Kalimantan Tengah 2013 dan Pilkada Kabupaten Lebak, Banten 2013 di MK. KPK juga menyematkan status tersangka pada bekas politisi Partai Golkar itu dalam kasus dugaan pencucian uang yang diduga berasal dari uang suap. Kejaksaan Agung menyatakan telah menerima surat pemberitahuan dimulainya penyidikan (SPDP) tindak pidana narkoba atas tersangka M. Akil Mochtar dari penyidik Badan Narkotika Nasional. Surat tersebut dibuat oleh penyidik BNN pada 20 November 2013 dan diterima oleh Kejaksaan Agung pada 22 November 2013. (djoko)