oleh

Covid-19 Renggut Senyum HAN Menjadi Generasi Frustrasi

POSKOTA.CO – Hari Anak Nasional (HAN) yang diperingati 23 Juli seharusnya dirayakan dengan senyuman ceria dan penuh kebahagiaan anak-anak Indonesia, terlebih bagi anak-anak yang tidak mampu untuk tetap mendapatkan haknya dalam mendapatkan ilmu pelajaran, terancam menjadi generasi frustrasi karena pandemi Covid-19 yang masih melanda dunia, khususnya Indonesia.

Keceriaan dan semangat anak-anak Indonesia seolah terenggut dengan adanya pandemi Covid-19 yang mengharuskan mereka untuk terus di rumah dengan kondisi dan keadaan yang mulai menjenuhkan, sebagai hak mereka dalam mendapatkan ilmu pelajaran dan bermain.

Keadaan ini pun cenderung mengancam mereka dari segala sisi sebagai generasi dini untuk meneruskan cita-cita para pendahulu dan para pahlawan kemerdekaan, untuk membawa dan mengangkat marwah bangsa Indonesia di mata dunia.

Semenjak masuknya pandemi Covid-19 di bulan Januari 2020, pandemi ini seolah memaksa menggantikan masuknya anak-anak Indonesia untuk pergi ke sekolah, yang kini mengharuskan mereka untuk belajar online di rumah melalui smartphone. Namun menurut beberapa pengamat dan pemerhati anak-anak, kebijakan ini justru mengancam anak-anak Indonesia mengalami kebutaan dini dari cara belajar dan bermain dengan smartphone.

Selaian ancaman kebutaan dini, karena seringnya bermain smartphone, anak-anak Indonesia sebagai generasi dini juga terancam hilangnya semangat berkreasi dan berprestasi, bahkan lunturnya kultur budaya dan watak sebagai ciri bangsa Indonesia dengan adat ketimuran menjadi generasi yang frustrasi.

Nuraeni (63), salah satu orang tua yang mengeluhkan keadaan anaknya yang masih duduk di bangku Sekolah Dasar (SD) memaparkan, bukannya belajar seperti biasanya pergi ke sekolah, dengan smartphone anak saya kerap bermain game dan hal lainnya bersama teman-temannya, perilakunya mulai berubah dari mulai bangun terlalu siang sebab tidur larut malam karena waktunya kini banyak dihabiskan dengan bermain smartphone, seperti tak lagi bersemangat bahkan frustrasi untuk menggapai keinginan/cita-citanya.

“Kalaupun harus terus belajar di rumah, lebih baik gurunya yang ke rumah dengan melakukan belajar kelompok, serta baiknya pemerintah memberikan solusi dan jaminan agar anak saya dan anak-anak lainnya tidak mengalami kebutaan dini dengan memberikan kacamata antiradiasi atau sejenis lainnya. Karena saya sebagai orang tuanya tidak bisa menggantikan fungsi seorang guru merangkap tugas saya berjualan untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga,” tutur Eni kepada POSKOTA.co, Minggu (26/7/2020).

“Selain itu anak kerap meminta uang untuk dibelikan kuota karena alasan tugas sekolah, tata krama anak terhadap orang tua pun kini terlihat berkurang, seperti tidak segera menyahut saat di panggil anak mulai mengabaikan perintah orang tua untuk melaksanakan salat dan mengaji,” sambungnya.

Eni mengatakan, pandemi jangan dijadikan alasan untuk menjadi proses pendidikan anak menjadi membosankan yang berakibat anak-anak sekolah kurang menyukai cara belajar karena kurangnya pengawasan guru sebagai tugasnya, yang kecil kemingkinan semua orang tua mampu merangkap tugasnya sebagai tulang punggung untuk memenuhi tuntuan hidup bagi keluarganya. (wahy)

 

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *