oleh

Sentuhan Fisik ala Bu Bidan dan Pak Kaur di Tengah Pandemi

SESUAI dengan namanya Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid -19, tugasnya adalah bagaimana membantu pemerintah dalam menangani warga yang terkena Covid -19 atau yang akrab dengan sebutan Corona itu.

Adalah BS seorang bidan desa dan HR seorang kepala urusan ( Kaur)  Kesejahteraan Rakyat ( Kesra)  Desa Pejogol,  Kecamatan Cilongok,  Kabupaten Banyumas,  yang sama -sama mendapat tugas sebagai anggota Gugus Tugas Covid -19 di desanya.

Baik BS maupun HR dalam kapasitasnya sebagai anggota Gugus Tugas , dalam setiap kesempatan selalu ‘ berkampanye ‘ kepada warganya untuk pentingnya cuci tangan, fisical distancing,  pakai masker dan jaga jarak.

Itu yang  BS dan HR lakukan BS dan HR kepada warga.  Akan tetapi sejoli yang sudah sama-sama berkeluarga ini justeru antara keduanya malah saling mendekatkan jarak.  Lebih dari itu malah mereka malah melakukan sentuhan fisik,  bahkan sentuhannya lebih dari itu, sentuhan yang saling memberikan gairah.

Masih tinggal dalam satu desa dan sesekali bertemu dalam tugas,  keduanya awalnya belum merasakan apa-apa.  Kalau kata anak milenial mah belum ada chemistri.  Namun ketika keduanya masuk dalam Gugus Tugas Covid -19 mulailah terjalin cinlok alias cinta lokasi.

Di sela-sela kesibukannya sebagai anggota Gugus Tugas Covid -19, dengan nyolong-nyolong waktu mereka menjalankan Gugus Tugas Asmara dan mengisolasi diri pada sebuah hotel di wilayah tempat wisata Baturaden nan sejuk yang suhu udaranya 14 derajat celsius.

Sebagai anggota Gugus Tugas Covid -19 sejatinya BS dan HR tahu kalau virus corona itu mudah menular di suhu yang dingin. Cuma keduanya yakin suhu yang dingin itu bisa mereka hangatkan dengan bersentuhan fisik ( sambil sedikit mengeluarkan suara berisik).

Entah siapa yang mengirim kabar,  ihwal perselingkuhan itu sampai juga ke telinga suami BS. Bersama warga,  suami BS pun mendatangi hotel tersebut.  Dikawal petugas hotel,  kamar yang dipakai BS dan HR untuk bersentuhan fisik,  suami BS langsung menggedor pintu kamar.

Keduanya kemudian dibawa ke Balai Desa Pejogol untuk disidangkan.  Namun Kepala Desa Pejogol, Suwito tak berani ambil keputusan.  Urusan ini oleh Suwito dilaporkan ke bupati.

Untungnya sesuai keduanya bersentuhan fisik,  BS dan HR tidak positif Corona. Coba kalau positif,  makin ramai aja ini kasus. ( agus suzana)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *