oleh

Bersama Menjadi Jembatan Gerakan Nasional Perang Melawan Narkoba

-Nasional-161 views

POSKOTA.CO – Presiden Joko Widodo sejak tahun 2016 menegaskan, bahwa Indonesia sudah dalam keadaan darurat narkoba dan dengan lantang Presiden menyatakan, Indonesia perang melawan narkoba.

Untuk itulah, sudah sewajibnya semua unsur-unsur terkait untuk menyikapi hal ini betul-betul agar masalah narkoba ini menjadi perhatian serius semua kalangan. Terlebih bagi generasi muda pada saat ini, dimana mereka akan menjadi penerus cita-cita Bangsa kedepan untuk mencetak para pemimpin- pemimpin kedepan untuk harapan Bangsa kedepan. Bagaimana jadinya bila generasi muda kita sudah terjerumus sebagai penyalahguna narkoba yang sudah mengkawatirkan. Apa jadinya bangsa ini nantinya.

Sebagai generasi penerus Badan Kerjasama Sosial Usaha Pembinaan Warga Tama (BERSAMA) Kenansa Anjani Natasha Sylva menjelaskan, generasi muda Millenial dan generasi Z dihadapkan pada challenges dan juga opportunities di era globalisasi ini.
Tantangan (challenges), yaitu untuk terus menanamkan jiwa nasionalisme dan budaya Timur yang telah dipupuk kuat oleh generasi sebelumnya.

“Sejak kecil kita semua dipupuk untuk berperilaku santun, berbudi luhur, menghormati orang yang lebih tua, dan mengayomi yang lebih muda. Itu merupakan modal penting sebagai pondasi kita. Saya yakin, dengan jati diri yang kokoh dan prinsip yang kuat nasionalisme kita, di era modernisasi dan globalisasi ini kita bisa dengan tegas menolak hal-hal yang merugikan kesehatan fisik dan mental kita, dan fokus pada prestasi kita.

Dengan prestasi kita, kita tunjukan pada dunia, kualitas generasi muda Indonesia, yang dimulai dari diri sendiri, keluarga, dan lingkungan pertemanan yang juga berprestasi. Kontrol sosial sangat penting, jika lingkungan sekitar kita positif, maka kita juga akan selalu berpikir dan bersikap positif,” tandas dr. Kenansa Anjani Natasha Sylva Asisten didang Warga Tama divisi generasi muda millenial – genZi untuk Nasional dan Internasional (BERSAMA) Sabtu (4/7/2020).

Dari pandangan Kenansa, Banyaknya generasi muda saat ini, mulai dari tingkat SD hingga perguruan tinggi sudah terjerumus memakai narkoba. Ada yang pemakai hingga sebagai pengedar menurutnya, banyaknya generasi muda yang begitu karena ikut-ikutan temannya, lingkungannya yang mencap hal tersebut keren, juga sebagai pelarian dari masalah mereka. But for me, it’s not cool at all. Drug abusers think that they can run from their problems, but the fact is they fall deeper to another problems, which is their mental & physical health.

“Saya sebagai dokter pun juga paham jika tidak sesuai indikasi, konsumsi narkoba itu lebih banyak ruginya daripada untungnya. Oleh karena itu, penting sekali pemahaman sejak usia dini bagaimana mencintai demi menjadi diri sendiri (self love for self care).

Peran orang tua sangat penting dalam memberikan pengetahuan kepada anak apa yang mereka konsumsi makanan, obat, bacaan dan lainnya sedini mungkin, sebelum materi tentang narkoba diajarkan, lebih dulu anak sebaiknya dididik dalam bekerja dalam tim di sekolah menjadi bagian dari tim yang bertanggung jawab.

Menjaga kebersihan kelas, diajar jiwa relawan kalau ada bencana alam memberikan sumbangan buku, pakaian layak pakai, hingga pergaulan mereka pun terjaga, dengan demikian mereka tidak akan mengonsumsi rokok, alkohol, apalagi narkoba. Jadi jangankan berpikir menjadi bandar, pemakaipun mereka tidak tertarik, pungkas Asisten Departemen Kardiologi FKUI ini.

Sebagai generasi penerus BERSAMA kata Shasha nama panggilan akrabnya menegaskan, untuk menyikapi peredaran narkoba ini sudah darurat narkoba bagi generasi penerus bangsa ini menjadi , tantangan besar bagi semua generasi muda Indonesia. But i know we can.

“Sikap kita khususnya saya sebagai generasi penerus BERSAMA, juga penerus bangsa dalam menyikapi peredaran narkoba. BERSAMA bagi saya adalah salah satu wadah yang menjadi jembatan untuk berkontribusi nyata sebagai anak bangsa, generasi penerus estafet tugas mulia, demi kemanusiaan, demi generasi emas yg kita semua impikan harus terwujud di tahun 2045 yaitu bonus demografi negeri kita ini suatu generasi penerus yang sehat lahir bathin.

Untuk saya dan team di BERSAMA dapat menciptakan benteng, menjadi benteng, dan mempertahankan benteng itu, melalui suatu Gerakan Nasional Perang Melawan Narkoba berupa pelatihan untuk para Laskar dan Mitra Laskar BERSAMA, yang dimulai dari diri sendiri lalu mengajak orang-orang terdekat dan orang- orang disekitar untuk selalu Bersinar (bersih narkoba).

BERSAMA mempunyai Komunitas Milenial No SAN (No Smoke Alkohol Narkoba). Arah pembinaannya kesana. Mereka harus berada dalam komunitas yang saling support, sehingga terbentuk rasa kebersamaan, gotong royong, kalau satu mau jatuh yang lain menopang,” pintanya.

Untuk itu Shasha berharap untuk ketegasan pemerintah dan dunia pendidikan dalam menyikapi darurat narkoba. Semakin gencar melaksanakan bukti konkrit membentengi masyarakat dengan konsep-konsep , aturan, dan program- program yang terukur dan kontinyu agar narkoba tidak punya tempat untuk masuk di berbagai lapisan masyarakat.

Juga rutin mengedukasi tentang dampak penyalahgunaan narkoba ke dalam bagian kurikulum pendidikan mulai tingkat SD agar makin dipahami oleh generasi muda dampaknya jika menggunakan narkoba, sebelum mereka cari tahu sendiri ke sumber yang tidak tepat, apalagi coba-coba. ( Lian Tambun)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *