harmono 03/09/2019


Oleh: Dede Farhan Aulawi

PARTISIPASI masyarakat dalam bentuk pengawasan pembangunan harus dibuka seluas-luasnya agar kualitas pembangunan sesuai dengan persyaratan yang ditentukan guna menjamin umur pakai yang sesuai, serta jaminan keselamatan bagi seluruh penggunanya. Pembangunan jalan yang berkualitas rendah tidak saja merugikan secara ekonomi, tetapi juga membahayakan setiap pengguna jalan tersebut. Pertanyaannya, bagaimana masyarakat bisa mengetahui kualitas aspal jalan yang baik?

Jika ingin menguji kualitas aspal yang baik tentu harus dilakukan dengan pengujian di laboratorium. Bagi masyarakat tentu bukan hal yang mudah jika harus menguji aspal tersebut di laboratorium, oleh karena itu perlu mengetahui ciri-ciri visual aspal secara cepat untuk mencegah pembiaran kualitas aspal yang kurang baik dilakukan secara terus menerus.

Kualitas aspal jalan yang buruk bisa dicegah dengan quality control yang baik, dan partisipasi pengawasan masyarakat dimulai saat pekerjaan aspal dimulai seperti pada saat pemilihan material, pencampuran hotmix, cara pemadatan aspal yang benar, dan sebagainya. Jika melihat kualitas aspal yang dirasa kurang baik agar segera mengambil sampel untuk diuji di laboratorium, agar kualitas aspal bisa terjaga dengan baik.

Sementara untuk melihat mengetahui kualitas aspal jalan yang kurang baik dapat dilakukan dengan memperhatikan ciri-cirinya secara visual seperti:

  1. Warna aspal kurang hitam.
  2. Banyak agregat yang lepas dari aspal jalan.
  3. Ada retak rambut di lokasi tertentu karena pemadatan aspal yang tidak merata dan kondisi tanah di bawahnya masih labil.

Dengan demikian, untuk mendapatkan kualitas aspal jalan yang baik harus mengikuti spesifikasi yang ditentukan baik dalam perencanaan maupun pelaksanaannya. Dari segi perencanaannya tentu harus mengikuti Jobmix Design yang disepakati antara kontraktor, konsultan dan pemberi tugas. Sedangkan segi pelaksanaan harus mengikuti prosedur seperti trial pemadatan yang sudah disepakati.

Aspal jalan yang sering cepat rusak bisa disebabkan oleh beberapa faktor seperti:

  1. Kadar aspal tidak sesuai Job Mix Formula (JMF), yaitu komposisi material penyusun agregat aspal yang dibuat di laboratorium sebelum pelaksanaan di lapangan mulai. Misalnya jika dalam JMF menyebutkan kadar aspal yang harus dipakai minimal 6,2 persen, maka kadar aspal yang digunakan di lapangan harus 6,2 persen juga.
  2. Suhu penghamparan aspal di lapangan tidak sesuai spesifikasi, biasanya terjadi karena jarak AMP (Asphalt Mixing Plant) dengan lokasi pengaspalan terlalu jauh. Suhu aspal yang normal pada saat dituangkan di asphalt finisher adalah 135-150 derajat Celcius.
  3. LPA dan LPB belum keras tetap dipaksakan dilakukan pengaspalan. LPA adalah lapis pondasi atas yang terletak tepat di bawah agregat aspal, sedangkan LPB adalah lapis pondasi bawah yang terletak di bawah LPA dan di atas tanah dasar. Seringkali dalam pelaksanaan di lapangan lebih mengutamakan percepatan tanpa memperhatikan kualitas pekerjaan.
  4. Agregat aspal di atas tanah timbunan yang belum padat.
  5. Jumlah passing pemadatan kurang.
  6. Komposisi abu batu yang berpengaruh pada kualitas kerekatan.
  7. Kurangnya pemadatan menggunakan alat berat. Pemadatan aspal biasa menggunakan dua alat yaitu, tandem roller dan PTR (Pneumatic Tire Roller).

Adapun jenis-jenis retakan di aspal jalan yang sering terjadi adalah:

  1. Retak kulit buaya (alligator cracks), yaitu kerusakan jalan berupa retak yang memiliki celah cukup lebar. Kemungkinan terjadi akibat bahan perkerasan jalan yang kurang baik, tanah dasar lapisan di bawah permukaan kurang stabil yang mungkin terjadi akibat tidak dilakukannya survei terhadap kondisi tanah sebelum dilakukannya perkerasan jalan.
  2. Retak pinggir (edge cracks), yaitu kerusakan jalan berupa retak yang terjadi pada daerah pinggir badan jalan. Kemungkinan yang menjadi penyebab kerusakan ini adalah bahan perkerasan/ kualitas material kurang baik, pelapukan permukaan, air tanah pada badan perkerasan jalan, tanah dasar di bawah permukaan kurang stabil. Selain itu retak ini kemungkinan juga terjadi akibat akar tanaman yang tumbuh di sekitar badan jalan.
  3. Retak halus/rambut. (Penulis adalah Pengamat Konstruksi)

 

Leave a comment.

Your email address will not be published. Required fields are marked*