oleh

Menelisik Kebenaran Media

GOENAWAN Mohamad pernah menulis begini: “Media bukan pembawa kebenaran terakhir. Media hanya bagian dari ikhtiar bersama untuk menemukan apa yang benar”.

Lantas di mana hakikat kebenaran itu berada terutama bagi media? Masih layakkah media berteriak-teriak sebagai pembawa kebenaran? Sekarang banyak yang mengklaim sebagai pembawa kebenaran. Begitu juga media yang terkadang mengklaim demikian!

Di tengah bejibunnya media sosial, mereka yang mengatakan dirinya sebuah kebenaran juga bertebaran di mana-mana. Di era kemajuan teknologi informasi, ketika di era keterbukaan media dan menjamurnya media sosial maka kebenaran ada di mana-mana. Mereka saling
mengatasnamakan pembawa kebenaran.

Di era keterbukaan seperti sekarang ini setidaknya membuka kesempatan kepada setiap orang atau kelompok untuk menyampaikan ide-ide atau wacana bisa disampaikan kepada pihak lain. Entah itu sebagai wadah berkreasi, berekspresi atau sebagai wadah melancarkan kritik suatu kebijakan. Parahnya lagi menjadi sarana membabi-buta ujaran kebencian dan memprovokasi masyarakat. Kritik menjadi ajang dendam kesumat.

Pilpres telah usai tetapi dendam kesumat itu masih membara dan media sosial menjadi sarana untuk itu. Akhirnya energi bangsa ini terkuras.

Media arus utama terkaget-kaget dengan kondisi media sosial yang tiada henti membanjiri publik dengan informasi yang beraneka ragam. Dari yang ecek-ecek hingga berat seperti politik. Akhirnya masyarakat dibuat bingung tujuh keliling. Mabuk informasi yang bejibun tersebut.

Kini politikus pun sudah tak menjadikan media arus utama sebagai corong untuk berkoar-koar mencari simpati publik. Mereka kini pun memanfaatkan media sosial untuk ramai-ramai mencitrakan dirinya. Mereka mencoba membentuk opini publik.

Ya kini semua telah berubah. Media sosial punya mengambil peran media arus utama dan ikut mengklaim sebagai pembawa kebenaran. Diakui atau tidak, media sosial memiliki sejumlah ciri penting. Di antaranya, ada variasi yang besar dalam kontennya baik dari segi keleluasan (jumlah topik) maupun dari segi kedalamannya (jumlah informasi).

Media arus utama memiliki keterbatasan konten karena ada pertimbangan ruang dan waktu. Media baru tak mengenal istilah ‘deadline’. Media baru (baca: media sosial) memberi kontrol yang lebih besar kepada pengguna (user) atas informasi apa yang akan diterimanya. Dalam model media baru, user mempunyai lebih banyak kemampuan untuk memilih sendiri sumbernya (valid atau tidak urusan belakangan) dan menggali lebih dalam jika mereka merasa butuh. Implikasinya, independensi media arus utama semakin lemah. Media mainstream babak belur!

Afiliasi media dan masuknya kalangan penguasa dalam bisnis media menambah carut-marut independensi media. Perimbangan pemberitaan serta konten berita kerap selalu berpihak pada mereka yang menentukan nasib serta kelangsungan hidup media itu sendiri.

Akhirnya dapat ditebak kemudian: media arus utama yang membawa kebenaran sesuai dengan kebenaran yang dimiliki pemilik modal; mereka yang mengongkosi mati-hidupnya media.

Kalau hal ini yang terjadi maka sulit dibayangkan keberadaan kebenaran. Karena memang seperti yang dikatakan Goenawan Mohamad bahwa media bukan pembawa kebenaran terakhir. Media hanya bagian dari ikhtiar bersama untuk menemukan apa yang benar. So, jadi kebenaran media ada di mana ya? (norman meoko)

 

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *