DIBUTUHKAN KABARESKRIM YANG JUJUR DAN ‘KERAS KEPALA’ – Poskota.co
Saturday, September 23

DIBUTUHKAN KABARESKRIM YANG JUJUR DAN ‘KERAS KEPALA’

KAPOLSEKPOSKOTA.CO – Polisi sederhana nan jujur itu memang ‘keras kepala’. Dalam bekerja, saat mengungkap kasus, ia tak pernah sekalipun mau diatur, apalagi untuk ‘main mata’.

Siapa dia ? Anda pasti tahu…apalagi para polisi, mulai dari prajurit biasa, perwira tinggi, hingga Kapolri tahu….Jenderal itu bernama Hoegeng Imam Santoso.

Tercatat, karir Hoegeng mencapai klimaksnya pada tahun 1960. Sukses membongkar aksi penyelundupan mobil mewah yang dilakukan adalah seorang taipan, Robby Tjahyadi (1960), Hoegeng pun berbuah pahit. Bukan pujian yg diperoleh, tapi ia pun dipecat dari jabatan Kapolri.

Catatan tentang seorang Hoegeng memang penuh ironi. Presiden Soeharto yg kala itu berupaya bermain cantik, mencoba membujuk Hoegeng dengan menawarkan posisi menjadi diplomat.

Tapi sekali lagi, polisi ‘keras kepala’ itu menolak. Alasannya, seorang diplomat harus bisa coktail, sementara dia seorang abdi hukum semata.

Begitulah Hoegeng, Ia tak perlu jabatan, kalau disuruh melawan nurani sendiri. Ia lebih memilih hanyut dialunan musik Hawaiaan dari pada bersekutu dengan ketidak adilan.

Dan Anda tahu ? Hoegeng juga tak butuh kehormatan, diakhir hayatnya, ia bahkan menolak Taman Makam pahlawan. Hoegeng memilih dimakamkan di Taman Pemakaman umum Giri Tama, disudut kota Bogor.

Hoegeng telah membuktikan, polisi yg baik, jujur dan ‘keras kepala’ tidak mendapat tempat di negara ini. Bahkan, mungkin sampai saat ini pun, polisi baik itu masih tersingkirkan. Masih acap terlihat secara kasat mata, pucuk pimpinan Polri bahkan presiden masih bertindak mirip Soeharto pada jamannya.

Perwira ya tak disukai pimpinan masih rawan kena tendang. Bahkan yang paling gawat, pintu kesempatan pun tertutup rapat bagi perwira-perwira yang bukan ‘orangnya’ penguasa. Belum ada keadilan untuk semua.

Alhasil, nama-nama yang muncul untuk mengisi jabatan strategis dilingkungan Polri, selama ini cenderung tergantung selera dan mungkin berdasarkan kepentingan subjektif.

Saat ini, drama perebutan kursi Kabareskrim Polri sedang berlangsung. Dan semoga saja..ada terobosan baru. Kapolri dan Wanjakti tidak mengedepankan selera pribadi dan kepentingan subjektif.

Tapi benar-benar berdasarkan objektifitas. Sehingga kerinduan munculnya Hoegeng-Hoegeng yang baru sedikit terobati. Edi S Ginting. Direktur Eksekutif INW

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

BREAKING NEWS :
POSKOTA.CO - BRI Cabang Kabupaten Majene mangkir dari panggilan Ombudsman Provinsi Sulawesi Barat untuk melakukan klarifikasi terkait raibnya tabungan warga Kecamatan Tinambung, Kabupaten Polewali Mandar di Bank BRI Cabang Majene. "Kami sudah melakukan panggilan kepada Kepala Bank BRI Majene untuk melakukan klarifikasi atas raibnya tabungan warga di BRI Majene, namun Bank BRI Majene mangkir dari panggilan," kata Asisten Bidang Pencegahan Ombudsman Perwakilan Provinsi Sulbar, Muhammad Sukriadi Azis S,Ip di Mamuju, Jumat. Ia mengatakan, Ombudsman kembali memanggil Kepala BRI Cabang Majene sampai pada panggilan ketiga dan bila belum diindahkan panggilan yang ketiga maka akan dilakukan pemanggilan paksa dengan melibatkan aparat kepolisian. "Kami akan lakukan panggilan sesuai dengan kewenangan Ombudsman Sulbar kami harap BRI Majene bersedia menerima panggilan Ombudsman Sulbar," katanya. Menurut dia, Ombudsman Sulbar telah menerima laporan nasabah BRI Majene yang tabungannya raib di BRI Majene sebanyak Rp400 juta, raib, "Kami telah menerima laporan dari seorang warga Kecamatan Tinambung, Kabupaten Polman, atas nama Subli Sukardi, yang mengaku uang tabungannya raib senilai Rp400 juta, di Bank BRI Cabang Majene, sehingga kita panggil BRI Majene melakukan klarifikasi," katanya. Ia mengatakan, warga itu menyampaikan jika uangnya raib diduga karena telah terjadi penggelapan dana di Bank BRI Majene. "Pelapor mengaku bahwa diduga salah seorang oknum pegawai negeri sipil di lingkup Pemkab Majene, telah bersekongkol dengan staf Bank BRI Majene, mencairkan tabungannya sehingga tabungannya raib," katanya. Menurut dia, uang tabungan pelapor telah ditarik sebanyak tiga kali direkeningnya sehingga tabungannya itu raib sejak bulan Juli tahun 2013. Ia menyampaikan bahwa atas laporan tersebut maka pihak Ombudsman Sulbar menindaklanjutinya dengan memanggil Kepala BRI Majene dan melakukan pemeriksaan terhadap staf Bank BRI dan oknum PNS yang dimaksud, namun yang dipanggil ternyata mangkir.