oleh

Jelang 75 Tahun Kemerdekaan RI, Jembatan di Leuwiliang Tak Kunjung Diperbaiki

POSKOTA.CO – Demi mendapatkan ilmu untuk masa depan, anak-anak Kampung Tengah, Desa Puraseda, Kecamatan Leuwiliang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat harus bertarung nyawa setiap harinya.

Kondisi yang dialami warga Kampung Tengah ini sudah lebih dari lima tahun. Pemkab Bogor menutup mata atas kejadian ini.

Warga Desa Puraseda dari tahun ke tahun sudah mengadu ke pemerintah desa hingga kecamatan. Namun apa yang didambakan berupa perbaikan jembatan, tak kunjung di realisasikan pemerintah.

Nining Karmila Sari mengatakan, masalah jembatan untuk warga Kampung Tengah, sudah dibahas dari tahun ke tahun. Bahkan empat tahun terakhir warga terus menyuarakan, namun tak direspon pemerintah.

Derita warga Desa Puraseda ini bermula, saat jembatan yang menghubungkan Kampung Tengah dengan Kampung Caringin yang di bangun oleh Adung dengan dana sendiri terbawa arus saat wilayah ini dilanda banjir besar, akibat meluapnya sungai Puraseda lima tahun lalu.

“Jembatan ini dibangun dengan uang pribadi bapak Adung (almarhum). Jembatan ini lalu digunakan anak-anak untuk menyeberang ke sekolah dan warga setempat, untuk kegiatan sehari-hari termasuk kegiatan keagamaan. Tidak ada uang pemerintah saat awal bangun jembatan ini,”kata Nining.

Namun jembatan yang hanyut terbawa air sungai lima tahun lalu, tidak juga diperbaiki, warga lalu membuat jembatan rakit.

Tujuannya agar aktifitas warga bisa berjalan dan aktifitas anak-anak untuk bersekolah bisa berjalan.

Dibangunnya jembatan yang hanya bertumpuk pada seutas tali sebagai pengikat secara swadaya masyarakat menurut Nining, sangat mengancam keselamatan jiwa anak-anak dan warga setempat saat menyeberang.

“Warga disini sudah lelah. Sudah bosan. Sudah cape. Camat pernah datang ke lokasi ini 2 tahun lalu tapi nggak ada realisasi,” ujarnya.

Menurut Nining, dalam sejarahnya, Kampung Tengah di Desa Puraseda, Kecamatan Leuwiliang, Kabupaten Bogor ini, merupakan tanah wakaf yang diwariskan dari kakek buyutnya.

“Tanah yang dihuni secara turun temurun ini sekarang memprihatinkan. Seperti terisolasi. Pemerintah Kabupaten Bogor dimana. Kasihan anak-anak mau sekolah dan ibu-ibu kalau mau mengaji ke kampung sebelah. Mereka harus bertarung nyawa menyeberangi sungai dengan jembatan darurat. Sudah 5 tahun derita kami ibu Bupati. Jangan diam begini. Apa harus ada korban nyawa dulu baru aksi,” ujar Nining kesal.

Menurut Nining, masyarakat setempat sudah mengadu ke pihak desa dan kecamatan. Bahkan saat belum ada kejelasan pemerintah,  kapan jembatan dibangun, warga yang bergotong royong membuat jembatan darurat,  pihak desa tidak pernah ikut menyumbang.

“Jembatan rakit dibangun 5 tahun lalu pasca hanyut terbawa air bah sungai Puraseda, pihak desa maupun kepala desa sendiri, tidak ada satu rupiahpun yang mereka sumbang. Ini swadaya masyarakat,”paparnya.

Selain jembatan, meluapnya air sungai Puraseba juga merobohkan sekolah dasar yang menjadi tempat anak-anak setempat menuntut ilmu.

“Bangunan SD Kampung Tengah juga terbawa air saat banjir melanda wilayah ini. Sekolah akhirnya sudah dipindahkan. Jembatan yang belum,”ungkapnya.

Nining dan ribuan warga setempat berharap, jelang 75 Tahun Kemerdekaan RI, Pemkab Bogor secepatnya membangun kembali jembatan sepanjang 25 meter ini.

“Panjang jembatan yang dibangun buyut saya, awalnya kurang lebih 25 meter ya.

Semenjak terbawa air banjir, banyak rumah penduduk juga yang terbawa air. Sawah penduduk juga gagal panen, karena tersapu air. Sekarang jembatan terlihat lebih panjang, karena terus di kikis air,”kata Nining.

Nining, nenek satu cucu ini menegaskan, desakan agar jembatan kembali dibangun oleh pemerintah Kabupaten Bogor ini, karena ingin terus mengenang jasa buyut mereka almarhum Adung yang awalnya membangun jembatan permanen dari betonisasi ini dengan dana sendiri, hanya tinggal kenangan.

“Kepala Desa dan Camat sudah berganti beberapa kali tapi nggak ada yang peduli. Mereka nggak bergeming sedikitpun melihat warganya bertarung nyawa tiap hari melintasi jembatan darurat ini,”tegasnya.

Bahkan saat warga bertemu Yusep, petugas dari BPD, jika dana untuk pembangunan jembatan Kampung Tengah sudah ada, akan tetapi satu dan lain hal, dana tersebut dialihkan ke proyek lain.

Warga lalu bertanya, apakah bisa anggaran yang sudah di ploting untuk pembangunan jembatan, bisa dialihkan ke proyek lain.

“Atas pertanyaan warga ini, orang BPD nggak bisa kasih jawaban. Alasannya, anggaran di pindahkan, karena ada potensi kampung lain takut kebanjiran,”kata Nining. (yopi/sir)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *