ONE STOP SERVICE MUNGKINKAH? – Poskota.co

ONE STOP SERVICE MUNGKINKAH?

Brigjen Crisnanda Dwi Laksana

PELAYANAN publik merupakan cermin dari peradaban suatu bangsa? Mungkin terlalu lebay. Pelayanan publik refleksi profesionalisme aparatur negara dan wujud kecintaan serta kebanggaanya di dalam membangun peradaban bangsanya. Mungkin ini sedikit lebih mudah dilihat dirasakan oleh publik. Tatkala pelayanan publik ini menjadi sesuatu yangmembanggakan menjadi core dan ikon suatu institusi tentu akan dilakukan dengan prima dan tulus hati. Namun sebaliknya tatkala pelayanan publik menjadi ajang penyimpangan perebutan kewenangan bahkan kesewenang-wenangan, sebenarnya tinggal menunggu saja kapan ini meledaknya.

Pelayanan publik dapat dikategorikan sebagai berikut:

  1. Pelayanan administrasi yaitu pelayanan yang diberikan kepada publik untuk dapat memanfaatkan administrasi baik untuk perizinan, pengkajian, pengawasan, pertanggungjawaban, bahkan untuk mendapatkan fasilitas-fasilitas baik dari pemerintah maupun sektor bisnis.
  2. Pelayanan hukum, ini merupakan bagian untuk adanya kepastian bagi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Dengan adanya kepastian. Pelayanan hukum ini akan memberikan jaminan dari berbagai hal yang bisa menjadi penuh ketidakpastian, juga memberikan solusi secara beradab mampu mencegah bila terjadi penyimpangan-penyimpangan. Selain itu juga mencerdaskan kehidupan bangsa hukum dan penegakannya dilakukan untuk melindungi mengayomi dan melayani masyarakat, korban, juga para pencari keadilan.
  3. Pelayanan keamanan dan keselamatan. Kedua hal ini saling terkait ini akan berkaitan dengan sistem-sistem operasional dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Keamanan dan keselamatan merupakan suatu jaminan yang diberikan untuk memprediksi, mengantisipasi dan memberi solusi dalam kondisi normal maupun kontijensi.
  4. Pelayanan informasi. Di era digital informasi merupakan suatu sumber kekuatan bagi masyarakatnya. Sehingga kecepatan, keakurasiannya, kemudahan mengaksesnya pun menjadi standar keunggulannya.
  5. Pelayanan kemanusiaan, merupakan pelayanan sosial agar keteraturan keharmonian dalam kehidupan sosial dapat berjalan dengan sebagaim semestinya. Pelayanan kemanusiaan sebagai suatu standar prima bagaimana segala sesuatu hal dapat dilakukan secara cepat, tepat, akurat, transparan, akuntabel, informatif, dan mudah mengaksesnya.

Pelayanan publik bisa dikatakan dilayani oleh berbagai institusi. Berbagai spirit menggelorakan untuk sinergi dan berintegrasi, namun faktanya cara-cara konvensional, manual dan parsial terus saja dilakukan. Mengapa demikian terus terjadi? Bisa saja kelompok confort zone, kelompok-kelompok status quo mempertahankan kemapanannya dan kenyamanannya. Enggan untuk melakukan perubahan, atau malah takut kehilangan hak-hak istimewa-istimewanya? Bisa saja demikian. Namun tatkala core dari pelayanan publik adalah untuk mengangkat harkat manusia dan citra bangsa, maka cara-cara konvensional, parsial dan manual akan diperbaharui dengan sistem-sistem online.

Saatnya kita mengatakan akhir dari sistem birokrasi tidak rasional yang sarat dengan pendekatan-pendekatan personal. Sehingga sulit mengukur standar profesionalismenya baik di dalam birokrasi maupun di dalam masyarakat. Membangun birokrasi yang rasional diperlukan suatu political will yang kuat. Tentu didukung para mitra sebagai bagian dari soft power-nya. Para aparatur negara tanpa dukungan dari luar sulit rasanya memperbaiki birokrasinya. Orang-orang di dalam bisa saja menjadi tempered radical yang berpikir out of the box atau keluar dari mainstream yang ada. Namun jebakan-jebakan labirin birokrasi begiturumit dan bisa-bisa membuat orang-orang baik atau yang ingin mewaraskan birokrasi terjebak dan dikorbankan.

Dengan kemajuan teknologi, kemitraan dengan para pemangku kepentingan dalam membangun pelayanan dalam one stop service akan semakin mudah dan banyak efisiensi yang bisa dilakukan termasuk menangkal penyimpangan-penyimpangan. Pelayanan-pelayanan publik sekarang ini secara ekstrem saya analogikan seperti pejagalan/tempat pemotongan hewan. Pemotongannya dari ekor. Tatkala dipotong di ekornya rasa sakit akan membuat yang potong berteriak, dan yang memotong pun menghilang dengan potongannya. Demikian selanjutnya memotong kakinya sama juga yang dilakukan sebelum-sebelumnya. Rasa sakit dan penyiksaan inilah yang disukai kaum-kaum mapan dan nyaman. Tatkala di-online-kan maka sistem-sistem yang di-online-kan secara elektronik melalui back office aplication dan network-nya, maka masyarakat cukup datang ke suatu tempat atau secara online untuk mendapatkan sistem-sistem pelayanan yang dibutuhkan. Yang bisa dikerjakan dengan sistem mengapa harus dilakukan manusia? Pertanyaannya kalau semua online apa gunanya sumber-sumber daya manusia? Ini pertanyaan konyol, namun sering menjadi pembenar untuk berjayanya status quo. SDM ini aset utama bangsa kehebatan manusia ini ada pada pemikirannya, hati nuraninya dan ototnya atau tenaganya. Gerakan-gerakan menuju one stop service dikakukan pada back office melalui aplikasi-aplikasi elektronik yang terhubung satu dengan lainnya. Para pekerja/SDM-nya tentu akan menjadi penghubung, menjembatani untuk adanya solusi-solusi yang profesional, cerdas, bermoral dan modern.

Meningkatnya harkat dan martabat para aparatur negara tatkala birokrasi mampu membangun sistem-sistem pelayanan dalam one gate service dalam sistem-sistem online melalui aplikasi-aplikasi elektronik yang mampu memberikan pelayanan-pelayanan tersebut secara prima. Yang cepat tepat akurat transparan akuntabel informatif dan mudah diakses. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

BREAKING NEWS :
[caption id="attachment_3182" align="alignnone" width="300"] ilustrasi[/caption] POSKOTA.CO- Hukuman mati yang disandang Silvester Obiekwe alias Mustofa,50, Warga Negara Nigeria tidak membuatnya sadar. Justru Silvester Obiekwe alias Mustofa kembali menjalankan bisnis haramnya. Ulah si hitam itu akhirnya dibongkar aparat Badan Narkotika Nasional (BNN), dari dalam Lembaga Pemasyarakatan(Lapas) Pasir Putih, Nusakambangan, Cilacap, Jawa Tengah. Aksi Obiekwe dibantu oleh teman satu selnya bernama Andi,32.” Dia mengendalikan bisnis narkobanya dari balik jeruji besi. Meski sudah divonis mati tidak membuatnya jera,” kata Kepala BNN Komjen Anang Iskandar, Jumat(30/1). Anang menjelaskan, kasus tersebut terungkap setelah petugas BNN menerima inpormasi intelijen, yang menyebutkan bisnis narkoba asal Goangzu, Tiongkok dikendalikan oleh Silvester Obiekwe alias Mustofa, yang mendekam di Lapas Nusakambangan. Berkat informasi itu, kata Anang, petugas melakukan penyelidikan dan menangkap tersangka Dewi disebuah parkiran hotel Gunung Sahari, Jakarta Pusat, pada pukul 22.30 WIB. Dari tangan Dewi petugas menyita barang bukti berupa 1.794 gran shabu. "Kami lakukan pengembangan ke kontrakan di kawasan Kemayoran dan kembali menemukan barang bukti sabu 5.828 gram. Disembunyikan di dalam kardus. Sabu tersebut dikemas dalam 56 pastik berukuran sedang. Jadi total sabunya 7.622 gram," ungkap mantan Deputy Pencegahaan BNN ini. (sapuji)