ISTRI TERORIS SANTOSO ASAL BIMA – Poskota.co
Thursday, September 21

ISTRI TERORIS SANTOSO ASAL BIMA

ilustrasi
ilustrasi

POSKOTA.CO – Kepala Kepolisian Daerah Nusa Tenggara Barat Brigjen Pol Umar Septono, Senin, mengatakan bahwa istri teroris Santoso, yang merupakan pimpinan kelompok Mujahidin Indonesia Timur (MIT) di Poso, berasal dari Kota Bima.

“Istrinya Santoso kan dari situ juga,” kata Brigjen Pol Umar Septono kepada wartawan di Mataram, Senin.

Hal itu diungkapkannya saat memberikan keterangan terkait tewasnya terduga teroris berinisial FJ, asal Kelurahan Penatoi, Kecamatan Mpunda, Kota Bima, pada Senin (15/2) sekitar pukul 07.30 WITA. FJ tewas saat tim Detasemen Khusus 88/Antiteror Mabes Polri melakukan penggerebekan bersama sejumlah personel dari Satbrimob Subden A Bima dan Polres Kota Bima.

“FJ ini masih ada kaitannya dengan jaringan Santoso, dan Tim Densus 88/Antiteror sudah lama melakukan pengintaian di wilayah ini,” ujarnya.

FJ yang merupakan target operasi tim Densus 88/Antiteror Mabes Polri itu tewas tertembak karena melakukan perlawanan dalam aksi penggerebekan di rumah orang tuanya Darwis, menggunakan senjata api yang diketahui berjenis revolver.

“Saat pintu rumah didobrak, FJ melakukan perlawanan, dengan duluan menembak,” ucap Umar Septono.

Akibatnya, salah seorang anggota dari Satbrimob Subden A Bima, Bharada Efendi, terkena tembakan di bagian lengan kiri hingga tembus ke bagian dada kirinya. Efendi langsung dilarikan ke RSUD Bima dan saat ini sudah mendapat perawatan medis di RSUD Sanglah, Denpasar, Bali.

“Anggota yang terkena tembak sudah diterbangkan ke Denpasar, Bali, karena di Mataram sendiri masih terbatas tenaga medis,” ujarnya.

Kapolda NTB menjelaskan, wilayah Penatoi merupakan pusat kegiatan Islam garis keras (Igaras) yang ideologinya mengarah pada kekerasan dan radikal. Hal itu pun dikaitkan dengan sejumlah aksi penyerangan terhadap tiga anggota kepolisian yang sebelumnya pernah terjadi di Bima.

Diakuinya bahwa Tim Densus 88/Antiteror Mabes Polri sudah lama melakukan pengintaian di wilayah tersebut, khususnya menyelidiki seluruh aktivitas FJ.

“Perannya cukup kuat, dia diduga berpartisipasi dalam perekrutan anggota baru, termasuk menjembatani mereka dari Bima ke Poso. Terbukti dengan bisa memegang senjata api, berarti dia secara logistik maupun persenjataan cukup berperan,” ucapnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

BREAKING NEWS :
POSKOTA.CO - BRI Cabang Kabupaten Majene mangkir dari panggilan Ombudsman Provinsi Sulawesi Barat untuk melakukan klarifikasi terkait raibnya tabungan warga Kecamatan Tinambung, Kabupaten Polewali Mandar di Bank BRI Cabang Majene. "Kami sudah melakukan panggilan kepada Kepala Bank BRI Majene untuk melakukan klarifikasi atas raibnya tabungan warga di BRI Majene, namun Bank BRI Majene mangkir dari panggilan," kata Asisten Bidang Pencegahan Ombudsman Perwakilan Provinsi Sulbar, Muhammad Sukriadi Azis S,Ip di Mamuju, Jumat. Ia mengatakan, Ombudsman kembali memanggil Kepala BRI Cabang Majene sampai pada panggilan ketiga dan bila belum diindahkan panggilan yang ketiga maka akan dilakukan pemanggilan paksa dengan melibatkan aparat kepolisian. "Kami akan lakukan panggilan sesuai dengan kewenangan Ombudsman Sulbar kami harap BRI Majene bersedia menerima panggilan Ombudsman Sulbar," katanya. Menurut dia, Ombudsman Sulbar telah menerima laporan nasabah BRI Majene yang tabungannya raib di BRI Majene sebanyak Rp400 juta, raib, "Kami telah menerima laporan dari seorang warga Kecamatan Tinambung, Kabupaten Polman, atas nama Subli Sukardi, yang mengaku uang tabungannya raib senilai Rp400 juta, di Bank BRI Cabang Majene, sehingga kita panggil BRI Majene melakukan klarifikasi," katanya. Ia mengatakan, warga itu menyampaikan jika uangnya raib diduga karena telah terjadi penggelapan dana di Bank BRI Majene. "Pelapor mengaku bahwa diduga salah seorang oknum pegawai negeri sipil di lingkup Pemkab Majene, telah bersekongkol dengan staf Bank BRI Majene, mencairkan tabungannya sehingga tabungannya raib," katanya. Menurut dia, uang tabungan pelapor telah ditarik sebanyak tiga kali direkeningnya sehingga tabungannya itu raib sejak bulan Juli tahun 2013. Ia menyampaikan bahwa atas laporan tersebut maka pihak Ombudsman Sulbar menindaklanjutinya dengan memanggil Kepala BRI Majene dan melakukan pemeriksaan terhadap staf Bank BRI dan oknum PNS yang dimaksud, namun yang dipanggil ternyata mangkir.