oleh

Pengrajin Terasi Muaragembong Butuh Uluran Tangan Pemerintah

.

POSKOTA.CO-Siapa yang tak mengenal terasi ? Bumbu masak khas masyarakat Indonesia ini   terbuat  dari ikan dan/atau udang rebon yang difermentasikan, berbentuk seperti adonan atau pasta dan berwarna hitam-coklat, kadang ditambah dengan bahan pewarna sehingga menjadi kemerahan.

Selama ini, kita mengenal terasi yang bermutu dari Cirebon. Namun siapa sangka, bahan dasar terasi  Cirebon ternyata berasal dari  pengrajin terasi Desa Pantai Bahagia,  Kecamatan Muaragembong. Kabupaten Bekasi.

Pengrajin terasi tersebut sejak lama menjadi binaan Dinas Peternakan Perikanan dan Kelautan yang kala itu dipimpin Ir. H. Agus Trihono.

Napian, pemilik pembuatan bahan dasar terasi tersebut,  mengatakan, sebelum  kegiatan usahanya ditinjau Dinas Peternakan Perikanan dan Kelautan Kabupaten Bekasi,  mengolah terasi dengan cara yang sangat tradisional.

“Alhamdulilah, pada beberapa tahun lalu kami mendapatkan bantuan empat unit mesin penggiling dari Dinas Peternakan Perikanan dan Kelautan,  sehingga proses pengolahan bahan dasar terasi menjadi lebih cepat,”  ujar Napian.

Agus Trihono yang kini menjadi Kepala Dinas Perikanan dan Kelautan ( karena Bidang Peternakan Gabung ke Dinas Pertanian) kembali menyempatkan diri mengunjungi kembali usaha pengolahan terasi tersebut pada Rabu ( 26/8).

Kepada Mimbar-Rakyat.Com, Agus mengatakan, sampai saat ini usaha pengolahan terasi tersebut memang masih terkendala pada pembuatan label dan pemasaran. Jadi,  terasi tersebut hanya bisa dijual dalam bentuk yang belum dikemas dan diberi merek.

” Pembuat terasi ini menjualnya secara karungan ke beberapa daerah,  utamanya Cirebon dan Indramayu,” terang Agus.

Napian yang usaha pembuatan terasi ini merupakan warisan orang tuanya, mengatakan,  semua terasi, baik yang terasi udang rebon, terasi udang jambret maupun terasi ikan, dipasarkan ke Cirebon karena sudah memiliki Brand Market.

Dikatakan Agus, pengrajin terasi tersebut masih butuh bantuan dalam  pengepakan dan pemasaran. Untuk itu,  pihaknya berencana mengajak Dinas Koperasi dan UMKM untuk membantu mereka.

” Kami juga tentunya sangat mengharapkan Pmerintah  Kabupaten Bekasi membantu dalam mengembangkan usaha ini,” harap Napian.

“Misalnya dengan Brand Terasi Muara Gembong dan didaftarkan ke Hak Paten,.” ujar Napian.

Dirinya merasa bangga jika hal itu terwujud. Selain mengangkat nama Muara Gembong sebagai sentra pengrajin terasi juga mengangkat nama Kabupaten Bekasi sebagai daerah penghasil terasi.

Melalui usahanya yang kini   berbentuk koperasi dengan nama “Harapan Kita Bersama” mampu membuat 1 kwintal terasi  sehari apabila bahan dasar pembuatan terasi sedang banyak. Sedangkan pada masa paceklik hanya sekitar 30 – 50 Kilogram saja.

Kendala terbesar dalam membuat terasi, terang Napian,  terjadi apabila musim penghujan. Karena udang rebon, udang jambret dan ikan harus dijemur terlebih dahulu.

Peran pemerintah daerah,  khususnya  khususnya Dinas Koperasi dan UMKM untuk bisa mendapatkan sertifikat hak paten, brand market, alat pengering serta permodalan.

“Syukur-syukur malah dari Kementerian atau Pak Presiden,” ujarnya.

Presiden Joko Widodo beberapa lalu pernah datang ke Muaragembong dalam pembuatan tambak udang untuk masyarakat.

” Kami sangat berharap bila sewaktu-waktu Pak Presiden berkunjung kembali ke Muaragembong untuk berkenan meninjau pengolahan terasi di koperasi kami,” ujar Napian.

Harapnya, dengan dukungan pemerintah dan masyarakat Kabupaten Bekasi terasi Muara Gembong dapat bersaing dengan terasi Cirebon.

Saat ini, terasi yang diproduksi Koperasi “Harapan Kita Bersama”  dipasarkan ke Cirebon dengan harga Rp. 20 ribu/ Kg untuk terasi udang dan Rp. 10 ribu/Kg untuk terasi berbahan dasar ikan. ( agus suzana)

Napian menunjukkan cara pengolahan terasi
p

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *