TERUNGKAP, KPK BELUM MENYENTUH BIANG KEROK PENGADAAN PUPUK SUBSIDI – Poskota.co

TERUNGKAP, KPK BELUM MENYENTUH BIANG KEROK PENGADAAN PUPUK SUBSIDI

POSKOTA.CO – Wid, seorang direktur PT. Berdikari yang diduga terlibat penyelewengan pupuk subsidi masih gentayangan. Ini salah satu hal yang menjadi bahan konflik antar pejabat KPK, karena dugaan kuat ada oknum yang main mata, sehingga kasusnya belum tersentuh.

Kasus pupuk yang jelas merugikan petani tersebut terjadi pada 2010 sudah 7 tahun KPK belum menindak lanjuti lagi. Padahal, Asep Sudrajat Sanusi selaku direktur PT. Berdikari sudah ditetapkan sebagai tersangka atas pengadaan urea tablet di Jateng.

Kabar terbaru Wid juga memberikan hadiah mobil pada sejumlah wakil rakyat di DPR. Wakil rakyat tersebut punya peran penting sebagai penghubung dan mengetahui persis kemana aliran suap pembelian pupuk tersebut. “Penghubungnya PS, dari salah satu fraksi,” ungkap di pengadilan.

cover surat perjanjian

Pada kasus diatas yang dikorbankan Direktur Utama CV Jaya Mekanotama Aris Hadianto yang sudah ditetapkan sebagai tersangka. Padahal pat gulipat permainan pupuk dan obat dalam perjanjian jelas tertera direktur utama adalah Wid.

Ada yang terlupakan, PT Vitafarm Indonesia yang pernah disebut-sebut kini lenyap dari pemberitaan. Ada apa? Padahal PT yang dinakodai Wid tak menjadi peserta lelang, namun justru kebagian proyek tersebut. Disinilah pandainya Wid bermain dan men surga kan panitia lelang, sengaja mengunci spesifikasi pupuk hayati sesuai dengan produk PT. Vitafarm Indonesia.

Sejumlah saksi yang didapat penyidik KPK, masih ada beberapa nama yang terlibat, kini KPK fokus mencari mereka yang terlibat,” ujar Priharsa saat dikonfirmasi, kemarin

Dikabarkan sebelumnya, Komisi Pemberantasan Korupsi menetapkan Vice President sekaligus Direktur Keuangan PT Berdikari Siti Marwa sebagai tersangka korupsi pupuk urea. Siti diduga menerima lebih dari Rp1 miliar dari vendor selama dua tahun sejak 2010.

Ketika dikonfirmasi dugaan kasus yang membelitnya, Teny sekretaris Wid justru melemparkan masalahnya ke sebuah media. “Siang pak untuk perihal tersebut silakan menghubungi Nusantara news, karena mereka sudah mengeluarkan klarifikasi,” jawabnya lewat WA (30/8).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

BREAKING NEWS :
[caption id="attachment_2898" align="alignnone" width="300"] Anang Iskandar[/caption] POSKOTA.CO- Kepala Badan Narkotika Nasional(BNN) Komjen Anang Iskandar mendesak kepada Jaksa Agung Prasetyo untuk segera mengeksekusi terpida mati kasus narkoba. Salah satunya adalah terpidana mati yang kembali mengendalikan bisnis narkoba Warga Negara Nigeria, Silvester Obiek. "Iya, ingin (Silvester) segera dieksekusi mati? Saya laporkan tadi ke Pak Jaksa Agung," kata Anang kepada wartawan di Kejagung, Senin(2/2). Anang berharap, eksekusi mati yang dijalankan pihak kejaksaan, diharapkan tidak terlalu lama waktunya dari eksekusi mati pertama. "Kami ingin efek jera bagi mereka, eksekusi hukuman mati perlu tapi jangan sekali dan jedanya jangan terlalu panjang. Semoga gelombang kedua nggak tahun depan. Kami ingin penegak hukum punya integritas yang tinggi," ujar mantan Kapolda Jambi ini. Sementara itu, Jaksa Agung M Prasetyo mengaku, pihaknya masih menunggu grasi yang diajukan Silvester Obiek ke Presiden Joko Widodo(Jokowi). "Yang bersangkutan (Silvester) ajukan grasi, nanti kita cek lagi,‎" kata Prasetyo. Sebelumnya, petugas BNN mencokok seorang kurir shabu bernama Dewi disebuah parkiran hotel Gunung Sahari, Jakarta Pusat, pada pukul 22.30 WIB.Dari tangan Dewi petugas menyita barang bukti 1.794 gram shabu. Kepada penyidik, Dewi mengaku, dirinya disuruh Andi teman satu sel Silvester Obiek, untuk mengirimkan shabu tersebut kepada seseorang berinsial E yang masih buron. Belakangan diketahui, bisnis narkoba tersebut dikendalikan oleh Silvester Obiek yang mendekam di Lembaga Pemasyarakatan(LP) Nusakambangan, Cilacap, Jawa Tengah, dan sudah beberapa kali tersangkut kasus narkoba dan divonis hukuman mati.(sapuji)