oleh

Bogor Luncurkan Uji Coba Operasi Bus Jabodetabek Residence

POSKOTA. CO – Wali Kota Bogor Bima Arya menghadiri peluncuran uji coba operasi bus Jabodetabek Residence (JR) Connexion di proyek apartemen Grand Central, samping pintu masuk Stasiun Bogor, Jalan Mayor Oking, Bogor Tengah, Kota Bogor.

Dengan beroperasinya JR Connexion dari Perusahaan Umum Pengangkutan Penumpang Djakarta (Perum PPD) di dekat Stasiun Bogor ini melengkapi trayek sebelumnya yang berangkat dari Tamansari Persada, Tanah Sareal, Kota Bogor.

Tampak hadir dalam prosesi flag off tersebut Direktur Utama PPD Pande Putu Yasa dan Kepala Badan Pengelola Transportasi Jabodetabek (BPTJ) Polana B Pramesti.

Bima Arya mengatakan, uji coba operasi JR Connexion dari perum PPD ini merupakan langkah lebih maju untuk mengurai kepadatan penumpang KRL dan kemacetan di Jakarta. “Kalau dibilang membantu, sangat membantu. Tapi kalau bicara apakah cukup, belum tentu. Oleh karena itu kolaborasi ini harus terus bertambah lagi untuk menjangkau segmentasi penumpang lain, menambah titik lain dan menambah moda lain,”kata Bima Arya.

“Ini bukan akhir, nanti pasti ada kolaborasi lagi. Karena bagaimanapun harus berpikir 20 ribu penumpang dari Bogor ke Jakarta pada hari biasa itu bisa dilayani dengan baik tanpa antrean dan berdesakan. JR Connexion sebagai salah satu alternatif saja. Solusi yang ditawarkan ini saya kira bukan untuk Bogor saja ya, tapi juga membantu ganjil genapnya Jakarta, sehingga banyak warga yang pilih pakai kendaraan umum. Busnya juga saya lihat tadi sudah sangat nyaman,” tambahnya.

Bus JR Connexion tersebut mulai resmi beroperasi pada 4 Agustus 2020 dengan tarif promo Rp 15 ribu. Ada tiga trayek yang dilayani dari titik keberangkatan Grand Central samping Stasiun Bogor, yakni menuju Stasiun Juanda (05.15, 05.45, 07.30 WIB), Stasiun Manggarai (05.20, 05.50, 07.40 WIB) dan Stasiun Tebet (05.30, 06.00, 07.45 WIB). Trayek tersebut juga melayani jam pulang dari tiga titik tujuan tadi menuju Stasiun Bogor.

Fasilitas yang ditawarkan selain kursi sandar 2-2 yang nyaman, juga dilengkapi dengan AC, free WiFi dan colokan listrik untuk mengisi daya baterai ponsel penumpang. Bahkan, bus JR Connexion sudah menerapkan protokol kesehatan menuju Adaptasi Kebiasaan Baru untuk mencegah penyebaran Covid-19.

“Ini bagian dari kolaborasi dalam membangun sistem transportasi. Hikmah dari covid kita ini dipaksa untuk bergerak lebih cepat. Tantangan kita semua yang harus dilakukan bukan menyesuaikan kebiasaan tetapi membangun kebiasaan. Covid ini menguji sistem yang kita miliki. Sekarang juga kita diuji dalam sistem transportasi? Kita dipaksa untuk secara cepat terus beradaptasi dan membuat gebrakan-gebrakan. Masa kita biarkan 20.000 penumpang KRL setiap hari terus berdesak-desakan, kan tidak. Tetapi paling tidak langkah ini dapat membangun kebiasaan dan membangun sistem mudah-mudahan bisa mengakselerasikan semua yang ada disini,” tandasnya.

Di tempat yang sama, Direktur Utama PPD Pande Putu Yasa mengatakan, di Bogor sudah ada tiga titik pemberangkatan JR Connexion. Dua titik di Kota Bogor (Grand Central Stasiun Bogor dan Tamansari Persada) dan satu titik di Kabupaten Bogor, yakni Sentul City.

Di Tamansari Persada Bogor sendiri tersedia dua trayek, yakni menuju Blok M dan Juanda dengan jam keberangkatan 05.30, 06.00 dan 09.00 WIB.

Harga tiket promo yang ditawarkan adalah Rp15 ribu. Sementara dari Sentul City atau tepatnya depan Masjid Besar Jabal Nur jam keberangkatan dimulai pukul 05.30, 06.00 dan 09.00 WIB dengan harga tiket Rp 25 ribu menuju Pasar Raya Blok M.

“Nanti ke depan, baik di Kota Bogor atau di perumahan dimanapun akan dibuka pelung pembukaan titik-titik baru. Ini merupakan bentuk kepedulian dari pemerintah dalam hal ini dipercayakan kepada Perum PPD untuk memberikan sumbangsih pelayanan transportasi sebaik mungkin kepada masyarakat. Kalau kita berbicara bisnis ada untung ruginya. Setiap membuka trayek baru pasti rugi, tapi kami tidak melihat ke sana,” ujar Pande.

“Mudah-mudahan layanan yang sudah kami berikan di Kota Bogor ini dapat berkembang di kota-kota lain. Kami melihat animo penumpang sudah mulai bergerak naik. Rencana kami juga dari sana Sentul City ada beberapa feeder dari Kota Bogor (dengan Trans Pakuan). Semoga JR Connexion bisa menjadi alternatif moda transportasi selain KRL,” tambahnya.

Sementara itu, Kepala BPTJ Polana B Pramesti mengungkapkan, layanan ini diharapkan bisa menjadi pilihan bagi warga yang biasa melakukan perjalanan menggunakan kendaraan pribadi.

“Berdasarkan data pada 2019 ada pergerakan orang sekitar 88 juta per hari di Jabodetabek dari penduduk sekitar 30 juta. Ini yang menyebabkan kerugian akibat macet yang lumayan besar dalam setahun itu bisa mencapai triliunan rupiah. Kita targetkan juga di 2029 pengguna angkutan umum mencapai 60 persen. Pada 2019 baru 32 persen, kita dorong terus masyarakat agar bisa menggunakan transportasi umum. Sejalan dengan itu juga tentu fasilitas layanan harus ditingkatkan, salah satunya dengan menghadirkan JR Connexion ini,” ujar Polana. (ymd)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *