LUKAI TIGA KORBAN, POLISI RINGKUS PERAMPOK DI BANDARA HANG NADIM – Poskota.co
Saturday, September 23

LUKAI TIGA KORBAN, POLISI RINGKUS PERAMPOK DI BANDARA HANG NADIM

POSKOTA.CO – Anggota Kepolisian Resor Kota (Polresta) Barelang Kota Batam berhasil meringkus AS, terduga perampokan di Bida Asri Batam Kota saat berada di Bandara Internasional Hang Nadim, Kamis sore.

“AS ditangkap di Bandara Hang Nadim saat hendak kabur,” kata Kasatreskrim Polresta Barelang Kompol Memo Ardian di Batam, Kamis (29/9) malam.

Memo mengutarakan, AS terpaksa dilumpuhkan dengan timah panas pada bagian kaki karena mencoba kabur saat dibawa untuk pengembangan kasus perampokan yang terjadi pada Kamis pagi tersebut.

“Saat ini terduga pelaku AS masih diperiksa oleh penyidik di Polresta Barelang untuk mengetahui motif perampokan yang dilakukan,” kata Kompol Memo.

“Polresta Barelang masih terus mengembangkan kasus perampokan dengan melukai tiga korban tersebut sehingga bisa diungkap dengan tuntas,” sambung Memo.

Kejadian bermula pada Kamis (29/9) sekitar pukul 08.00 WIB terjadi perampokan di Perumahan Bida Asri 1 Blok D Batam Kota, Kota Batam, diduga dilakukan tiga pelaku yang akhirnya kabur setelah melukai tiga orang dalam rumah sasaran.

Menurut saksi di lokasi, satu orang pelaku perampokan awalnya turun dari sebuah mobil sedan menghampiri rumah sasaran, dan disambut pemilik rumah bernama Ho Djoe Liong (60) yang berjualan kelontongan. Tiba-tiba korban terlibat perkelahian dengan pelaku di depan tokonya.

Sementara itu anak dari korban, Noriven (28) menjelaskan, ada tiga korban yang terluka dalam kejadian tersebut. Selain bapaknya yang luka di pelipis mata, ibunya bernama Gwat Ha (53) luka di telinga, dan adiknya Noriren Afrita Sari Ho (24) luka di bagian kepala belakang.

“Saya tidak tinggal di sini (Bida Asri-red), mendengar ada perampokan saya bergegas. Perampok sepertinya dilawan bapak saya, sehingga terjadi perkelahian hingga luka. Ibu dan adik saya juga luka dianiaya,” jelas Noriven.

Kapolsek Batam Kota Kompol Arwin mengatakan, kemungkinan perampokan dilakukan oleh tiga pelaku menggunakan satu mobil. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

BREAKING NEWS :
POSKOTA.CO - Permohonan Guru Besar IPB Prof Dr Euis Sunarti dan akademisi ke Mahkamah Konstitusi (MK) sejalan dengan isi Rancangan Undang-Undang (RUU) Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP). Bahkan, dalam RUU tersebut hukuman perzinaan akan diperberat dari sembilan bulan penjara menjadi terancam lima tahun penjara. Pemerintah menanggapi permohonan akademisi terkait permintaan kriminalisasi lesbian, gay, biseksual dan transgender (LGBT) dan kumpul kebo, di mana materi itu juga masih dibahas di dalam DPR. Sebagai contoh, dalam Pasal 484 Ayat (1) Huruf e RUU KUHP berbunyi, "Laki-laki dan perempuan yang masing-masing tidak terikat dalam perkawinan yang sah melakukan persetubuhan dipidana lima tahun penjara". Pandangan pemerintah dalam hal ini disampaikan oleh Direktur Litigasi Peraturan Perundang-undangan Kemenkumham Yunan Hilmy dalam sidang lanjutan uji materi KUHP di ruang sidang MK, Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta, Selasa (19/7). Yunan menyebut, pembahasan RUU ini terkesan lambat karena ada beberapa kendala. "Lamanya penyusunan RUU KUHP dipengaruhi banyaknya dinamika di antaranya masalah budaya, agama serta hal-hal lain yang dalam implementasinya harus dapat diukur secara jelas," kata Yunan. Sebab, dalam merumuskan ketentuan pidana berbeda dengan merumus ketentuan lain. Yunan mengatakan, untuk mengukur suatu norma pidana harus dapat dibuktikan secara hukum sehingga untuk dapat memutus suatu norma pidana memerlukan waktu yang lama. Oleh karena itu, pemerintah mengatakan para pemohon dapat memberikan masukan hal ini kepada pemerintah atau DPR. "Dalam rangka turut serta mengatasi problematika pembahasan RUU KUHP, para pemohon dapat memberikan sumbangan pemikirannya terhadap materi RUU KUHP terutama masalah perzinaan, pemerkosaan dan homoseksual. Materi RUU KUHP itu masih dibahas di DPR, dan akhir Agustus mendatang akan kembali dirapatkan usai masa reses DPR. Hukum Penjara Sebelumnya, Guru Besar IPB Prof Dr Euis Sunarti dan para akademisi lain meminta homoseks dan pelaku kumpul kebo dihukum penjara. Mereka meminta Mahkamah Konstitusi menafsir ulang Pasal 292. Selain Euis, ikut pula menggugat para akademisi lainnya yaitu Rita Hendrawaty Soebagio SpPsi, MSi, Dr Dinar Dewi Kania, Dr Sitaresmi Sulistyawati Soekanto, Nurul Hidayati Kusumahastuti Ubaya SS, MA, Dr Sabriaty Aziz. Ada juga Fithra Faisal Hastiadi SE, MA, MSc, PhD, Dr Tiar Anwar Bachtiar SS, MHum, Sri Vira Chandra D SS, MA, Qurrata Ayuni SH, Akmal ST, MPdI dan Dhona El Furqon SHI, MH. (*)