KAMSELTIBCAR LALU LINTAS – Poskota.co

KAMSELTIBCAR LALU LINTAS

Brigjen Pol Crisnanda Dwi Laksana

KETERATURAN dalam berlalu lintas dibangun dengan sistem yang terpadu antarpemangku kepentingan.

Saatnya membangun ‘one stop service’; sistem pelayanan terpadu pada satu sistem.

Akar masalah gangguan kamseltibcar lantas dari berbagai faktor:

  1. Faktor manusia,
  2. Faktor jalan,
  3. Faktor kendaraan bermotor,
  4. Faktor alam,
  5. Faktor sosial kemasyarakatan.

Masalah yang timbul dari kelima faktor dapat dikategorikan sebagai ‘black spot’ dan ‘trouble spot’.

‘Trouble spot’ dapat dikatakan sebagai area kemacetan yang disebabkan adanya perlambatan. Yang disebabkan dari pelanggaran maupun sistem atau secara geografis yang tidak tepat.

Adapun ‘black spot’ dapat dikategorikan sebagai area rawan kecelakaan:

  1. Yang disebabkan dari situasi yang mendorong pengemudi untuk ngebut dan melanggar batas kecepatan maksimal,
  2. Bisa juga karena area atau ruas jalan yang membuat pengemudi ataupun kendaraan bermotor kehilangan kompetensi maupun fungsi yang sebagaimana semestinya,
  3. Atau ruas jalan/area yang terjadi laka menonjol/dengan korban fatal berulang dari rentang waktu tertentu.

Pola korps lalu lintas (korlantas) menjalankan fungsinya menangani masalah keamanan, keselamatan, ketertiban dan kelancaran lalu lintas (kamseltibcar lantas) dapat dikategorikan dari ranah birokrasi dan masyarakat:

1. Dalam ranah birokrasi yang dilakukan mencakup:

a. Kepemimpinan yang transformasional (visioner, empowering, inovatif dan kreatif, menjadi role model dan mampu menjadi quality insurance),
b. Bidang administrasi yang mencakup:

1) planing organizing actuating maupun controlling,
2) membangun SDM yang berkarakter melalui edukasi, training dan coaching. Menanamkan core value sebagai pembelajar yang berbasis kompetensi,
3) sarpras dibuat model perorangan, unit dan kesatuan yang berbasis IT atau sistem online yang dikendalikan dari back office aplication dan network,
4) anggaran baik yang budgeter maupun nonbudgeter yang dari RAKKL, DIPA, dan LAKIP-nya sejalan dan dapat dipertanggungjawabkan secara administrasi, hukum, fungsional dan moral.

c. operasional baik yang bersifat rutin, khusus dan kontijensi.
d. capacity building sebagai terobosan kreatif dalam memberikan pelayanan prima.

2. Di ranah birokrasi mencakup:

a. kemitraan,
b. pelayanan publik:

1) pelayanan keamanan,
2) pelayanan keselamatan,
3) pelayanan hukum,
4) pelayanan administrasi,
5) pelayanan informasi,
6) pelayanan kemanusiaan.

c. Problem solving,
d. Membangun jejaring.

Sejalan dengan pola-pola tersebut di atas dapat dikembangkan melalui program sebagai berikut:
1. Edukasi secara kurikulum sampai dengan SLTA, program-program korlantas dan jajarannya dalam program-program road safety:

a. Polsanak,
b. Polcil,
c. Pks,
d. Taman lalu lintas,
e. Safety riding/driving,
f. Police go to school/campus,
g. Cara aman ke sekolah,
h. Kampanye keselamatan dan sebagainya.

Yang dilakukan secara langsung maulun melalui media (cetak, elektronik maupun sosial).

2. Membangun sistem-sistem terpadu dan infrastruktur melalui intan, SSC, SDC, ERI, SMK dan pusatnya TMC yang bisa dikembangkan melalui aplikasi-aplikasi lainnya.
3. Membangun siatem uji SIM yg terpadu dengan catatan perilaku berlalu lintas, de meryt point system.
4. Penegakan hukum yang dimulai secara manual dan online (titip denda tilang di bank tanpa hadir sidang pengadilan) menuju GAKKU. Secara elektronik atau ELE.

Program-program di atas dijabarkan dalam program-program prioritas pada:
1. Direktorat regident,
2. Direktorat penegakan hukum,
3. Direktorat keamanan dan keselamatan,
4. Bag ops,
5. Bag renmin,
6. Bag tekinfokom.

Yang kesemua itu diikuti jajaran ditlantas polda hingga satlantas polres dan unit polantas polsek dalam tahun keselamatan untuk kemanusiaan.

Program-program ini dijabarkan dalam time line yang diatur untuk pra, saat dan pasca.

Stop pelanggaran
Stop kecelakaan
Keselamatan untuk kemanusiaan (*)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

BREAKING NEWS :
[caption id="attachment_2898" align="alignnone" width="300"] Anang Iskandar[/caption] POSKOTA.CO- Kepala Badan Narkotika Nasional(BNN) Komjen Anang Iskandar mendesak kepada Jaksa Agung Prasetyo untuk segera mengeksekusi terpida mati kasus narkoba. Salah satunya adalah terpidana mati yang kembali mengendalikan bisnis narkoba Warga Negara Nigeria, Silvester Obiek. "Iya, ingin (Silvester) segera dieksekusi mati? Saya laporkan tadi ke Pak Jaksa Agung," kata Anang kepada wartawan di Kejagung, Senin(2/2). Anang berharap, eksekusi mati yang dijalankan pihak kejaksaan, diharapkan tidak terlalu lama waktunya dari eksekusi mati pertama. "Kami ingin efek jera bagi mereka, eksekusi hukuman mati perlu tapi jangan sekali dan jedanya jangan terlalu panjang. Semoga gelombang kedua nggak tahun depan. Kami ingin penegak hukum punya integritas yang tinggi," ujar mantan Kapolda Jambi ini. Sementara itu, Jaksa Agung M Prasetyo mengaku, pihaknya masih menunggu grasi yang diajukan Silvester Obiek ke Presiden Joko Widodo(Jokowi). "Yang bersangkutan (Silvester) ajukan grasi, nanti kita cek lagi,‎" kata Prasetyo. Sebelumnya, petugas BNN mencokok seorang kurir shabu bernama Dewi disebuah parkiran hotel Gunung Sahari, Jakarta Pusat, pada pukul 22.30 WIB.Dari tangan Dewi petugas menyita barang bukti 1.794 gram shabu. Kepada penyidik, Dewi mengaku, dirinya disuruh Andi teman satu sel Silvester Obiek, untuk mengirimkan shabu tersebut kepada seseorang berinsial E yang masih buron. Belakangan diketahui, bisnis narkoba tersebut dikendalikan oleh Silvester Obiek yang mendekam di Lembaga Pemasyarakatan(LP) Nusakambangan, Cilacap, Jawa Tengah, dan sudah beberapa kali tersangkut kasus narkoba dan divonis hukuman mati.(sapuji)