PENAGIH HUTANG MENGANIAYA, DITANGKAP RESMOB – Poskota.co
Saturday, September 23

PENAGIH HUTANG MENGANIAYA, DITANGKAP RESMOB

Ilustrasi
Ilustrasi

POSKOTA.CO – Tiga pria yang berprofesi sebagai debt collector pada Selasa, (19/7/2016) lalu digelandang ke Mapolda Metro Jaya, karena melakukan penganiayaan.

Kanit IV Subdit Resmob Ditreskrimum Polda Metro Jaya, Kompol Arsya Khadafi mengatakan, ketiganya ditangkap karena melakukan penganiayaan dan perbuatan tidak menyenangkan disertai dengan ancaman kekerasan.

“Mereka ditangkap di kediaman korbannya pada saat melakukan penganiayaan,” kata Kompol Arsya saat dikonfirmasi, Kamis (21/7/2016).

Dalam penangkapan ini, lanjut dia, hanya satu orang tersangka yang ditahan, yakni Usman Pawae yang memang telah terbukti melakukan penganiayaan.

Awalnya peristiwa terjadi pada Selasa (19/7/2016) sekira pukul 09.00 WIB, Usman Pawae yang memang seorang debt Collector mendatangi rumah milik Natalia dan melalukan penagihan dengan berteriak-teriak layaknya seorang jagoan.

“Kemudian anak Natalia, yakni korban, mendengar teriakan itu. Ia kemudian menghampiri tersangka bermaksud menanyakan baik-baik, tapi malah dipukul oleh tersangka. Korban mencoba membela diri dan akhirnya terjadi perkelahian,” jelasnya.

Akibatnya, tulang jari kelingking korban mengalami patah. Setelah itu tersangka yang masih belum puas memanggil kedua temannya bernama Samsul Bahri dan Sadri Tomanggola.

“Pada saat kedua rekannya datang, kami juga datang atas laporan korban. Ketiganya ditangkap, tapi hanya Usman yang ditahan. Kami telah membawa tersangka dan barang bukti berupa visum korban, surat kuasa dari BCA Finance kepada saudara Abdullah Waillisa untuk melakukan penarikan satu unit mobil Nissan Serena atas nama Natalia,” terang Kompol Arsya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

BREAKING NEWS :
POSKOTA.CO - Permohonan Guru Besar IPB Prof Dr Euis Sunarti dan akademisi ke Mahkamah Konstitusi (MK) sejalan dengan isi Rancangan Undang-Undang (RUU) Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP). Bahkan, dalam RUU tersebut hukuman perzinaan akan diperberat dari sembilan bulan penjara menjadi terancam lima tahun penjara. Pemerintah menanggapi permohonan akademisi terkait permintaan kriminalisasi lesbian, gay, biseksual dan transgender (LGBT) dan kumpul kebo, di mana materi itu juga masih dibahas di dalam DPR. Sebagai contoh, dalam Pasal 484 Ayat (1) Huruf e RUU KUHP berbunyi, "Laki-laki dan perempuan yang masing-masing tidak terikat dalam perkawinan yang sah melakukan persetubuhan dipidana lima tahun penjara". Pandangan pemerintah dalam hal ini disampaikan oleh Direktur Litigasi Peraturan Perundang-undangan Kemenkumham Yunan Hilmy dalam sidang lanjutan uji materi KUHP di ruang sidang MK, Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta, Selasa (19/7). Yunan menyebut, pembahasan RUU ini terkesan lambat karena ada beberapa kendala. "Lamanya penyusunan RUU KUHP dipengaruhi banyaknya dinamika di antaranya masalah budaya, agama serta hal-hal lain yang dalam implementasinya harus dapat diukur secara jelas," kata Yunan. Sebab, dalam merumuskan ketentuan pidana berbeda dengan merumus ketentuan lain. Yunan mengatakan, untuk mengukur suatu norma pidana harus dapat dibuktikan secara hukum sehingga untuk dapat memutus suatu norma pidana memerlukan waktu yang lama. Oleh karena itu, pemerintah mengatakan para pemohon dapat memberikan masukan hal ini kepada pemerintah atau DPR. "Dalam rangka turut serta mengatasi problematika pembahasan RUU KUHP, para pemohon dapat memberikan sumbangan pemikirannya terhadap materi RUU KUHP terutama masalah perzinaan, pemerkosaan dan homoseksual. Materi RUU KUHP itu masih dibahas di DPR, dan akhir Agustus mendatang akan kembali dirapatkan usai masa reses DPR. Hukum Penjara Sebelumnya, Guru Besar IPB Prof Dr Euis Sunarti dan para akademisi lain meminta homoseks dan pelaku kumpul kebo dihukum penjara. Mereka meminta Mahkamah Konstitusi menafsir ulang Pasal 292. Selain Euis, ikut pula menggugat para akademisi lainnya yaitu Rita Hendrawaty Soebagio SpPsi, MSi, Dr Dinar Dewi Kania, Dr Sitaresmi Sulistyawati Soekanto, Nurul Hidayati Kusumahastuti Ubaya SS, MA, Dr Sabriaty Aziz. Ada juga Fithra Faisal Hastiadi SE, MA, MSc, PhD, Dr Tiar Anwar Bachtiar SS, MHum, Sri Vira Chandra D SS, MA, Qurrata Ayuni SH, Akmal ST, MPdI dan Dhona El Furqon SHI, MH. (*)