oleh

Kampung Tengah Desa Puraseda Leuwiliang Punya Masjid di Zaman Belanda

POSKOTA.CO – Kampung Tengah di Desa Puraseda, Kecamatan Leuwiliang, Kabupaten Bogor memiliki sejarah panjang.

Kampung yang kini terisolasi pasca terputusnya jembatan akibat banjir bandang melanda daerah ini lima tahun lalu, merupakan kawasan yang dihuni satu rumpun keluarga turun temurun sejak jaman penjajahan Belanda.

Bukti-bukti yang menguatkan sejarah kampung ini yakni keberadaan sebuah masjid yang berdiri di tengah hamparan persawahan.

Nining Karmila Sari, generasi buyut dari penghuni pertama wilayah Kampung Tengah bercerita, jika masjid tersebut merupakan masjid pertama di Kampung Tengah yang ada di zaman Belanda.

Masjid ini di bangun oleh Mualim Sumpena yang merupakan kakeknya. Begitu bersejarahnya Kampung ini, warga akhirnya menolak relokasi yang ditawarkan pemerintah saat wilayah ini dilanda Nannie bandang hingga terputusnya jembatan Puraseda.

“Kenapa kami terus perjuangkan kembali dibangun kembali jembatan dan menolak relokasi yang ditawarkan pemerintah, karena ini tanah leluhur kami. Kami lahir dan tumbuh besar disini. Kampung Tengah ini punya histori panjang. Kami anak cucu tidak rela pindah. Walau sekarang banyak anak dan cucu tidak tinggal di sana, tapi ini tanah leluhur kami,”kata Nining.

Kisah berdirinya masjid ini menurut Nining juga berliku. Bahkan di masjid ini ada tersimpan sebuah batu hitam.

“Batu hitam ini di simpan kakek Mualim Sumpena. Jadi ada sejarahnya,” ujarnya.

Kampung Tengah, Desa Puraseda, Kecamatan Leuwiliang, Kabupaten Bogor menjadi terisolasi, karena terputusnya jembatan.

Warga Desa Puraseda dari tahun ke tahun sudah mengadu ke pemerintah desa hingga kecamatan. Namun apa yang didambakan berupa perbaikan jembatan, tak kunjung Di realisasikan pemerintah.

Nining Karmila Sari mengatakan, saat banjir melanda daerah ini, persawahan tergenang, sekolah roboh, jembatan terputus dan beberapa rumah warga hancur.

Namun untuk masjid masih ada hingga sekarang. Sejarah inilah, masalah jembatan untuk warga Kampung Tengah, terus di suarakan dan dibahas dari tahun ke tahun.

“Bahkan empat tahun terakhir warga terus menyuarakan, namun tak direspon pemerintah,”ungkap Nining.

Warga lain juga menegaskan komitmen penolakan relokasi yang ditawarkan pemerintah.

“Untuk relokasi pun warga tidak mau.Untuk sekolahan SD yang terdampak saat banjir, sudah direlokasi. Singkatnya warga tidak mau direlokasi karna mempunyai historis,”ujarnya. (yopi/sir)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *