PERAMPOK PULOMAS JAKTIM TITIPKAN SENPI DI DEPOK – Poskota.co
Saturday, September 23

PERAMPOK PULOMAS JAKTIM TITIPKAN SENPI DI DEPOK

Sebuah rumah di kawasan Cimpaeun, Tapos, Depok, Jawa Barat, dihuni Tatang beserta anak dan istrinya, Ina. Rumah ini didatangi aparat kepolisian pada Kamis (29/12), lantaran adik Ina yang bernama Ginon, sempat dititipi tas berisi senjata api oleh Erwin Situmorang, tersangka pembunuhan sadis di Pulomas Jakarta Timur.
Sebuah rumah di kawasan Cimpaeun, Tapos, Depok, Jawa Barat, dihuni Tatang beserta anak dan istrinya, Ina. Rumah ini didatangi aparat kepolisian pada Kamis (29/12), lantaran adik Ina yang bernama Ginon, sempat dititipi tas berisi senjata api oleh Erwin Situmorang, tersangka pembunuhan sadis di Pulomas Jakarta Timur.

POSKOTA.CO – Sebuah rumah di kawasan Cimpaeun, Tapos, Depok, Jawa Barat, mendadak menjadi perhatian warga. Pasalnya, rumah tersebut sempat menjadi tempat penitipan senjata api milik Erwin Situmorang, pelaku perampokan sadis Pulomas.

Rumah berukuran kecil yang berada di gang sempit ini dihuni Tatang beserta anak dan istrinya, Ina. Adik Ina yang bernama Ginon, pada Kamis (29/12) malam dibawa aparat kepolisian lantaran sempat dititipi tas berisi senjata api oleh Erwin Situmorang. “Ginon dibawa malam Jumat. Katanya sih untuk dimintain keterangan. Sampai sekarang saya belum dapat kabar dia,” ujar Kamil, adik Ginon, Jumat (30/12) sore.

Kamil memaparkan, sang kakak dibawa aparat kepolisian lantaran sempat dititipkan sebuah tas dan karung oleh temannya yang bernama Erwin Situmorang. “Iya, Ginon dititipin tas dan karung sama si Peter (panggilan Erwin Situmorang). Ternyata di dalam tas itu ada dua pistol, mangkanya abang saya dibawa polisi,” tambah Kamil.

Menurut Kamil, sebelumnya ia sempat mendengar bahwa Erwin menitipkan tas kepada Ginon. Kamil berkeyakinan bahwa kakaknya tak mengetahui isi tas tersebut. “Peter bilang, kalau nanti dia nggak balik lagi, tas itu dikasih ke Tony aja,” ujar Kamil.

Karena Erwin tak kembali hingga waktu yang ditentukan, Ginon pun memberikan tas titipan Erwin itu kepada Tony, teman Erwin yang dikenal pula oleh Ginon. Usai memberikan tas tersebut, pada Kamis (29/12), Ginon dijemput polisi di rumahnya.

Erwin sendiri diamankan polisi pasca terjadinya aksi perampokan sadis itu. Erwin ditangkap di kawasan Rawa Lumbu, Bekasi, bersama dengan sang gembong, Ramlan Butar Butar. Dari keterangan Erwin, polisi memperoleh informasi bahwa senjata api yang digunakannya dalam aksi perampokan sadis itu dititipkan di salah seorang temannya di Cimpaeun, Depok.

Pasca Ginon dibawa pada Kamis (29/12) malam, pada Jumat (30/12) dua pemuda mendatangi rumah Ina, kakak Ginon. Satu dari pemuda itu menyerahkan tas titipan Erwin kepada Ina. Saat itu Kamil yang sedang berada di rumah Ina, sebelumnya sempat menanyakan maksud kedua pemuda tersebut.

“Dia hanya bilang, tas itu nanti dikasih ke Tony aja. Karena sebelumnya polisi udah mesen untuk ngasih tau kalau ada informasi soal tas itu, kakak saya telepon polisi,” lanjut Kamil lagi.

Tak lama setelah ditelepon Ina, polisi pun datang dan langsung melakukan pemeriksaan terhadap tas yang dititipkan dua pemuda tersebut. “Setelah dibuka polisi, kita baru tahu kalau di dalamnya ada pistol dua biji,” tutur Kamil.

Setelah mendapatkan tas yang diduga milik Erwin itu, polisi pun membawanya untuk diselidiki lebih lanjut. Hingga kini belum ada keterangan lebih lanjut terkait senjata api tersebut. Namun kuat dugaan, dua pucuk pistol itulah yang digunakan dalam aksi perampokan Ramlan cs. (*/arya)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

BREAKING NEWS :
[caption id="attachment_282" align="alignleft" width="300"] Dalam Pilkada Jatim sebenarnya yang menang adalah pasangan Khofifah Indar Parawansa-Herman S Sumawiredja, bukan KarSa. (DOK)[/caption] POSKOTA.CO – Terungkap. Mantan Ketua MK Akil Mochtar mengaku, pemenang dalam Pilkada Jatim sebenarnya adalah pasangan Khofifah Indar Parawansa-Herman S Sumawiredja, bukan KarSa. Putusan terhadap kemenangan Khofifah-Herman itu sudah diputuskan 7 hari sebelum amar putusan dibacakan MK pada 7 Oktober 2013. "Jadi keputusan MK itu sebenarnya sudah ada 7 hari sebelum amar putusan. Dan, itu Pak Akil menegaskan bahwa Bu Khofifah dan Pak Herman yang menang. Tapi ini tiba-tiba putusannya incumbent yang menang," kata kuasa hukum Akil, Otto Hasibuan di Gedung KPK, Jakarta, Selasa (28/1/2014). Otto mengatakan, pada 2 Oktober 2013 Akil ditangkap KPK karena kasus dugaan suap pengurusan sengketa Pilkada Kabupaten Gunung Mas, Kalimantan Tengah 2013. Padahal, amar putusan PHPU Jatim belum dibacakan, sementara dia adalah Ketua Panel PHPU tersebut. "Pak Akil Ketua Panel, putusan 7 hari sebelum dibacakan sudah ada, tapi pasca ditangkap Pak Akil itu tiba-tiba pihak sana (KarSa) yang menang. Ini ada apa?" kata Otto. Sebelum ditangkap Akil, kata Otto pernah mengirim surat ke MK. Isinya meminta klarifikasi kepada para hakim konstitusi lain, kenapa putusan itu tiba-tiba berubah. "Jadi tadi Pak Akil minta kepada saya untuk menyurati MK, mengklarifikasi masalah tersebut," ucap dia. Dalam amar putusannya, MK memerkuat keputusan KPUD Jatim yang menetapkan pasangan Soekarwo-Saifullah Yusuf (KarSa) sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur terpilih untuk Provinsi Jatim periode 2013-2018. Akil Mochtar oleh KPK ditetapkan sebagai tersangka kasus dugaan suap pengurusan sengketa Pilkada Kabupaten Gunung Mas, Kalimantan Tengah 2013 dan Pilkada Kabupaten Lebak, Banten 2013 di MK. KPK juga menyematkan status tersangka pada bekas politisi Partai Golkar itu dalam kasus dugaan pencucian uang yang diduga berasal dari uang suap. Kejaksaan Agung menyatakan telah menerima surat pemberitahuan dimulainya penyidikan (SPDP) tindak pidana narkoba atas tersangka M. Akil Mochtar dari penyidik Badan Narkotika Nasional. Surat tersebut dibuat oleh penyidik BNN pada 20 November 2013 dan diterima oleh Kejaksaan Agung pada 22 November 2013. (djoko)